CERPEN BINTANG TORAJA






BINTANG TORAJA

"kalau disini 2+2=4, di SD itu 2+2=4, di Amerika 2+2=4 terus apa bedanya disini, di SD itu dan di amerika?"


Keheningan sore yang indah disinari mega merah itu membuat seluruh alam mendengar pertaruhan hati seorang anak kecil yang berdiri di depan danau "Batu yang dilempar ini seandainya memantul diatas air lebih dari tiga kali berarti betah dan harus betah, tapi seandainya kurang dari tiga kali berarti siap harus balik kanan". Sambil melihat mega merah yang muncul, Batara bintang berdiri di depan danau menggenggam batu dengat  seerat mungkin, tak……tak…..tak…..tak……sudah lebih dari tiga kali batu yang dilemparnya dengan harapan langsung tenggelam  malah  memantul lebih dari tiga seperti katak yang meloncat sangat cepat dan memberi tahu Batara suatu jawaban yang harus dipegang dan jalaninya ke depan. Perasaan susah, senang, sedih semua bercampur aduk  dalam hati Batara. Harus berapa kali ini dilakukan dan mengapa harus berulang ulang.
Sebuah tafakur dan ritual aneh yang dilakukan anak toraja itu untuk memastikan keberadaannya dirinya di sebuah pesantren dengan luas kurang lebih dua puluh lima hektar yang berada di daerah Bogor. Dalam pikirannya yang begitu panjang, ia seakan balik pada masa lalunya . Ketika itu bersama tujuh ekor anjingnya berburu di hutan, dengan membuka telapak tangan yang mengenggam tombak yang ditancapnya di tanah memberi aba ketujuh anjingya untuk berpencar, seketika juga bepencar ke berbagai arah, tidak lama kemudian terdengar long-longan anjingnya  terdengar dari arah jam duabelas, secepat mungkin  Batara lari dengan menggenggam tombak menghampiri suara tersebut sampai dekat sehingga kelihatan hewan buruannya kemudian loncat memegang ke salah satu dahan dari pohon besar dekat hewan buruannya. Crash….! Lemparan tombak dari Batara tepat mengenai jantung babi hutan buruannya, seperti bintang dalam sebuah aksi Batara memainkan perannya, itulah namanya Batara Bintang.
Batara Bintang putra toraja dari keluarga muallaf, berawal dari ayahnya yang bertemu seorang ulama pendiri pesantren dia mondok sekarang, membuat hati sang ayah  kepicut untuk memeluk agama Islam hinga mengganti namanya dengan shalihin . Mungkin inilah alasan yang paling tepat mengapa sang ayah menyerahkan pendidikan Batara setelah lulus sekolah dasar di Toraja kepada sang ulama hingga memasukkan Batara ke pesantren tersebut.
Lahkah pasti Batara kembali ke asramanya seakan mendapat jawaban yang paling tepat dari tafakurnya yang lama dan dari ritual anehnya di depan danau itu, tak  mungkin bagi seorang anak sekecil Batara untuk keluar dan kabur dari pesantren kembali ke tanah toraja yang nan jauh itu, walaupun penuh dengan luapan pikirannya yang berkecamuk namun dalam hati sunabari Batara ada keyakinan bahwa apa yang dilakukan sang ayah dengan memasukkannya ke pesantren adalah baik. "lihat Batara pendidikan di pesantren lebih bagus, pagi kamu belajar pelajaran umum, siangnya kamu belajar agama, gak ada waktu yang kebuang sia-sia, ekstrakurikulernya banyak ada bela diri, futsal, basket dan banyak yang lainnya, nanti juga kamu belajar bahasa asing, kamu bakal bisa bicara bahasa Arab, bahasa Mandarin, bahasa Inggris, bahasa jepang, makanya belajar yang rajin supaya  sukses nantinya" batara mencoba menyakinkan diri dengan mengingat kata ayahnya saat pertama daftar masuk pesantren tiga hari yang lalu.
Sesampainya di asrama yang ramai dengan santri yang bersiap-siap melakukan shalat maghrib. Batara diajak mualimnya selaku pembimbing yang mengurus dan bertanggung jawab atas kegiatan Batara di pesantren untuk bersiap-siap melaksanakan shalat magrib berjamaah "ayo Batara siap–siap shalat maghrib yuk! sendirian aja, masih ngak betah ya.!" "ngak kok muallim, saya betah "dengan pengalaman serta pengetahuannya selama di pesantren sang mualim mencoba menasihati Batara "ngak betah itu wajar, namanya juga masih baru, nanti banyakin teman banyakin aktifitas, biar nanti kamu betah" bagaikan ramalan yang benar adanya dan penawar yang tidak dapat ditolak lagi bagi Batara untuk menjawabnya dengan pantas "ya, muallim" sambil salaman ke mualimnya itu.
