Bentuk dalam karya seni Rupa


 

Bentuk dalam karya seni Rupa

Pada bagian ini akan membahas tentang hakikat bentuk ditinjau dari filsafat seni dan teori estetika, berikut penjelasannya.

1)    Bentuk (Fisioplastis) dan Isi (Ideoplastis) dalam Seni Rupa

Membicarakan masalah „bentuk‟ dalam seni rupa tidak dapat mengabaikan pembahasan tentang „isi‟ dalam seni rupa. Keduanya merupakan topik yang menarik untuk dibahas karena keduanya adalah komponen seni yang tidak dapat dipisahkan. Setiap seni pada hakekatnya terdiri dari dua komponen tersebut. Herbert Read menamakan komponen „isi‟ dalam karya seni rupa sebagai ideoplastis, sedangkan komponen „bentuk‟ dalam karya seni rupa disebut fisioplastis. Ideoplastis merupakan komponen seni yang bersifat rohaniah yang berasal dari diri seniman itu sendiri, berupa pengalaman estetik, pendapat, emosi, ide dan imajinasi/fantasi yang bersifat non inderawi. Ada pula yang menamakan unsur ideoplastis sebagai „nilai ekstrinsik‟ yaitu ide-ide yang tersusun didalam pemikiran atau gagasan yang mendasari suatu ciptaan dan tema. Sedangkan fisioplastis disebut juga nilai intrinsik yaitu unsur fisik dari karya seni itu sendiri yang bersifat inderawi dan menyangkut masalah teknis dan unsur-unsur rupa seperti, garis, warna, tekstur, bidang dan unsur seni lainnya yang bersifat visual.

Tinjauan terhadap „isi‟ dan „bentuk‟ akan menghantar Anda mengenali perbedaan sikap dalam penciptaan dan penghayatan karya seni khususnya seni murni oleh seniman. Ada seniman yang lebih menekankan aspek „bentuk‟ daripada aspek „isi‟, sehingga penafsiran isi seni diserahkan pada subjek penikmat mau dimaknai apa saja. Dengan demikian aspek „isi‟ dapat menekankan hal yang berbeda-beda. Sebagai contoh karya-karya lukis abstrak yang lebih mengutamakan segi komposisi dari warna, bentuk dan tekstur. Subjek penikmat bebas menafsirkan maknanya. Sebaliknya ada seniman yang sangat jelas ingin menyampaikan „isi‟ seni melalui medium apa saja, asal „isi‟ dapat disampaikan dan tidak disalahtafsirkan oleh subjek penikmat seni.

Kecenderungan estetik visual seperti ini dapat dijumpai pada karya lukis bergaya
„representatif‟ seperti karya lukis naturalis dan realis yang menampilkan realitas objektif bentuk seni yang isinya mudah dipahami dan tidak butuh penafsiran.

Sumarjo (2000: 120) dalam bukunya yang berjudul Filsafat Seni menyatakan bahwa para seniman pemuja „isi‟ dalam seni sering disebut sebagai kaum philistine, sedangkan para seniman pemuja bentuk (estetik) dinamai kaum formalis. Setiap karya yang mengandung nilai sosial-politik akan dinilai berbobot tinggi oleh kaum philistine. Sementara kaum formalis tidak pernah peduli pada apa isi atau tema yang dibicarakan oleh sebuah karya seni. Mereka hanya peduli pada penciptaan karya yang mengagumkan dan menarik dengan unsur medium seni yang baru dan segar, cara membentuk struktur visual, cara menyusun komposisi karya serta menciptakan kekompleksitasan dan kesederhanaan. Sementara kaum philistin berpandangan bahwa seni harus berguru pada kehidupan nyata dan berperan dalam kehidupan sosial budaya. Pemuja „isi‟ cenderung sedikit mengabaikan nilai estetis seni demi mengejar nilai-nilai lainnya. Adanya kedua kecenderungan ini tidak perlu diperdebatkan karena baik „isi‟ maupun „bentuk‟ keduanya merupakan syarat utama penciptaan sebuah karya seni. Penikmat karya seni diberi kebebasan untuk menikmati dan mengapresiasi karya seni dari sudut pandang yang mana.

2)    Bentuk Bermakna dan Bentuk Representasi

Banyak pendapat mengatakan bahwa seni yang dipandang bermutu adalah seni yang dapat memperkaya kehidupan seseorang dengan pengalaman emosi yang spesifik (emosi estetik), pengalaman kognisi dan pengalaman keindahan yang tidak diperoleh dalam kehidupan sehari-hari. Kualitas seni yang demikian oleh Clive Bell, disebut significant form (bentuk bermakna). Tidak semua karya seni yang indah secara otomatis memiliki bentuk yang bermakna. Bentuk dari sebuah karya seni dikatakan bermakna jika memberi pengalaman seni/estetik yang mampu membangkitkan gejolak emosi estetik melalui kualitas bentuk, garis, warna, irama dan teksturnya benar-benar baru, segar, unik dan khas yang menyatu dengan karya seni. Pengalaman emosi estetik murni yang ditimbulkannya bebas dari pengalaman emosi sehari-hari atau emosi patriotis, atau emosi kemegahan.

