Pendekatan Dalam Pengelolaan Kelas


Pendekatan  Pendekatan Dalam Pengelolaan Kelas
Pendekatan Dalam Pengelolaan Kelas

Kelas merupakan suatu kelompok orang yang melakukan aktivitas belajar secara bersama-sama, dengan bimbingan dan pengajaran dari guru. Pengertian ini jelas meninjaunya dari segi anak didik, karena dalam pengertian tersebut ada frase "kelompok orang". Pendapat ini sejalan dengan pendapat Suharsimi Arikunto yang mengemukakan pengertian kelas dari segi anak didik. Lebih mendalam Suharsimi Arikunto mengatakan: di dalam didaktik terkandung suatu pengertian umum mengenai kelas, yaitu sekelompok siswa yang pada waktu yang sama menerima pelajaran yang sama dari guru yang sama.

          Dengan demikian pengelolaan kelas adalah kemampuan guru untuk menciptakan dan menjaga kondisi belajar yang optimal dan mengendalikannya bila terjadi hal-hal yang dapat mengganggu suasana pembelajaran.

PENDEKATAN DALAM PENGELOLAAN KELAS

           Sebagai pekerja profesional, seorang guru harus mendalami kerangka acuan pendekatan-pendekatan kelas, sebab di dalam penggunaannya ia harus terlebih dahulu meyakinkan bahwa pendekatan yang dipilihnya untuk menangani suatu kasus pengelolaan kelas merupakan alternatif yang terbaik sesuai dengan hakikat masalahnya Artinya seorang guru terlebih dahulu harus menetapkan bahwa penggunaan suatu pendekatan memang cocok dengan hakikat masalah yang ingin ditanggulangi. Ini tentu tidak dimaksudkan untuk mengatakan bahwa seorang guru akan berhasil baik setiap kali ia menangani kasus pengelolaan kelas. Sebaliknya, keprofesionalan cara kerja seorang guru adalah demikian sehingga apabila alternatif tindakannya yang pertama tidak memberikan hasil sebagaimana yang diharapkan, maka ia masih mampu melakukan analisis ulang terhadap situasi untuk kemudian tiba pada alternatif pendekatan yang kedua, dan seterusnya.

           Lahirnya interaksi yang optimal tentu saja bergantung dari pendekatan yang guru lakukan dalam rangka pengelolaan kelas. Berbagai pendekatan tersebut adalah seperti dalam uraian berikut:


1. Pendekatan kekuasaan

          Pengelolaan kelas diartikan sebagai suatu proses untuk mengontrol tingkah laku anak didik. Peranan guru di sini adalah menciptakan dan mempertahankan situasi disiplin dalam kelas. Kedisiplinan adalah kekuatan yang menuntut kepada anak didik untuk menaatinya. Di dalamnya ada kekuasaan dalam norma yang mengikat untuk ditaati anggota kelas, Melalui kekuasaan dalam bentuk norma itulah guru mendekatinya


2. Pendekatan Ancaman

          Dari pendekatan ancaman atau intimidasi ini, pengelolaan kelas adalah juga sebagai suatu proses untuk mengontrol tingkah laku anak didik. Tetapi dalam mengontrol tingkah laku anak didik dilakukan dengan cara memberikan ancaman misalnya melarang. ejekan, sindiran, dan memaksa.


3. Pendekatan kebebasan

           Pengelolaan diartikan sebagai suatu proses untuk membantu anak didik agar merasa bebas untuk mengerjakan sesuatu kapan saja dan di mana saja. Peranan guru adalah mengusahakan semaksimal mungkin kebebasan anak didik.


4.  Pendekatan Resep

            Pendekatan resep (cook book) ini dilakukan dengan memberi satu daftar yang dapat menggambarkan apa yang harus dan apa yang tidak boleh dikerjakan oleh guru dalam mereaksi semua masalah atau situasi yang terjadi di kelas. Dalam daftar itu digambarkan tahap demi tahap apa yang harus dikerjakan oleh guru. Perasan guru hanyalah mengikuti petunjuk seperti yang tertulis dalam resep.


