Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Kehidupan Bangsa Indonesia pada Masa Revolusi

Kehidupan bangsa Indonesia pada masa revolusi lebih banyak diwarnai dengan pertempuran usaha mempertahankan kemerdekaan baik usaha secara fisik maupun diplomatik. Pada masa awal setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia kondisi bangsa Indonesia masih dihadapkan pada beberapa pertempuran fisik dengan  Belanda,  Sekutu  dan  juga  Jepang.Para  penjajah  tersebut  masih berupaya ingin merebut kembali Indonesia meski telah menyatakan kemerdekaannya. Pertempuran-pertempuran yang terjadi di beberapa  daerah menyebabkan banyaknya korban jiwa yang muncul dari rakyat Indonesia.

Pada bulan September 1945 tentara sekutu mendarat di Jakarta yang kemudian membentuk komando khusus yang disebut Aliied Forses Netherland EastIndies (AFNEI) untuk melucuti pasukan Jepang, kehadiran mereka bersamaan dengan NICA (Netherlands Indies Civil Administration) atau pemerintah sipil Hindia Belanda.   Kehadiran   tentara   sekutu   dan   belanda   menimbulkan beberapa pergolakan baik melalui pertempuran fisik maupun diplomati. Beberapa peristiwa tersebut antara lain:

a. Pertempuran 10 November di Surabaya

Pertempuran Surabaya merupakan peristiwa sejarah perang antara pihak tentara Indonesia dan pasukan Belanda. Peristiwa besar ini terjadi pada  tanggal 10 November 1945 di Kota Surabaya, Jawa Timur. Pertempuran Surabaya melawan pasukan sekutu memang tidak dapat dilepaskan dari peristiwa yang mendahuluinya,  yaitu  usaha  perebutankekuasaan  dan  senjata  dari  tangan Jepang yang dimulai sejak tanggal 2 September 1945.

Latar belakang terjadinya peperangan ini adalah karena adanya insiden hotel yamato Surabaya. Dimana ketika itu orang-orang belanda di bawah pimpinan Mr. Ploegman mengibarkan bendera Merah Putih Biru yaitu bendera Belanda di atas hotel Yamato di Surabaya. Bendera Belanda dapat diturunkan, dirobek bagian birunya, dan berkibarlah kembali Sang Merah-Putih. Aksi ini dipimpin oleh Koesnowibowo, anggota Angkatan Muda Kantor Kotamadya Surabaya.

Pengibaran bendera Belanda tersebut membuat kemarahan di hati masyarakat Surabaya tatkala itu. Karena hal ini dianggap telah menghina kedaulatan bangsa Indonesia  dan  juga  kemerdekaan  Indonesia  yang  telah  diproklamirkan  pada bulan Agustus tanggal 17 beberapa bulan yang lalu. Sehingga hal ini membuat sebagian pemuda bertindak tegas dengan menaiki hotel yamato dan merobek berdera belanda warna birunya sehingga tinggal tersisa warna bendera bangsa Indonesia yakni Merah Putih. Peristiwa ini terjadi pada tanggal 27 Oktober 1945. Puncaknya pada tanggal 30 Oktober 1945, terjadi baku tembak antara sekelompok pemuda yang menewaskan Brigadir Jenderal Mallaby. 

Kehidupan Bangsa Indonesia pada Masa Revolusi
Gambar .Bung Tomo
Sumber : https://bit.ly/2HphgZS

Pada tanggal 10 November 1945 terjadi pertempuran Surabaya yang sangat dahsyat.  Rakyat  Surabaya  bertekad  untuk  bertempur  mati-matian.  Hampir seluruh bagian kota Surabaya ditembaki dan dihujani bom secara membabi-buta oleh meriam pasukan Inggris. Ribuan penduduk menjadi korban, banyak yang meninggal dan luka-luka. Perlawanan tidak berhenti, Kobaran api semangat di seluruh kota menyala nyala bak letusan gunung berapi, TKR dan Laskar serta bantuan  yang  aktif  dari  rakyat  Surabaya  membuat  kota  Surabaya  terbakar. 

