Materi Pilar Negara ( BHINNEKA TUNGGAL IKA ) TWK SKD CPNS


Materi Pilar Negara (  BHINNEKA TUNGGAL IKA ) TWK SKD CPNSMateri Pilar Negara (  BHINNEKA TUNGGAL IKA ) TWK SKD CPNSMateri Pilar Negara (  BHINNEKA TUNGGAL IKA ) TWK SKD CPNSMateri Pilar Negara (  BHINNEKA TUNGGAL IKA ) TWK SKD CPNSMateri Pilar Negara (  BHINNEKA TUNGGAL IKA ) TWK SKD CPNSMateri Pilar Negara (  BHINNEKA TUNGGAL IKA ) TWK SKD CPNS
Materi Pilar Negara (  BHINNEKA TUNGGAL IKA ) TWK SKD CPNS





a. Sejarah Bhinneka Tunggal Ika

Istilah Bhinneka Tunggal Ika dikenal  pertama  kalinya  pada  zaman  Majapahit  di  era  kepemimpinan  Wisnuwardhana.  Perumusan  dari  semboyan   Bhineka   Tunggl   Ika   dilakukan  oleh  Mpu  Tantular  di  dalam    kitab    Sutasoma.    Pada    dasarnya,     semboyan     tersebut     merupakan pernyataan    kreatif    dalam   usaha   untuk   mengatasi   keanekaragaman        kepercayaan        dan juga keagamaan. Hal itu juga dilakukan     karena     sehubungan     dengan  usaha  bina  Negara  kerajaan Majapahit pada waktu itu. Di dalam kitab Sutasoma sendiri, Bhineka Tunggl Ika lebih ditekankan untuk perbedaan dalam hal kepercayaan serta keaneragaman agama yang ada di kalangan rakyat Majapahit.

Semboyan Bhineka Tunggl Ika, memberikan nilai yang inspiratif  di  dalam  system  pemerintahan  Indonesia  pada  masa  kemerdekaan. Semboyan tersebut juga mampu menumbuhkan semangat persatuan dan kesatuan di dalam NKRI. Namun  sebagai  semboyan  NKRI,  konsep  yang  ada  di  dalam  Bhineka  Tunggl  Ika  tak  hanya  menyangkut  perbedaan  agama  dan  kepercayaan  yang  menjadi  fokus  utama.Namun  dijadikan  semboyan dalam artian yang lebih luas yaitu seperti perbedaan suku, bangsa, budaya (adat-istiadat), beda pulau, dan tentunya agama  dan  juga  kepercayaan  untuk  menuju  persatuan  dan  kesatuan Negara.

Berbicara  tentang  lambang  dari  negara  Indonesia,  Lambang  yang  tergambar  Garuda  Pancasila  lengkap  dengan  semboyan  Bhinneka  Tunggal  Ika  pada  cakarnya  ditetapkan  secara  resmi  menjadi   salah   satu   bagian   NKRI.   Yaitu   melalui   Peraturan Pemerintahan Nomor 66 Tahun 1951 pada 17 Oktober 1951 serta telah   diundang  –  undangkan   di   tanggal   28   Oktober   1951   sebagai Lambang Negara.

b. Prinsip Bhinneka Tunggal Ika

Common Denominator

Di dalam negara Indonesia, kita telah mengetahui bahwa ada 5 macam agama di dalamnya, namun hal tersebut sampai saat ini tak lantas menjadi celaan agama satu dengan lainnya.

Karena  sesuasi  dengan  prinsip  semboyan  yang  pertama,  perbedaan  di  dalam  agama  tersebut  harus  kita  cari  common  denominatornya  atau  dengan  kata  lain  mencari  persamaan  di  dalam  perbedaan  tersebut.  Sehingga  masyarakat  Indonesia  dapat   hidup   dalam   keanekaragaman   dan   juga   kedamaian   dengan  terdapatnya  kesamaan  di  dalam  perbedaan  tersebut.  Begitu juga pada aspek yang lain, sehingga segala macam perbedaan tersebut tetap bersatu di dalam bingkai NKRI.