5. Pendekatan Pengajaran

          Pendekatan ini didasarkan atas suatu anggapan bahwa dalam suatu perencanaan dan pelaksanaan akan mencegah munculnya masalah tingkah laku anak didik, dan memecahkan masalah itu bila tidak bisa dicegah Pendekatan ini mengajarkan tingkah laku guru dalam mengajar untuk mencegah dan menghentikan tingkah laku anak didik yang kurang baik. Peranan guru adalah merencanakan dan mengimplementasikan pelajaran yang baik.


6. Pendekatan perubahan tingkah laku (behavior modification approach)

           Sesuai dengan namanya, pengelolaan kelas diartikan sebagai suatu proses untuk mengubah tingkah laku anak didik. Peranan guru adalah mengembangkan tingkah laku anak didik yang baik, dan mencegah tingkah laku yang kurang baik.

           Pendekatan ini bertolak dari psikologi behavioral yang mengemukakan asumsi bahwa (1) semua tingkah laku, yang "baik" maupun "yang kurang baik" merupakan hasil proses belajar, dan (2) ada sejumlah kecil proses psikologi yang fundamental yang dapat digunakan untuk menjelaskan terjadinya proses belajar yang dimaksud. Ada pun proses psikologi yang dimaksud adalah penguatan positif (positive reinforcement), hukuman, penghapusan (extinction), dan penguatan negatif(negative reinforcement).

           Untuk membina tingkah laku yang dikehendaki guru harus memberi penguatan positif (memberi stimulus positif sebagai ganjaran)atau penguatan negatif (menghilangkan hukuman, suatu stimulus negatif). Sedangkan untuk mengurangi tingkah laku yang tidak dikehendaki, guru menggunakan hukuman (memberi stimulus negatif),penghapusan (pembatalan pemberian ganjaran yang sebenarnya diharapkan peserta didik) atau time out (membatalkan kesempatan peserta didik untuk memperoleh ganjaran, baik yang berupa "barang" maupun yang berupa kegiatan yang disenanginya)

          Penguatan ini sendiri ada dua macam, yaitu penguatan primer(primary or unconditioned reinforces yang menjadi penguat tanpa dipelajari seperti makanan, air, kehangatan badaniah, dan sebagainya),dan penguatan sekunder (secondary or conditioned reinforcersyang menjadi penguat sebagai hasil proses belajar). Penguat sekunder ini ada yang dinamakan penguatan sosial (perhatian, pujian, dan sebagainya) dan ada pula yang dinamakan penguatan simbolik (nilai, puji, atau tanda-tanda penghargaan lainnya) di samping ada pula yang dinamakan penguatan dalam bentuk kegiatan (permainan atau kegiatan lain yang disenangi peserta didik). Dari segi waktu pemberiannya dapat dibedakan penguatan yang diberikan secara terus-menerus(diberikan setiap kali terjadi perbuatan "baik") atau dapat pula diberikan secara intermittent yaitu setelah jangka waktu tertentu (interval schedule), misalnya setiap pagi sebelum pelajaran dimulai atau setiap sekian kali perbuatan "baik" terjadi (ratio schedule), misalnya setiap tiga kali peserta didik datang ke sekolah dengan kuku bersih. Akhirnya patut pula dicatat bahwa proses penguatan itu bersifat idiosinkratik :makna suatu penguat sangat tergantung pada si pemberi dan sipenerima secara unik. Apa yang oleh seorang peserta didik dianggap sebagai penguat bagi peserta didik lain belum tentu disikapi selalu demikian

             Hukuman merupakan sarana pengelolaan kelas yang kontroversial. Sebagian menganggap bahwa hukuman merupakan alat yang efektif untuk dengan segera menghentikan tingkah laku yang tidak dikehendaki di samping sekaligus bisa merupakan suri tauladan bagi peserta didik lain karena secara tegas mendefinisikan tingkah laku yang tidak dikehendaki, akan tetapi akibat sampingannya bisa serius Misalnya, hubungan pribadi antara guru (penghukum) dan peserta didik(terhukum) dapat terganggu peserta didik (terhukum dan mungkin juga yang lain) mungkin menggeneralisasikan tingkah laku yang dihukum, misalnya peserta didik kapok mengemukakan pendapat atau peserta didik yang dihukum justru menjadi "pahlawan" di mata kawan-kawannya.


