Pengertian Dan Klasifikasi Tujuan Pembelajaran Berdasarkan Taksonomi bloom


Taksonomi bloom
Taksonomi bloom



A.  PENGERTIAN TUJUAN PEMBELAJARAN 

 
     Banyak pengertian yang diberikan para ahli pembelajaran tentang tujuan pembelajaran, yang satu sama lain memiliki kesamaan di samping ada perbedaan sesuai dengan sudut pandang garapannya. Robert F. Mager (1962) misalnya memberikan pengertian tujuan pembelajaran sebagai perilaku yang hendak dicapai atau yang dapat dikerjakan oleh siswa pada kondisi dan tingkat kompetensi tertentu. Pengertian kedua dikemukakan oleh Edwar L. Dejnozka dan David E. Kapel (1981), juga Kemp (1977) yang memandang bahwa tujuan pembelajaran adalah suatu pernyataan yang spesifik yang dinyatakan dalam perilaku atau penampilan yang diwujudkan dalam bentuk tulisan untuk menggambarkan hasil belajar yang diharapkan. Perilaku ini dapat berupa fakta yang konkret serta dapat dilihat dan fakta yang tersamar. Definisi ketiga dikemukakan oleh Fred Percival dan Henry Ellington (1984) yakni tujuan pembelajaran adalah suatu pernyataan yang jelas dan menunjukkan penampilan atau keterampilan siswa tertentu yang diharapkan dapat dicapai sebagai hasil belajar. Dari definisi di atas dapat disimpulkan bahwa ketiganya mempunyai pendapat yang sama karena unsur-unsur yang dipakai untuk merumuskan definisi dan cara perumusannya sama.
    Menurut wina sanjaya dan andi budimanjaya(2017:85) Tujuan pembelajaran atau yang disebut juga dengan tujuan instruksional (instructional objectives), merupakan perilaku yang hendak dicapai atau yang dapat dikerjakan oleh siswa pada kondisi dan tingkat kompetensi tertentu. Ada dua jenis tujuan pembelajaran yakni tujuan pembelajaran umum dan tujuan pembelajaran khusus. Bentuk perilaku yang dirumuskan dalam Tujuan Pembelajaran Umum (TPU) biasanya perilaku yang masih bersifat umum yang melibatkan scope dan sequence yang luas dalam bahan pembelajaran tertentu sehingga bentuk perilaku yang dirumuskan belum operasional yang tidak dapat diobservasi pada waktu setelah proses pembelajaran berakhir; Tujuan Pembelajaran Khusus (TPK) atau yang sering diistilahkan dengan instructional objectives adalah sebuah pernyataan yang menggambarkan bentuk perilaku terukur yang harus dicapai oleh siswa setelah mereka mengikuti satu bentuk pengalaman belajar tertentu. Dalam rumusan yang lengkap, ada empat komponen pokok yang harus tampak dalam rumusan TPK seperti yang digambarkan dalam pertanyaan berikut: 1. Siapa yang belajar atau yang diharapkan dapat mencapai tujuan atau mencapai hasil belajar itu? 2. Tingkah laku atau hasil belajar yang bagaimana yang diharapkan dapat dicapai itu? 3. Dalam kondisi yang bagaimana hasil belajar itu dapat ditampilkan 4. Seberapa jauh hasil belajar itu bisa diperoleh?

B.  KLASIFIKASI TUJUAN PEMBELAJARAN

Tujuan pembelajaran biasanya diarahkan pada salah satu kawasan dari taksonomi. Benyamin S. Bloom dan D. Krathwohl (1964) dalam bukunya ‘the taxonomy of educational objectives;  the classification of educational goal’,  memilah taksonomi pembelajaran dalam tiga ranah, yakni  (1) kognitif, (2) afektif, dan (3) psikomotor