Suara panggilan pengingat itu tidak asing lagi ditelinga sekarang, paham akan tujuan yang disampaikan sang muazin dari suara panjang yang merdu itu membuat batara harus segera lekas ke Masjid yang tidak jauh dari asramanya.
Rangkaian kegiatan ibadah dari terbenamnya sang fajar akan terasa sangat lama mulai dari shalat magrib beserta wiridnya, baca surat yasin, hingga shalat isya beserta wiridnya, yang kesemuanya dilakukan secara berjamaah. Hal-hal inilah yang akan dilakukannya hingga beberapa tahun kedepannya hingga lulus, Akan tetapi dari keramaian jamaah itu terasa sendiri ketika muncul dalam wiridnya yang panjang ingatannya saat beribadah di gereja  dulu, dan sekarang keadaannya berbeda dengan dulu, suatu penyesuaian yang agak rumit harus diarungi, belajar nggaji, baca shalat, baca doa dan baca wirid.
Kesegaran pagi setelah subuh terasa sangat tepat untuk persiapan ke sekolah menjadi kesempatan yang bagus memulai nasihat sang mualim dan memecahkan kebuntuannya yang dari kemarin slalu sendiri, ujang nama khas sunda itu menjadi orang pertama yang dikenalnya sebelum mengenal yang lainnya, Mulai mengalir setiap perkenalan hingga mengarungi setiap barisan waktu yang telah lalu, keakraban mulai terjalin antara Batara dan ujang.
Barisan paving blok yang panjang itu mengarah sampai ke sekolah mangajak untuk menapakinya hingga tidak terasa keduanya sampai ke kelas tepat pukul tujuh pagi, tidak sengaja Ujang membawa majalah pesantren yang harusnya untuk orang tuanya ujang dengan penasaran Batara meminjam majalah tersebut. Dengan jelas tulisan diawal cover majalah itu sang juara go internasional membawanya untuk membaca halaman mengenai sang juara, di halaman itu tertera berbagai kejuaraan yang pernah dimenangi sang juara dari tingkat nasional hingga diberbagai Negara , Colombia, Vietnam, Korea, dan beberapa Negara lainnya, disamping tulisan kejuaraan yang dimenangi berbaris-baris itu terlihat foto sang juara memegang sang pusaka merah putih.  Ya, Batara yakin sang juara itu adalah santri dari pesantrennya yang tiap sore latihan Taekwondo yang sering mewakili Indonesia 
Matematika jam pertama hari ini, ditengah pelajaran ustadz muda itu melayangkan pertanyaan yang terasa semua orang tahu "dua ditambah dua berapa" jawaban serempak  terdengar "empat" "kalau di sekolah sana (sambil menunjuk SD negeri yang berada tidak terlalu jauh dari  kelas mereka) dua ditambah dua berapa" "empat ustad" ustad melanjutkan lagi "kalau di Amerika dua ditambah dua berapa" "empat juga ustad" kemudian ustad melanjutkan "kalau disini 2+2=4, di SD itu 2+2=4, di Amerika 2+2=4 terus apa bedanya disini, di SD itu dan di amerika?" semuanya terdiam mencari jawaban yang entah dimana adanya.
Dihela keheningan itu, sang ustad memecahkannya dengan jawaban yang terasa gampang diingat tapi sulit dilupakan "semuanya sama, bedanya keinginan dan kesungguhan kita" semuanya senyum seolah sangat setuju mendengar jawaban yang begitu adanya itu.
Hari mulai sore meninggalkan setiap kegentingan siang yang penuh perjuangan. Tak ada lagi keinginan Batara mengikuti alur jalan ke arah danau, semuanya jelas dari sang juara,  dua tambah dua, menetapkan kebulatan tekadnya yang dari awal sempat memudar, kegiatan hari esok harus penuh kesungguhan lagi biar beda dengan yang lain, dan itulah bedanya dua tambah dua di pesantren dan di tempat lain.
Dijalan yang akan dilaluinya terlihat  apa jadinya dari kesungguhan yang tetap tanpa keraguan itu sehingga terlihat sebuah pesantren di tanah warisan kakeknya yang luas yang sengaja dibiarkan memang hanya untuk sebuah pesantren dari cucunya yang menuntut ilmu jauh . Dan tidak terasa itu sangatlah mudah untuk sebuah doa, dan sore mulai berganti shalawat mengandung doa sambil menunggu magrib mulai terdengar
"ya rabbi bil mustafa ballig maqa sidana........................." "ya Allah demi al mustafa nabi Muhammad SAW sampaikan maksud kami" keheningan alam mengaminin keagungan pengharapan.

Baca Juga

Komentar