7. Pendekatan Suasana Emosi dan Hubungan Sosial (Socio emotional climate approach)

       Pendekatan pengelolaan kelas berdasarkan suasana perasaan dan suasana sosial (socio-emotional climate approach) di dalam kelas sebagai sekelompok individu cenderung pada pandangan Psikologi Klinis dan Konseling (penyuluhan). Menurut pendekatan ini pengelolaan kelas merupakan suatu proses menciptakan iklim atau suasana emosional dan hubungan sosial yang positif dalam kelas. Suasana emosional dan hubungan sosial yang positif, artinya, ada hubungan yang baik yang positif antara guru dengan anak didik, atau antara anak didik dengan anak didik.

         terdapat dua asumsi pokok yang dipergunakan dalam pengelolaan kelas sebagai berikut.

a. Iklim sosial dan emosional yang baik adalah dalam arti terdapat hubungan interpersonal yang harmonis antara guru dengan guru, guru dengan siswa, dan siswa dengan siswa, merupakan kondisi yang memungkinkan berlangsungnya proses belajar mengajar yang efektif. Asumsi ini mengharuskan seorang wali/guru kelas berusaha menyusun program kelas dan pelaksanaannya yang didasari oleh hubungan manusiawi yang diwarnai sikap saling menghargai dan saling menghormati antar-personal di kelas. Setiap personal diberi kesempatan untuk ikut serta dalam kegiatan kelas sesuai dengan kemampuan masing-masing sehingga timbul suasana sosial dan emosional yang menyenangkan pada setiap personal dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawab masing-masing.

b. Iklim sosial dan emosional yang baik tergantung pada guru dalam usahanya melaksanakan kegiatan belajar mengajar, yang disadari dengan hubungan manusiawi yang efektif. Dari asumsi ini berarti dalam pengelolaan kelas seorang wali/guru kelas harus berusaha mendorong guru-guru agar mampu dan bersedia mewujudkan hubungan manusiawi yang penuh saling pengertian, hormat menghormati dan saling menghargai. Guru harus didorong menjadi pelaksana yang berinisiatif dan kreatif serta selalu terbuka pada kritik. Di samping itu berarti juga guru harus mampu dan bersedia mendengarkan pendapat, saran, gagasan dan lain-lain dari siswa sehingga pengelolaan kelas berlangsung dinamis.


Sejumlah ahli yang menganjurkan pendekatan ini

       Carl A. Rogers menekankan pentingnya guru bersikap tulus dihadapan peserta didik (realness, genuineness, and congruence) menerima dan menghargai peserta didik sebagai manusia (accepttance, prizing, caring, dan trust), dan mengerti peserta didik dari sudut pandangan peserta didik sendiri (emphatio understanding).

        Helm C. Ginott menganggap sangat penting kemampuan guru melakukan komunikasi yang efektif dengan peserta didik dalam arti mengusahakan pemecahan masalah, guru membicarakan situasi, dan bukan pribadi pelaku pelanggaran, mendeskripsikan apa yang ia lihat dan rasakan; dan mendeskripsikan apa yang perlu dilakukan sebagai alternatif penyelesaian.