Bentuk yang bermakna adalah bentuk yang bebas dari konteks kehidupan sehari- hari, sosial dan budaya. Kualitas bentuk semacam ini dapat ditemui pada karya- karya seni rupa berciri abstrak transendental (non-representasi) yang mampu menggerakan emosi secara estetik. Sebagai contoh, bentuk bermakna yang terdapat pada lukisan yang berjudul Abstrak karya Heyi Ma‟mun (1990). Keindahan komposisi bidang yang tumpang tindih tak beraturan dipadukan dengan sapuan warna merah, hitam putih yang berlapis menghasilkan komposisi yang selaras dan artistik. Demikian pula dengan karya Achmad Sadali yang berjudul Gunung Emas (1981) menampilkan komposisi bentuk geometris yang merepresentasikan keindahan transendental subjektif dari komposisi warna emas, merah dan biru yang tampak kontras di atas bidang kanvas berwarna hitam.

Sementara karya seni yang bentuknya hanya memberi pengalaman emosi yang sudah biasa kita kenal dalam kehidupan sehari-hari maka karya seni tersebut bukanlah karya seni yang mengandung bentuk yang bermakna. Karya seni yang semacam ini oleh Clive Bell disebut sebagai karya seni dengan bentuk representasi yang mudah dipahami karena memberikan informasi dengan emosi tertentu yang merepresentasi berbagai objek nyata/konkrit.

3)    Bentuk Mimesis dan Bentuk Imajinatif

Pertanyaan klasik yang sering muncul dalam perdebatan seni dan estetika sejak zaman Yunani kuno adalah permasalahan filosofi seni terkait apa yang dihadirkan dalam sebuah karya seni, apakah seni menghadirkan kenyataan fisikal, spiritual, mental atau sosial seperti apa adanya atau menghadirkan sesuatu dibalik kenyataan tersebut?

Untuk dapat memahami dan menjawab pertanyaan tersebut Anda perlu mengetahui pandangan dari filsuf Yunani kuno Plato dan Aristoteles yang mencetuskan munculnya teori mimesis. Plato berpendapat bahwa seorang pelukis yang melukis meja sebenarnya ia meniru (mimesis) meja (kenyataan) yang meniru ide meja yang ada didunia keabadian yang mutlak-universal. Meja hanya mengacu pada bentuk luar belaka, sesuatu yang mati, yang dapat dihidupkan dalam seni melalui kekuatan seniman. Seni harus merupakan ekspresi bentuk esensial dari alam kebaikan dan keindahan (Plato dalam Sumardjo, 2000).
Aristoteles dalam hal ini agak berbeda pandangan terkait konsep mimesis. Ia berpandangan bahwa seni tidak semata-mata meniru realitas objektif seperti pantulan gambar pada cermin, akan tetapi pada proses peniruan ini terdapat proses kontemplasi dan meditasi yang kompleks atas kenyataan alam. Aristoteles dan Plato sependapat bahwa seniman bertugas menemukan hal-hal yang general dan universal dari suatu objek alam. Seni menghadirkan peristiwa atau kenyataan faktual dan partikular (khusus) tetapi dibalik itu seniman harus dapat menunjukkan ciri-ciri general dan universal yang berlaku zaman apapun dan dimanapun (Ibid:129-130).

Kaum filsuf Romantik Eropa juga berpendapat bahwa dunia yang tampak adalah objek yang tak jiwa. Vitalitas intelek senimanlah yang sanggup menghidupkan objek-objek mati melalui kedalaman penghayatan dan ketinggian dunia ide atau imajinasinya. Sikap berkesenian semacam ini disebut sebagai sikap kaum imajiner (idealisme) yang berpandangan bahwa kenyataan dalam seni itu berbeda dengan kenyataan alamiah. Seni itu bukan meniru alam atau realitas objektif semata-mata, Dalam diri seniman ada potensi intelektual yang bekerja untuk mengorganisasikan secara mental sesuatu di luar dirinya. Jadi ada kontruksi mental didalam objek yang mati (Ibid: 128-129).

Jalur pemikiran kaum Romantik ini melahirkan „konsep seni untuk seni‟, Seniman dituntut menciptakan dunia khayal atau fiksi yang tinggi. Di dunia khayal ini kita tidak pernah mampu melihat kenyataan objektif seperti apa adanya. Seni bukan sekedar representasi dunia eksternal apa adanya atau pelarian dari dunia nyata sekedar memasuki dunia transendental. Seni itu suatu sudat pandang baru yang segar, suatu rekonstruksi terhadap kesadaran manusia atau kenyataan hidup objektif yang apa adanya (Ibid:129).
Bersumber dari kedua pandangan estetika seni yang berlawanan inilah muncul penciptaan karya seni dengan ekspresi bentuk mimesis dan bentuk imajinasi. Karya seni rupa dengan ekspresi bentuk mimesis bisa dilihat pada karya seni lukis dan seni patung bergaya naturalis dan realis. Untuk lebih jelas, Anda cermati beberapa contoh berikut ini

Kecenderungan bentuk imajinasi dapat dilihat pada karya seni lukis dan seni patung yang bergaya surealis, dekoratif, kubistis dan abstrak. Bentuk imajinasi juga terdapat pada gambar ragam hias yang dibuat dengan teknik deformasi dan stilasi. Untuk memperoleh gambaran yang lebih jelas silahkan Anda mencari referensi belajar melalui berbagai referensi online.




source: modul pppk seni rupa

Baca Juga

Bagikan Artikel



Komentar