Inggris  terkejut  mereka  mendapatkan  badai  api  di  Kota  Surabaya,  awalnya mereka menduga perlawanan rakyat Indonesia di Surabaya  bisa  ditaklukkan dalam tempo 3hari saja, nyatanya pengerahkan persenjataan modern dan taktik perang yang mumpuni tidak membuat kota surabaya mudah  untuk diduduki. Pertempuran semakin sengit dengan hadirnya para ulama,kyai dan para santri di medan peperangan. Nama nama besar seperti KH. Hasyim Asy’ari,KH.Wahab Hasbullah serta kyai-kyai pesantren lainnya ikut ambil bagian dalam perjuangan dengan mengerahkan santri-santri (ketika itu masyarakat Jawa khususnya tidak begitu patuh kepada pemerintahan tetapi mereka sangat patuh dan taat kepada para kyai dan ulama mereka).

Sosok Bung Tomo yang merupakan seorang revolusioner menjadi api pembakar semangat rakyat Surabaya pun hingga kini terus dikenang jasa dan perjuangannya.  Beliau  menyuarakan  pidato  yang  memacu  keinginan  rakyat Surabaya untuk mempertahankan Indonesiahinggatitik darah penghabisan. Bung Tomo mengatakan dengan lantang “Merdeka atau mati?” yang lantas dijawab oleh ratusan ribu rakyat dengan kata ‘Merdeka’ daripada mati sia-sia ditangan parasekutu. Tidak terduga sama sekali perlawanan bisa bertahan lama, berlangsung dari hari ke hari, minggu ke minggu. 

Perlawanan yangpada awalnya dilakukan secara spontan dan tidak terkoordinasi, semakin hari semakin solid dan teratur. Pertempuran dasyat ini memakan waktu. hampir satu bulan lamanya, sebelum seluruh kota jatuh ditangan pihak Inggris. Peristiwa berdarah ini benar benar membuat inggris merasa berperang dipasifik, medan perang Surabaya mendapat julukan “neraka”   bagi mereka karena kerugian yang disebabkan tidaklah sedikit   sekitar 1600 orang prajurit pengalaman mereka tewas di Surabaya. Dari peristiwa tersebut maka setiap tanggal 10 November di peringati sebagai hari pahlawan.

b.      Pertempuran Lima hari di Semarang


Perlawanan masyarakat Semarang terhadap tentara Jepang atau sering disebut dengan istilah pertempuran lima hari di Semarangdiawali dari terbunuhnya Dr. Kariadi seorang dokter muda asal Semarang dan berbagai tindakan anarkis yang dilakukan oleh tentara tahanan Jepang yang coba melarikan diri dari tahanan yang  kemudian mengakibatkan kekacauan di  sekitar tempat tahanan  tentara Jepang. Tentara tahanan Jepang mencoba untuk mengambil alih kembali kota Semarang dari kemerdekaan bangsa Indonesia. Hal tersebut tentu mengundang amarah masyarakat menimbulkan perlawanan rakyat Semarang terhadap tentara Jepang di berbagai daerah Semarang. Berkenaan dengan adanya berita mengenai pemberian racun pada tandon air minum di Jln. Wungkal, seorang dokter muda asal Semarang tergerak hatinya untuk melakukan penelitian mengenai tandon yang sudah di racun tersebut. Beliau bernama Drs. Kariadi yang  pada  waktu  itu  menjabat  sebagai  kepala laboratorium  di  RS  Purusara Semarang.