       William Glasser memusatkan perhatiannya pada pentingnya guru membina rasa tanggung jawab sosial dan harga diri peserta didik dengan cara setiap kali mengarahkan peserta didik untuk mendeskripsikan masalah yang dihadapi, membantu peserta didik menganalisis dan menilai masalah tersebut; membantu peserta didik menyusun rencana pemecahan; mengarahkan peserta didik agar comitted terhadap rencana yang telah dibuat, memberikan kesempatan kepada peserta didik, kalau perlu, menanggung akibat "kurang menyenangkan" daripada perbuatannya dan membantu peserta didik membuat rencana penyelesaian baru yang lebih baik.

        Rudolf Dreikurs menekankan pentingnya proses suasana dalam kelas yang demokratis (democratic classroom processes) dalam mana peserta didik diajar bertanggung jawab, melalui kesempatan memikul tanggung jawab, diperlakukan sebagai manusia yang dapat secara bijaksana mengambil keputusan di samping diberi kesempatan menanggung konsekuensi perbuatannya sendiri.


8. Pendekatan proses kelompok (group processes approach)

       Pengelolaan kelas diartikan sebagai suatu proses untuk menciptakan kelas sebagai suatu sistem sosial, di mana proses kelompok merupakan yang paling utama. Peranan guru adalah mengusahakan agar perkembangan dan pelaksanaan proses kelompok itu efektif. Proses kelompok adalah usaha guru mengelompokkan anak didik ke dalam beberapa kelompok dengan berbagai pertimbangan individual sehingga tercipta kelas yang bergairah dalam belajar. Dasar dari Grup-process Approuch ini adalah psikologi sosial dan dinamis kelompok yang mengetengahkan dua asumsi sebagai berikut

a. Pengalaman belajar di sekolah bagi siswa berlangsung dalam konteks kelompok sosial. Asumsi ini mengharuskan wali/guru kelas dalam pengelolaan kelas selalu mengutamakan kegiatan yang dapat mengikutsertakan seluruh personal di kelas. Dengan kata lain, kegiatan kelas harus diarahkan pada kepentingan bersama dan sedikit mungkin kegiatan yang bersifat individual.

b. Tugas guru terutama adalah memelihara kelompok belajar agar menjadi kelompok yang efektif dan produktif Berdasarkan asumsi ini berarti seorang wali/guru kelas harus mampu membentuk dan mengaktifkan siswa dan bahkan juga guru untuk bekerja sama dalam kelompok(group studies) harus dilaksanakan secara efektif agar hasilnya lebih baik daripada bila mana siswa belajar sehari-hari (produktif). Kegiatan guru sebagai kelompok antara lain dapat diwujudkan berupa regu mengajar (team teaching) yang bertugas membantu kelompok belajar.


         Menurut Richard A Schmuck dan Patricia A. Schmuck unsur-unsur pengelolaan kelas dalam rangka pendekatan group process adalah (1) harapan timbal balik (mutual expectation) tingkah laku guru-peserta didik dan antar peserta didik sendiri. Kelas yang baik ditandai oleh dimilikinya harapan (expectation) yang realistik dan jelas bagi semua pihak; (2) kepemimpinan baik dari guru maupun dari peserta didik yang mengarahkan kegiatan kelompok ke arah pencapaian tujuan-tujuan yang telah ditetapkan; (3) pola persahabatan (attraction) antara anggota kelas, semakin baik ikatan persahabatan yang dimaksud semakin besar peluang kelompok menjadi produktif, (4) norma, dalam arti dimiliki serta dipertahankan norma kelompok yang produktif serta diubah dan digantinya norma yang kurang produktif, (5) terjadinya komunikasi yang efektif dalam arti si penerima pesan menginterpretasikan secara benar pesan yang ingin disampaikan oleh si pengirim pesan dengan dipakainya keterampilan komunikasi interpersonal seperti paraphrasing, perception checking, dan feedback, (6) cohesiveness, yakni perasaan keterikatan masing-masing anggota terhadap kelompok, secara keseluruhan semakin tinggi derajat perasaan keterikatan maka anggota semakin memperoleh kepuasan sebagai hasil dari keanggotaannya dalam kelompok yang bersangkutan.