Tidak Bersifat Sektarian dan Enklusif

Maksud  dari  prinsip  yang  kedua  yakni  bahwasannya  seluruh  warga negara Indonesia tidak dibenarkan menganggap dirinya atau kelompoknya merupakan orang yang paling benar, paling hebat,  atau  paling  diakui.  Pandangan  sectarian  dan  enklusif  harus  dihapuskan  dari  bangsa  ini  karena  akan  menimbulkan  banyak  konfik  yang  disebabkan  kecemburuan,  kecurigaan, sikap  yang  berlebihan  serta  egois  dan  tidak  mau  memperhitungkan keberadaan kelompok atau pribadi lain.

Dengan Bhinneka Tunggal Ika yang memiliki sifat inklusif yang berarti  kebersamaan,  jadi  semua  kelompok  yang  ada  harus  saling memupuk rasa persaudaraan dan tetapi haruslah hidup berdampingan satu sama lain. Serta kelompok mayoritas tidak diperkenankan    untuk    memaksakan    kehendaknya    kepada    kelompok lainnya.

Tidak Bersifat Formalistis

Dalam  artian,  semboyan  negara  kita  tidak  hanya  menunjukan  sikap yang kaku dan semu, tetapi justru menonjolkan sifat yang menyeluruh  atau  universal.  Dilandasi  dengan  rasa  kasih-sayang,   hormat,   percaya,   serta   rukun   antar   sesama.   Sebab,   dengan   cara   tersebutlah   keanekaragaman   bisa   disatukan   dalam bingkai ke-Indonesiaan yang damai.

Bersifat Konvergen

Bersifat konvergen yang berarti bila negara telah dilanda masalah mengenai keragaman bukan untuk dibesar-besarkan, melainkan  dicari  titik  temu  yang  dapat  membuat  segala  macam  kepentingan menjadi satu. Hal tersebut dapat dicapai jika terdapat sikap toleran, saling percaya, rukun, non sectarian, serta inklusif

c. Implementasi Bhinneka Tunggal Ika

Perilaku Inklusif

Seseorang  harus  dapat  menganggap  bahwa  dirinya  masuk  kedalam  suatu  populasi  yang  luas,  sehingga  sifat  sombong  atau melihat dirinya melebihi dari yang lain tidak muncul. Berlaku juga di suatu kelompok. Kepentingan bersama harus selalu diutamakan  daripada  hanya  untuk  keuntungan  kepentingan  pribadi    atau    kelompoknya    dibanding    kelompok    lainnya.    Dengan tercapainya mufakat, semua elemen di dalamnya akan merasa puas dan senang. Karena setiap kelompok yang berbeda mempunyai perannya masing-masing dalam kehidupan berbangsa dan bernegara

Mengakomodasi Sifat Prulalistik

Dilihat  dari  keberadaan  keragaman  yang  ada  di  dalamnya,  Indonesia merupakan bangsa dengan tingkat prulalistik terbesar yang ada di dunia. Hal ini lah yang menjadikan negara Indonesia disegani oleh bangsa lain yang ada di dunia, namun jika hal  ini  tidak  dikelola  dengan  baik,  bukan  tidak  mungkin  akan  ada disintegrasi di dalam bangsa. Suku bangsa, bahasa, adat, agama,  ras  serta  budaya  di  Indonesia  jumlahnya  sangatlah  banyak. Sikap toleran, kasih sayang, saling menghormati, menjadi kebutuhan wajib untuk segenap rakyat Indonesia agar terciptanya masyarakat yang tenteram dan damai.

Tidak Mencari Menangnya Sendiri

Perbedaan  pendapat  memang  hal  yang  lumrah  kita  temui  di  dalam  kehidupan  sehari-hari.  Terlebih  lagi  dengan  diberlakukannya  sistem  demokrasi  yang  dimana  menuntut  rakyatnya  untuk   mengungkapkan   pendapatnya   masing-masing.   Oleh   karenanya,  sikap  saling  hormat  antar  sesama  merupakan  hal  yang sangat penting.