Dr. Kariadi segera berangkat ke tandon penampungan air di Jln Wungkal.Diluar dugaan  mobil  yang  ditumpangi  bersama  sopirnya  dicegat  oleh  sekelompok tentara Jepang. Dr.Kariadi beserta sopir pribadinya ditembak ditempat. Berita kematian Dr Karia di membuat rakyat marah dan berhasil menangkap Jendral Nakamura. Pada tanggal 15 Oktober 1945, Mayor Kido meminta 100 tentara 

untuk melakukan penyerangan ke pusat kota mendengar berita penangkapan Jenderal Nakamura. Di Semarang juga terjadi penangkapan Mr. Wongsonegoro, Dr. Sukaryo, dan Sudanco Mirza Sidharta.Tanggal 16 Oktober 1945 pertempuran terus berlanjut dan meluas ke berbagai penjuru kota. Pada tanggal 17 Oktober 1945 terjadi kesepakatan genjatan senjata, namun kesepakatan tersebut tidak bertahan lama. 

Pada Tanggal 18 Oktober 1945 Jepang berhasil mematahkan serangan dari para pemuda dan memberikan perintah kepada pemuda untuk menyerahkan senjata yang mereka miliki, malam harinya para pemuda tidak mau menyerahkan senjatanya dan memilih melanjutkan untuk melawan Jepang.Pada tanggal 19 Oktober 1945,disaat Jepang ingin menghancurkan Kota Semarang tiba-tiba datanglah tentara Sekutu di Pelabuhan Semarang dengan Kapal HMS Glenry, yang membuat Jepang kemudian menyerah sehingga berakhirlah pertempuran lima hari di Semarang.

c.        Pertemuran Medan Area

Perang  Medan  Area  merupakan  suatu  peristiwa  dimana  perjuangan  rakyat Medan melawan  sekutu  yang  ingin menguasai Indonesia. Setelah  Indonesia memproklamasikan  kemerdekaanya  pada  tanggal  17  Agustus  1945,  rakyat Medan pada saat itu belum mengetahui dan mendengar informasi tersebut. Hal itu disebabkan karena sulitnya komunikasi dan adanya sensor dari Jepang. Pada tanggal 9 Oktober 1945 pasukan sekutu mendarat di Medan dibawah pimpinan T.E.D Kelly.Kedatangan pasukan sekutu diikuti oleh pasukan NICA yang dipersiapkan untuk mengambil alih pemerintahan. Awalnya mereka diterima secara baik oleh pemerintahan RI di Sumatera Utara sehubungan dengan tugasnya untuk membebaskan tawanan perang (tentara Belanda). Akan tetapi, Inggris malah mempersenjatai mereka dan membentuk Medan Batalyon KNIL, yang terdiri atas seluruh tawanan yang telah dibebaskan dan dipersenjatai.

Peristiwa itulah yang melatarbelakangi terjadinya pertempuran medan area, sehingga dalam pertempuran tersebut muncullah garis demarkasi yang berasal dari perundingan Linggarjati yang dilakukan antara RI dan serdadu Inggris yang kemudian  dilanjutkan  oleh  serdadu  Belanda.  Sebelum  disahkankanya perundingan tersebut, Pada tanggal 1 Desember 1945, pihak sekutu memasang papan-papan  yang  bertuliskan  Fixed  Boundaries  Medan  Area  (batas  resmi wilayah Medan) diberbagai sudut kota Medan. 

Hal ini jelas menimbulkan reaksi bagi para pemuda untuk melawan kekuatan asing yang mencoba untuk berkuasa kembali. Pada tanggal 10 Desember 1945, Sekutu dan NICA melancarkan serangan   besar-besaran   terhadap   kota   Medan.Serangan   ini  menimbulkan banyak korban di kedua belah pihak. Pada bulan April 1946, Sekutu berhasil menduduki kota Medan. Pusat perjuangan rakyat Medan kemudian dipindahkan ke  Pematang  Siantar.  Pada  bulan  Agustus  1946  telah  dibentuk  Komando Resimen Laskar Rakyat Medan Area. Kemudian komando inilah yang terus mengadakan  serangan terhadap sekutu  di  wilayah  Medan. Hampir diseluruh wilayah Sumatera terjadi perlawanan rakyat terhadap jepang, sekutu, dan Belanda.

d.      Peristiwa Bandung Lautan Api

Pada bulan Oktober 1945, tentara Sekutu memasuki Kota Bandung. Ketika itu para pejuang Bandung sedang melaksanakan pemindahan kekuasaan dan merebut senjata dan peralatan dari tentara Jepang. Tentara Sekutu menduduki dan  menguasai  kantor-kantor  penting.  Tentara  NICA  membonceng  tentara Sekutu itu. NICA berkeinginan mengembalikan  kekuasaan Belanda di Indonesia.