           Louis V. Johnson dan Mary A. Bany menggolongkan kegiatan pengelolaan kelas menjadi 2 jenis yaitu facilitation yang mencakup segala tindakan yang menciptakan iklim kerja yang produktif dan maintenance yang meliputi semua tindakan yang bertujuan memelihara iklim kerja baik, yang telah berhasil diperoleh. Kegiatan-kegiatan facilitation meliputi (1) penciptaan cohesiveness (2) penetapan standar tingkah laku (bagaimana harus antri di tempat penitipan sepeda) dan prosedur  kerja (apa yang dikerjakan bila seorang peserta didik menyelesaikan tugas mendahului teman-teman sekelas); untuk bisa efektif standar tingkah laku dan prosedur kerja yang dimaksud harus ditetapkan oleh kelompok sendiri; (3) penggunaan diskusi kelompok untuk memecahkan masalah yaitu dengan melalui tahap-tahap identifikasi masalah, analisis masalah, penilaian alternatif-alternatif pemecahan, pemilihan, dan pelaksanaan salah satu alternatif pemecahan, dan akhirnya, feedback dari hasil pelaksanaan alternatif pemecahan masalah yang dimaksud.


9. Pendekatan electis atau pluralistik

         Pendekatan electis (Electic Approach) ini menekankan pada potensialitas, kreativitas dan inisiatif wali/guru kelas dalam memilih berbagai pendekatan tersebut di atas berdasarkan situasi yang dihadapinya. Penggunaan pendekatan itu dalam suatu situasi mungkin dipergunakan salah satu dan dalam situasi lain mungkin harus mengombinasikan dua atau ketiga pendekatan tersebut di atas. Pendekatan electis disebut juga pendekatan pluralistik, yaitu pengelolaan kelas yang berusaha menggunakan berbagai macam pendekatan yang memiliki potensi untuk dapat menciptakan dan mempertahankan suatu kondisi yang memungkinkan proses belajar mengajar berjalan efektif dan efisien. Guru memilih dan menggabungkan secara bebas pendekatan tersebut sesuai dengan kemampuan dan selama maksud dari penggunaannya untuk pengelolaan kelas di sini adalah suatu set (rumpun) kegiatan guru untuk menciptakan dan mempertahankan kondisi kelas yang memberi kemungkinan proses belajar mengajar berjalan secara efektif dan efisien.

          maka seorang guru seyogianya (1) menguasai pendekatan-pendekatan pengelolaan kelas yang potensial, dalam hal ini pendekatan perubahan tingkah laku. Penciptaan iklim sosio emosional dan proses kelompok; dan (2) dapat memilih pendekatan yang tepat dan melaksanakan prosedur yang sesuai dengan baik dalam masalah pengelolaan kelas. Pada gilirannya, kemampuan guru memilih strategi pengelolaan kelas yang tepat sangat tergantung pada kemampuannya menganalisis masalah pengelolaan kelas yang dihadapinya.

         Pendekatan perubahan tingkah laku dipilih bila tujuan tindakan pengelolaan yang akan dilakukan adalah menguatkan tingkah laku peserta didik yang baik dan/atau menghilangkan tingkah laku peserta didik yang kurang baik; pendekatan penciptaan iklim sosio emosional dipergunakan apabila sasaran tindakan pengelolaan adalah peningkatan hubungan antar pribadi guru peserta didik dan antar peserta didik, sedangkan pendekatan proses kelompok dianut bila seorang guru ingin kelompoknya melakukan kegiatan secara produktif.






__________________________

Sumber

Lalu Muhammad Azhar, 1993, proses belajar mengajar pola CBSA, Surabaya; usana offset

Syaiful Bahri djamarah & aswan Zain, 2002, strategi belajar mengajar, Jakarta; Rineka cipta

Supardi dkk, 2009, profesi keguruan, Jakarta; diadit media.

Ahmad rohani, 2004 pengelolaan pengajaran, Jakarta, Rineka cipta.





       


Baca Juga

Komentar