Dari sifat Bhinneka Tunggal Ika yang konvergen  haruslah  benar-benar  nyata  ada  di  dalam  kehidupan  berbangsa  dan  bernegara,  serta  jauhkan  sifat  divergen  untuk  kepentingan bersama.

Musyawarah untuk Mufakat

Pentingnya  mencapai  mufakat  dalam  musyawarah  memang  mejadi kunci kerukunan hidup di negara Indonesia. Segala perbedaan  dicari  solusi  tengahnya  untuk mencari  inti  kesamaan  sehingga  segala  macam  gagasan  yang  timbul  akan  diakomodasikan dalam kesepakatan.

Dilandasi Rasa Kasih Sayang dan Rela Berkorban

Sesuai dengan pedoman yang menyebutkan bahwa sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat untuk manusia lainnya, rasa  rela  berkorban  haruslah  ada  dan  diterapkan  di  dalam  kehidupan sehari-hari. Rasa itulah yang akan terbentuk dengan dilandasinya  rasa salin kasih mangasihi, dan juga sayang menyayangi. Menjauhi rasa benci sebab hanya akan memicu konflik di dalam kehidupan  bermasyarakat.

d. Arti Penting Memahami Keberagaman dalam Bingkai Bhinneka Tunggal Ika

Kondisi      kewilayahan      negara      Indonesia  sebagai  negara  kepulauan,  dapat  menyebabkan  terjadinya perpecahan bangsa (disintegrasi).   Sejarah   telah   membuktikan      bahwa      pemerintah      Indonesia   pernah   menghadapi   persoalan  adanya  daerah  yang  ingin     memisahkan     diri     dari     Negara  Kesatuan  Republik  Indonesia.

Selain  kondisi  kewilayahan,  aspek  sosial  budaya  menunjukkan  bahwa  masyarakat  Indonesia  diwarnai  oleh  berbagai  macam  perbedaan.  Kondisi  sosial  budaya  yang  demikian  menjadikan  kehidupan  bangsa  Indonesia  menyimpan  potensi  terjadinya  konflik. Kenyataan juga menunjukkan, bahwa dalam kehidupan bangsa Indonesia sering terjadi konflik antar-kelompok masyarakat   yang   dilatarbelakangi   oleh   perbedaan-perbedaan   tersebut. Kenyataan terjadinya konflik perlu manjadikan perhatian bagi semua komponen bangsa agar dapat tetap mem pertahankan persatuan dan kesatuan bangsa.

Atas dasar dua alasan tersebut, maka penting sekali memahami  keberagaman  dalam  masyarakat  Indonesia  yang  ditujukan  untuk  mengusahakan  dan  mempertahankan  persatuan  dan  kesatuan  Negara  Kesatuan  Republik  Indonesia.  Keberagaman  masyarakat   Indonesia   memiliki   dampak   positif   sekaligus   dampak  negatif  bagi  diri  sendiri,  masyarakat,  bangsa  dan  negara. Dampak positif memberikan manfaat bagi perkembangan dan kemajuan, sedangkan dampak negatif mengakibatkan ketidakharmonisan bahkan kehancuran bangsa dan negara.

Bhinneka  Tunggal  Ika  mengandung  makna  meskipun  bangsa  Indonesia terdiri atas beraneka ragam suku bangsa, adat istiadat, ras dan agama namun keseluruhannya itu merupakan satu kesatuan, yaitu bangsa dan negara Indonesia. Bhinneka Tunggal  Ika  merupakan  semboyan  negara  Indonesia  sebagai  dasar  untuk mewujudkan persatuan dan kesatuan Indonesia, dimana kita harus menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari seperti hidup saling menghargai antara masyarakat yang satu dengan yang lainnya tanpa  memandang suku bangsa, agama, bahasa, adat istiadat, warna kulit dan lain-lain. Tanpa adanya kesadaran sikap  dan  perilaku  untuk  mewujudkan  Bhinneka  Tunggal  Ika  pasti  akan  terjadi  perpecahan  di  dalam  kehidupan  berbangsa  dan bernegara karena setiap orang hanya akan hanya mementingkan   diri   atau   daerahnya   sendiri   daripada   kepentingan   bangsa dan negara.