Pada tanggal 21 November 1945, tentara Sekutu mengeluarkan ultimatum (peringatan) pertama agar Kota Bandung bagian utara dikosongkan oleh pihak Indonesia selambat-lambatnya tanggal 29 November 1945. Para pejuang kita harus menyerahkan senjata yang dirampas dari tentara Jepang. Alasannya untuk menjaga keamanan. Apabila tidak diindahkan, tentara Sekutu akan menyerang total.

Peringatan ini tidak dihiraukan oleh para pejuang Indonesia. Sejenak saat itu sering terjadi bentrokan senjata. Kota Bandung terbagi menjadi dua, Bandung Utara  dan  Bandung  Selatan.  Karena  persenjataan  yang  tidak  memadahi, pasukan TKR dan para pejuang lainnya tidak dapat mempertahankan Bandung Utara. Akhirnya Bandung Utara dikuasai oleh Sekutu. Pada tanggal 23 Maret 1946  tentara Sekutu mengeluarkan ultimatum  kedua. Mereka  menuntut agar semua masyarakat dan para pejuang TRI (Tentara Republik Indonesia) mengosongkan kota Bandung bagian selatan. Perlu diketahui bahwa sejak 24 Januari 1946, TKR telah berubah namanya menjadi TRI. 

Akhirnya, TRI dan para pejuang lainnya mundur dan mengosongkan Bandung Selatan. Rakyat diungsikan ke luar Kota Bandung. Sebelum ditinggalkan, Bandung  Selatan  dibumihanguskan  oleh  para pejuang. Bumi  hangus adalah memusnahkan dengan pembakaran  semua  barang,  bangunan,  gedung  yang mungkin akan dipakai oleh musuh. Peristiwa ini terjadi pada tanggal 23 Maret
1946 dan terkenal dengan sebutan Bandung Lautan Api. Dalam peristiwa tersebut, gugur seorang pejuang Mohammad Toha.

e.      Perundingan Linggajati

Perundingan linggarjati  adalah suatu perundingan antara Indonesia dan Belanda di Linggarjati, Jawa Barat yang menghasilkan persetujuan mengenai status kemerdekaan Indonesia. Hasil perundingan ini ditandatangani di Istana Merdeka Jakarta pada 15 November 1946 dan ditandatangani secara sah oleh kedua negara pada 25 Maret 1947. Beberapa hasil perundingan tersebut antara lain : (1) Belanda mengakui secara de facto wilayah Republik Indonesia, yaitu Jawa, Sumatera dan Madura, (2) Belanda harus meninggalkan wilayah RI paling lambat tanggal 1 Januari 1949, (3) Pihak Belanda dan Indonesia Sepakat membentuk negara RIS, (4) Dalam bentuk RIS Indonesia harus tergabung dalam Commonwealth/Persemakmuran Indonesia-Belanda dengan mahkota negeri Belanda sebagai kepalaunit.

Pelaksanaan   hasil perundingan ini tidak berjalan mulus. Pada tanggal 20 Juli 1947, Gubernur Jendral H.J. van Mook akhirnya menyatakan bahwa Belanda tidak terikat lagi dengan perjanjian ini, dan pada tanggal 21 Juli 1947, meletuslah Agresi Militer Belanda I. Atas permintaan India dan Australia, pada 31 Juli 1947 masalah agresimiliter yang dilancarkan Belanda dimasukkan ke dalam agenda Dewan Keamanan PBB, yang kemudian mengeluarkan Resolusi No. 27 tanggal 1 Agustus 1947, yang isinya menyerukan agar konflik bersenjata dihentikan. 