1. Kognitif

kognitif adalah ranah yang membahas tujuan pembelajaran berkenaan  dengan kemampuan intelektual dan kemampuan berfikir. Seperti kemampuan mengingat dan menyelesaikan tugas, berawal dari tingkat pengetahuan sampai ke tingkat yang lebih tinggi yakni evaluasi. Kawasan kognitif ini terdiri atas 6 (enam) tingkatan yang secara hierarkis berurut dari yang paling rendah (pengetahuan) sampai ke yang paling tinggi (evaluasi) dan dapat dijelaskan sebagai berikut
a. Pengetahuan (Knowledge)
Pengetahuan di sini diartikan kemampuan seseorang dalam menghafal atau mengingat kembali atau mengulang kembali pengetahuan yang pernah diterimanya. Contoh 1) Siswa dapat menyebutkan kembali bangun-bangun geometri yang berdimensi tiga. 2) Siswa dapat menggambarkan satu buah segitiga sembarang.
b. Pemahaman (Comprehension)
Pemahaman di sini diartikan kemampuan seseorang dalam mengartikan menafsirkan, menerjemahkan atau menyatakan sesuatu dengan caranya sendiri tentang pengetahuan yang pernah diterimanya. Contoh 1) Siswa dapat menjelaskan dengan kata-katanya sendiri tentang perbedaan bangun geometri yang berdimensi dua dan berdimensi tiga 2) Siswa dapat menerjemahkan arti kode-kode (berita morse) yang dikirim oleh kapal laut yang akan berlabuh.
c. Penerapan (Application)
Penerapan di sini diartikan kemampuan seseorang dalam menggunakan pengetahuan atau mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Contoh: 1) Siswa dapat menentukan salah satu sudut dari suatu segitiga jika diketahui sudut-sudut lainnya. 2) Siswa dapat menghitung panjang sisi miring dari suatu segitiga siku siku jika diketahui sisi lainnya.
d. Analisis (Analysis)
Penerapan di sini diartikan kemampuan seseorang dalam menggunakan pengetahuan dalam memecahkan berbagai masalah yang timbul dalam kehidupan sehari-hari. Contoh: 1) Siswa dapat mengolah data mentah melalui statistika, sehingga dapat diperoleh harga-harga range, interval kelas, panjang kelas, rata-rata dan standar deviasinya. 2) Siswa dapat menganalisis sejauh mana dalam dan luasnya pembahasan diskusi yang mereka laksanakan.
e. Sintesis (Synthesis)
Sintesis di sini diartikan kemampuan seseorang dalam mengaitkan dan menyatukan berbagai elemen dan unsur pengetahuan yang ada sehingga terbentuk pola baru yang lebih menyeluruh. Contoh: 1) Siswa dapat menyusun rencana belajar masing-masing sesuai dengan 2) kebijakan yang berlaku di sekolah. Siswa dapat mengemukakan formula baru dalam menyelesaikan suatu masalah
f. Evaluasi (Evaluation)
Evaluasi di sini diartikan kemampuan seseorang dalam membuat perkiraan atau penilaian pada keputusan yang tepat berdasarkan kriteria atau pengetahuan yang dimilikinya. Contoh: 1 Siswa dapat menilai unsur kepadatan isi, cakupan materi, kualitas analisis dan gaya bahasa yang dipakai oleh seorang penulis makalah tertentu. 2) Siswa dapat menilai kualitas kemampuan pemikiran temannya berdasarkan kemampuan dirinya.

2. Afektif

  Ranah afektif sangat terkait dengan sikap, emosi, penghargaan dan penghayatan atau apresiasi terhadap nilai, norma, dan sesuatu yang sedang dipelajari.
  lima hierarki dalam ranah afektif, yaitu menerima, merespon, memberi nilai, mengorganisasi, dan memberi karakter terhadap suatu nilai.
• Menerima adalah kemampuan untuk memberi perhatian terhadap sebuah aktivitas atau peristiwa yang dihadapi.
• Merespon merupakan pemberian reaksi terhadap terhadap suatu aktivitas dengan cara melibatkan diri atau berpartisipasi di dalamnya.
• Memberi nilai sangat terkait dengan tindakan menerima atau menolak nilai atau norma yang dihadapi melalui sebuah ekspresi berupa sikap positif atau negatif.
• Mengorganisasi berarti mengidentifikasi, memilih, dan memutuskan nilai atau norma yang akan diaplikasikan.
• Memberi karakter terhadap nilai berarti meyakini, mempraktekkan, dan menunjukkan perilaku yang konsisten terhadap nilai dan norma yang dipelajari.

3. psikomotor

   psikomotor meliputi semua tingkah laku yang menggunakan saraf dan otot badan. Aspek ini sering berhubungan dengan bidang studi yang lebih banyak menekankan kepada gerakan-gerakan atau keterampilan, misalnya seni lukis, pendidikan jasmani dan olah raga.
     Psikomotor adalah tujuan yang berhubungan dengan kemampuan keterampilan atau skill seseorang. 
  Ranah psikomotor terdiri atas empat hirarki kemampuan, yaitu imitasi, manipulasi, presisi, dan artikulasi.
Imitasi adalah kemampuan mempraktekkan keterampilan yang diamati. Sedangkan manipulasi sangat terkait dengan kemampuan dalam memodifikasi suatu keterampilan. Presisi merupakan hierarki kemampuan yang memperlihatkan kecakapan dalam melakukan aktivitas dengan tingkat akurasi yang tinggi , Artikulasi merupakan kemampuan melakukan aktivitas secara terkoordinasi dan efisien.






----------------------------------------------------
Sumber
Hamzah b. Uno, perencanaan pembelajaran, (jakarta; bumi aksara, 2010)
Wina sanjaya & andi budimanjaya,  paradigma baru mengajar, (jakarta; kancana, 2017)
Benny a. Pribadi,  model desain sistem pembelajaran, (jakarta; dian rakyat, 2009)

Baca Juga

Bagikan Artikel



Komentar