e. Perilaku Toleran terhadap Keberagaman Suku, Agama, Ras, dan Antargolongan

Sikap toleran berarti menahan diri, bersikap sabar, membiarkan orang    berpendapat    lain,    dan    berhati    lapang    terhadap    orang-orang yang memiliki pendapat berbeda. Toleransi sejati didasarkan  sikap  hormat  terhadap  martabat  manusia,  hati  nurani, dan keyakinan, serta keikhlasan sesama apa pun agama, suku, golongan, ideologi atau pandangannya

1.  Perilaku Toleran dalam Kehidupan Beragama

Pemerintah  Indonesia  mengakui  enam  agama  yang  ada  di  Indonesia.   Agama   tersebut   adalah   Islam,   Kristen,   Katolik,   Hindu,  Buddha,  dan  Khonghucu.  Jaminan  negara  terhadap  warga negara untuk memeluk dan beribadah diatur dalam UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945 Pasal 29 ayat (2) yang berbunyi, ”Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu”.

Oleh  karena  itu,  bentuk  perilaku  kehidupan  dalam  keberagaman  agama  di  antaranya  diwujudkan  dalam  bentuk  sebagai  berikut:

  • Melaksanakan ajaran agama yang dianutnya dengan baik dan benar. 
  • Menghormati agama yang diyakini orang lain. 
  • Tidak  memaksakan  keyakinan  agama  yang  dianutnya  kepada orang lain. 
  • Toleran   terhadap   pelaksanaan   ibadah   yang   dianut   pemeluk agama lain.

2.  Perilaku Toleran terhadap Keberagaman Suku dan Ras  di Indonesia

Perbedaan suku dan ras antara manusia yang satu dengan manusia yang lain hendaknya tidak menjadi kendala dalam membangun  persatuan  dan  kesatuan  bangsa  Indonesia  maupun  dalam pergaulan dunia. Perbedaan kita dengan orang lain tidak berarti bahwa orang lain lebih baik dari kita atau kita lebih baik dari orang lain. Baik dan buruknya penilaian orang lain kepada  kita  bukan  karena  warna  kulit,  rupa  wajah  dan  bentuk  tubuh  melainkan  karena  baik  dan  buruknya  dalam  berperilaku.  Oleh  karena  itu,  sebaiknya  kita  berperilaku  baik  kepada  semua  orang tanpa memandang berbagai perbedaan tersebut.

Berikut  contoh  perilaku  toleran  terhadap  keberagaman  Suku  dan Ras di Indonesia

  • Tidak memandang rendah suku atau budaya yang lain
  • Tidak  menganggap  suku  dan  budayanya  paling  tinggi  dan paling baik.
  • Menerima  keragaman  suku  bangsa  dan  budaya  sebagai  kekayaan bangsa yang tak ternilai harganya.
  • Lebih   mengutamakan   Negara   daripada   kepentingan   daerah atau suku masing-masing

3.  Perilaku Toleran terhadap Keberagaman Sosial Budaya

Kehidupan  sosial  dan  keberagaman  kebudayaan  yang  dimiliki  bangsa  Indonesia  tentu  menjadi  kekayaan  bangsa  Indonesia.  Kita tentu harus bersemangat untuk memelihara dan menjaga kebudayaan  bangsa  Indonesia.  Bagi  seorang  pelajar,  perilaku  dan  semangat  kebangsaan  dalam  mempertahankan  keberagaman budaya bangsa dapat dilaksanakan dengan : 

  • Mengetahui    keanekaragaman    budaya    yang    dimiliki    bangsa Indonesia; 
  • Mempelajari   dan   menguasai   salah   satu   seni   budaya   sesuai dengan minat dan kesenangannya; 
  • Merasa bangga terhadap budaya bangsa sendiri;  
  • Menyaring  budaya  asing  yang  masuk  ke  dalam  bangsa  Indonesia


Baca Juga

Komentar