Dewan Keamanan PBB de facto mengakui eksistensi Republik Indonesia. Hal ini terbukti dalam semua resolusi PBB sejak tahun 1947, Dewan Keamanan PBB secara resmi menggunakan nama Indonesia, dan bukan Netherlands Indies. Sejak resolusi pertama,  yaitu  resolusi No. 27  tanggal  1  Augustus 1947,  kemudian resolusi  No. 30 dan31 tanggal 25  Agustus 1947, resolusi  No. 36  tanggal 1 November  1947,  serta  resolusi  No.  67  tanggal  28  Januari  1949,  Dewan Keamanan PBB selalu menyebutkan konflik antara Republik Indonesia dengan Belanda sebagai The Indonesian Question. Atas tekanan Dewan KeamananPBB, pada tanggal 15 Agustus 1947 Pemerintah Belanda akhirnya menyatakan akan menerima resolusi Dewan Keamanan untuk menghentikan pertempuran.

Pada 17 Agustus 1947 Pemerintah Republik Indonesia dan Pemerintah Belanda menerima Resolusi Dewan Keamanan untuk melakukan gencatan senjata, dan pada 25 Agustus 1947 Dewan Keamanan membentuk suatu komite yang akan menjadi penengah konflik antara Indonesia  dan Belanda. Komite ini awalnya hanyalah sebagai Committee of Good Offices for Indonesia (Komite Jasa Baik Untuk Indonesia), dan lebih dikenal sebagai Komisi Tiga Negara(KTN), karena beranggotakan tiga negara, yaitu Australia yang dipilih oleh Indonesia, Belgia yang  dipilih  oleh  Belanda  dan  Amerika  Serikat  sebagai  pihak  yang  netral. Australia diwakili oleh Richard C. Kirby, Belgia diwakili oleh Paulvan Zeeland dan Amerika Serikat menunjuk Dr.Frank Graham.

f.       Agresi Militer Belanda I

Aksi yang dilakukan ini merupakan respon Belanda atas perjanjian Linggarjati. Gubernur Jendral H.J. van Mook akhirnya menyatakan bahwa Belanda  tidak terikat lagi dengan perjanjian ini, dan pada tanggal 21 Juli 1947, meletuslah Agresi  Militer  Belanda  I.  Tujuan utama  agresi  Belanda adalah merebut daerah- daerah perkebunan yang kaya dan daerah yang memiliki sumber daya alam. 

Fokus serangan tentara Belanda di tiga tempat, yaitu Sumatera Timur, Jawa Tengah dan Jawa Timur. Di Sumatera Timur, sasaran mereka adalah daerah perkebunan tembakau, di Jawa Tengah mereka menguasai seluruh pantai utara, dan di Jawa Timur, sasaran utamanya adalah wilayah yang terdapat perkebunan tebu dan pabrik-pabrik gula.

Agresi tentara Belanda berhasil merebut daerah-daerah di wilayah Republik Indonesia yang sangat penting dan kaya seperti kota pelabuhan, perkebunan dan pertambangan. Akibat tindakan Belanda tersebut menyebabkan banyak korban jiwa dari rakyat Indonesia. Pada 29 Juli 1947, pesawat Dakota Republik dengan simbol Palang Merah di badan pesawat yang membawa obat-obatan dari Singapura, sumbanganPalangMerah Malaya ditembak jatuh oleh Belanda dan mengakibatkan tewasnya Komodor Muda Udara Mas Agustinus Adisucipto, Komodor Muda Udara dr. Abdulrahman Saleh dan Perwira Muda Udara I Adisumarno Wiryokusumo.

Dewan Keamanan PBB selalu menyebutkan konflik antara Republik Indonesia dengan Belanda sebagai The Indonesian Question. Atas tekanan Dewan Keamanan PBB, pada tanggal 15 Agustus 1947 Pemerintah Belanda akhirnya menyatakan akan menerima resolusi Dewan Keamanan untuk menghentikanpertempuran.

g.      Perundingan Renville

Perjanjian Renville adalah perjanjian antara Indonesia  dengan  Belanda  yang ditanda  tangani pada tanggal 17 Januari  1948 di ataskapal perang  Amerika Serikat USS Renville yang berlabuh di Tanjung Priok Jakarta. Pihak yang hadir pada perundingan Renville antara lain : (1) Delegasi Indonesia di wakili oleh Amir syarifudin (ketua), Ali Sastroamijoyo, H. Agus Salim, Dr.J. Leimena, Dr. Coatik Len, dan Nasrun, (2) Delegasi Belanda di wakili oleh R.Abdul Kadir Wijoyoatmojo (ketua), Mr. H..A.L. Van Vredenburg, Dr.P.J. Koets, dan Mr.Dr.Chr.Soumokil, (3) PBB sebagai mediator di wakili oleh Frank Graham (ketua), Paul Van Zeeland, dan Richard Kirby.

Isi perjanjian renville yang disepakati antara lain: 
(1) Belanda berdaulat atas Indonesia sebelum Indonesia mengubah menjadi RIS (Republik Indonesia Serikat),         
(2)  Belanda          hanya          mengakui          Jawatengah, Yogjakarta, dan Sumatra Sebagai bagian wilayah Republik Indonesia,
(3) Disetujuinya sebuah   garis    demarkasi    yang    memisahkan wilayah Indonesia dan daerah pendudukan   Belanda,   
(4)   TNI harus   ditarik   mundur   dari   daerah-daerah kantongnya di wilayah pendudukan di Jawa Barat dan Jawa Timur
Gambar.Wilayah Indonesia hasil perjanjian Renville



Gambar.Wilayah Indonesia hasil perjanjian Renville

Sumber : https://bit.ly/2F8T5gq

Sebagai konsekuensi ditandatanganinya Perjanjian Renville, mengakibatkan berbagai dampak bagi bangsa Indonesia, diantaranya adalah sebagai berikut : 
(1)  Wilayah RI semakin  sempit dikarenakanditerimanya  garis  demarkasi Van Mook,  wilayah  Republik  Indonesia  meliputi  Yogyakarta  dan  sebagian  Jawa Timur, 
(2) Anggota TNI yang masih berada di daerah-daerah  yang  dikuasai Belanda, harus ditarik masuk ke wilayah RI. Di Jawa Barat ada sekitar 35.000 orang  tentara  Divisi  Siliwangi  pada  tanggal  1  Februari  1948  dihijrahkan  ke Wilayah RI,
(3) Isi Perjanjian Renville mendapat tentangan sehingga muncul mosi tidak  percaya  terhadap  Kabinet  Amir  Syarifuddin  sehingga  pada  tanggal  23
Januari 1948, Amir menyerahkan kembali mandatnya kepada Presiden,
(4) Perjanjian Renville menimbulkan permasalahan baru,yaitu pembentukan pemerintahan   peralihan   yang   tidak  sesuai  dengan   yang   terdapat   dalam perjanjian Linggarjati.

Setelah perjanjian Renville pihak Belanda rupanya belummenyerah juga,mereka masih ingin menguasai Indonesia seutuhnya,sehinggapada19 Desember 1948 mereka melancarkan Agresi Militer Belanda II. 

h.      Agresi Militer Belanda II

Setelah perjanjian Renville pihak Belanda rupanya belum menyerah juga,mereka masihingin  menguasai  Indonesia   seutuhnya.   Pada   tanggal  18   Desember Belanda melancarkan  agresi militer II dan pada  tanggal  19  Desember  1948 ibukota   RI   Yogyakatra   dengan   mudah   dikuasainya.   Para   pemimpin   RI membiarkan dirinya ditangkap dengan harapan bahwa opini dunia akan mengecam agresi tersebut sehingga kemenangan militer Belanda akan berbalik menjadi kekalahan dalam bidang diplomatik (Rickefs, 1991:347).

Belanda menangkap dan menahan tokoh-tokoh RI yang tetap tinggal di ibu kota, yaitu Presiden Sukarno, Wakil Presiden Muh. Hatta, Mr. Assaat (ketua BP-KNIP), Agus Salim (menteri luar negeri), Sutan Syahrir dan Ali Sastroamidjojo. Namun sebelumnya diadakan sidang kabinet dengan keputusan bahwa mereka tetap tinggal di ibu kota dan memberikan mandat kepada Menteri Kemakmuran Sjafrudin   Prawiranegara   untuk   membentuk   PDRI   (Pemerintahan   Darurat Republik Indonesia) di Sumatra. Namun keputusan kabinet tersebut tidak didukung   oleh   para   perwira   militer   seperti   Jenderal   Sudirman   dan   T.B Simatupang.

Sementara itu, dengan dasar pertimbangan “berhubung dengan ditawannya pemimpin-pemimpin RI “ dan “ untuk “Segera dapat mengisi kevakuman pemerintahan sipil”, Panglima Tentaar Territorium Djawa (PTTD) Kolonel A. H Nasution mengeluarkan maklumat no. 2/MBKD pada tanggal 22 Desember 1948 yang  mengumumkan  berlakunya  pemerintahan  militer  untuk  seluruh  Jawa, dengan sistem pemerintahan gerilya yang bersifat “total”, yaitu menggunakan sistem  pertahanan-keamanan  rakyat  semesta  (Hankam  Rata).  Menghadapi sistem dan taktik gerilya ini, Belanda merasa mendapat tekanan-tekanan dari pasukan RI. Divisi I Siliwangi yang dahulu dihijrahkan, dikembalikan ke daerah - daerah yang dahulu ditinggalkan tanpa mengenal batas-batas formal yang ditetapkan di dalam perjanjian Renville ( Muhaimin, 2002:63).

i.       Serangan Umum 1 maret 1949

Serangan umum 1 Maret 1949 adalah serangan yang dilaksanakan padatanggal 1   Maret   1949.   Serangan   bertujuan   untuk   menunjukkan   kepada   dunia internasional  bahwa  Republik  Indonesia  cukup  kuat  untuk  mempertahankan kemerdekaan, meskipun ibu kotanya telah diduduki oleh Belanda.Serangan Umum 1 Maret 1949 dilakukan oleh pasukan TNI dari Brigade10/Wehkreise III di bawah pimpinan Letnan Kolonel Soeharto, setelah  terlebih  dahulu mendapat persetujuan dari Sri Sultan Hamengku Buwono IX (KepalaDaerah Istimewa Yogyakarta). 

Pada malam hari menjelang serangan umumitu, pasukan-pasukan TNI telah mendekati kota dan dalam jumlah kecil mulaidisusupkan ke dalam kota. Pagi hari pada tanggal 1 Maret 1949 sekitar pukul 06.00 WIB sewaktu sirine berbunyi  tanda  jam  malam  telah  berakhir,  seranganumum  dilancarkan  dari segala penjuru kota. Pasukan Belanda tidak mendugaakan ada serangan mendadak seperti itu, sehingga dalam waktu yang relative singkat pasukan TNI berhasil memukul mundur pasukan Belanda keluar Yogyakarta.

Dalam  Serangan Umum  TNI akhirnya berhasil menduduki Yogyakartaselama enam jam. Peristiwa ini berhasil mematahkan propaganda Belanda yang menyatakan bahwa Republik Indonesia sudah tidak ada lagi. Keberhasilan Serangan Umum 1 Maret 1949 mendatangkan dukungan internasional terhadap bangsa Indonesia. Peristiwa ini menjadi pendorong berubahnya sikap pemerintah Amerika Serikat terhadap Belanda. Pemerintah Amerika Serikat  yang semula mendukung Belanda, berbalik menekan Belanda agar melakukan perundingan dengan pihak RI. Oleh karena desakan itu, serta kedudukannyayang makin terdesak  oleh  gerilyawan  Indonesia,  Belanda  akhirnya  bersedia  berunding dengan RI.

j.       Persetujuan Roem- Royen


Pada tanggal 16 April -7 Mei 1949 mulai diadakan pembicaraan antara kedua delegasi hingga menghasilkan suatu kesepakatan. Pasal utama pembicaraan adalah mengenai kembalinya Pemerintah RI ke Yogyakarta. Ketua delegasi Indonesia, Moh. Roem tetap pada pendiriannya bahwa persoalan tersebut harus dibicarakan terlebih dahulu, sebelum pokok-pokok yang lain dibahas. Sementara Van Royen tetap berpegang bahwa persoalan itu sebagai hal yang utuh yang tidak dapat dipisahkan dari lainnya

Meski terdapat pasal-pasal yang masih disengketakan, akhirnya terdapat maklumat bersama yang dikenal sebagai perundingan Indonesia-Belanda yang dikenal  sebagai  Persetujuan  Roem  Royen  yang  menghasilkan  tiga  pokok kesepakatan dari delegasi Indonesia   dan juga sesuai dengan instruksi Dewan Keamanan PBB tanggal 23 Maret 1949 ,yaitu:

a) Mengeluarkan perintah kepada pasukan RI untuk menghentikan perang gerilya
b) Kerja sama yang mengarah pada pemulihan perdamaian dan memelihara ketertiban.
c) Ikut serta dalam KMB (Konferensi Meja Bundar) di Den Haag Van Royen atas nama Pemerintah Belanda mengeluarkan suatu pernyataan, yaitu:

a) Persetujuan mengenai kembalinya Pemerintah Republik ke Yogyakarta
b) Penghentian  segala  operasi  militer  dan  pembebasan  semua  tahanan politik.
c) Penghentian  pembentukan  negara-negara  boneka  atau  daerah-daerah otonom di wilayah-wilayah yang berada dibawah pengawasan RI.

k.      Konferensi Meja Bundar

Pada Konferensi Meja Bundar yang dilaksanakan di Denhaag Pada tanggal 23 Agustus 1949 sampai 2  November 1949, Indonesia diwakili oleh: Drs. Hatta (ketua), Nir. Moh. Roem, Prof Dr. Mr. Supomo, Dr. J. Leitnena, Mr. Ali Sastroamijoyo, Ir. Djuanda, Dr. Sukiman, Mr.Suyono Hadinoto, Dr. Sumitro Djojohadikusumo, Mr. Abdul Karim Pringgodigdo, Kolonel T.B.Simatupang, Mr.Muwardi.Perwakilan BFO ini dipimpin oleh Sultan Hamid II dari Pontianak. Perwakilan Belanda dipimpin oleh Mr. van Maarseveen dan UNCI diwakili Chritchley.

Isi dari Konferensi Meja  Bundar: (1) Belanda mengakui kedaulatan  Republik Indonesia  Serikat  (RIS)  sebagai  sebuah  negara  yang  merdeka,  (2)  Status Provinsi Irian Barat diselesaikan paling lama dalam waktu setahun,sesudahpengakuankedaulatan,(3)DibentuknyaUniIndonesia- Belanda untuk  bekerja  sama  dengan  status  sukarela  dan  sederajat,  (4)  Republik Indonesia Serikat akan mengembalikan hak milik Belanda dan memberikan hak- hak konsesi serta izin baru untuk perusahaan- perusahaan Belanda, (5) Republik Indonesia Serikat harus membayar semua utang Belanda yang dari tahun1942. 


source : modul belajar mandiri pppk Pembelajaran 4. Kehidupan Bangsa Indonesia Masa Revolusi, Orde Lama, Orde Baru hingga Reformasi , kemdikbud

Posting Komentar untuk "Kehidupan Bangsa Indonesia pada Masa Revolusi"