Pengelolaan Kelas


Pengertian Pengelolaan Kelas
Pengertian Pengelolaan Kelas 


A. PENGERTIAN PENGELOLAAN KELAS


            Kelas merupakan suatu kelompok orang yang melakukan aktivitas belajar secara bersama-sama, dengan bimbingan dan pengajaran dari guru. Pengertian ini jelas meninjaunya dari segi anak didik, karena dalam pengertian tersebut ada frase "kelompok orang". Pendapat ini sejalan dengan pendapat Suharsimi Arikunto yang mengemukakan pengertian kelas dari segi anak didik. Lebih mendalam Suharsimi Arikunto mengatakan: di dalam didaktik terkandung suatu pengertian umum mengenai kelas, yaitu sekelompok siswa yang pada waktu yang sama menerima pelajaran yang sama dari guru yang sama.

1. Menurut MJ Cooper

Ada 5 (lima) pengertian pengelolaan kelas yang dihimpun oleh MJ Cooper (1977) dengan menggunakan berbagai sudut pandang (lalu Muhammad Azhar:1993):
a.  Pengelolaan kelas dipandang sebagai proses untuk mengontrol tingkah laku siswa. Pandangan ini bersifat otoritatif hingga secara lebih khusus dikatakannya bahwa "Pengelolaan kelas adalah separangkat kegiatan guru untuk menciptakan dan mempertahankan ketertiban suasana kelas".
b. Definisi yang kedua adalah definisi yang dipandangnya bersifat permisif. "Pengelolaan kelas adalah seperangkat kegiatan guru untuk memaksimalkan kebebasan siswa".
c. Pandangan ke-3 didasarkan pada prinsip pengubahan tingkah laku siswa hingga dalam hal ini guru dituntut untuk mengembangkan tingkah laku murid yang 'diinginkan' kemudian 'menghilangkan/mengurangi' yang tidak diinginkan. Pandangan ini berpendapat bahwa "Pengelolaan kelas adalah seperangkat kegiatan guru untuk mengembangkan tingkah laku siswa yang diinginkan dan mengurangi atau meniadakan tingkah laku yang tidak diinginkan."
d. Definisi ke-4 memandang pengelolaan kelas sebagai proses penciptaan iklim sosio-emosional yang positif di dalam kelas hingga definisinya berbunyi: "Pengelolaan kelas ialah seperangkat kegiatan guru untuk mengembangkan hubungan interpersonal yang baik dan iklim sosio-emosional kelas yang positif.
e. Pandangan yang ke-5 bertolak dari anggapan bahwa kelas merupakan sistem sosial dengan proses kelompok sebagai intinya. Definisinya adalah sebagai berikut. "Pengelolaan kelas adalah seperangkat kegiatan guru untuk menumbuhkan dan mempertahankan organisasi kelas yang efektif”.
          Dari lima pandangan tersebut yang ke-1 dan ke-2 dipandang kurang efektif dan kurang bertanggungjawab Pandangan otoritatif kurang manusiawi sedang pandangan permisif kurang realistik. Selanjutnya Cooper mengungkapkan bahwa pandangan ke-3,4 dan 5 tidak satu pun yang pernah dapat dibuktikan sebagai pandangan yang terbaik sehingga diharapkan agar guru mampu membentuk pandangan yang bersifat lebih pluralistik yang merangkum tiga dasar pandangan itu. Cooper membuat definisi sebagai berikut: "Pengelolaan kelas ialah seperangkat kegiatan untuk mengembangkan tingkah laku siswa yang diinginkan dan mengurangi atau meniadakan tingkah laku yang tidak diinginkan, mengembangkan hubungan interpersonal dan iklim sosio-emosional yang positif, serta mengembangkan dan mempertahankan organisasi kelas yang efektif dan produktif.

2. menurut made pidarta dengan mengutip pendapat Lois V. Johnson dan Mary A. Bany, bahwa pengelolaan kelas adalah proses seleksi dan penggunaan alat-alat yang tepat terhadap problema dan situasi kelas. Dalam hal ini guru bertugas menciptakan, mempertahankan dan memelihara sistem/organisasi kelas. Sehingga individu siswa dapat memanfaatkan kemampuannya, bakatnya dan energinya pada tugas-tugas individual.

3. Sedangkan menurut Sudirman N, dkk (1991; 310),pengelolaan kelas adalah upaya mendayagunakan potensi kelas.

4. Hadari Nawawi(1989; 115) dengan mengatakan bahwa kegiatan manajemen atau pengelolaan kelas dapat diartikan sebagai kemampuan guru atau wali kelas dalam mendayagunakan potensi kelas berupa pemberian kesempatan yang seluas-luasnya pada setiap personal untuk melakukan kegiatan-kegiatan yang kreatif dan terarah sehingga waktu dan dana yang tersedia dapat dimanfaatkan secara efisien untuk melakukan kegiatan-kegiatan kelas yang berkaitan dengan kurikulum dan perkembangan murid.

5. Suharsimi Arikunto (1988;67) juga berpendapat bahwa pengelolaan kelas adalah suatu usaha yang dilakukan oleh penanggung jawab kegiatan belajar mengajar atau membantu dengan maksud agar dicapai kondisi optimal. sehingga dapat terlaksana kegiatan belajar seperti yang diharapkan. Suharsimi memahami pengelolaan kelas ini dari dua segi yaitu pengelolaan yang menyangkut siswa, dan pengelolaan fisik (ruangan, perabot, alat pelajaran). Menurutnya membuka jendela agar udara segar dapat masuk ke ruangan atau agar ruangan menjadi terang, menyalakan lampu listrik, menggeser papan tulis, mengatur meja, merupakan kegiatan pengelolaan kelas fisik.

6. Menurut Syaiful Bahri djamarah & aswan Zain, (2002;198) pengelolaan kelas adalah suatu usaha yang dengan sengaja dilakukan guna mencapai tujuan pengajaran. Kesimpulan yang sangat sederhana adalah, bahwa pengelolaan kelas merupakan kegiatan pengaturan kelas untuk kepentingan pengajaran. Pengertian lain dari pengertian pengelolaan kelas adalah ditinjau dari paham lama yaitu mempertahankan ketertiban kelas.

7. Menurut Ahmad rohani (2004; 123) pengelolaan kelas menunjuk kepada kegiatan-kegiatan yang menciptakan dan mempertahankan kondisi yang optimal bagi terjadinya proses belajar (pembinaan "raport",penghentian tingkah laku peserta didik yang menyelewengkan perhatian kelas, pemberian ganjaran bagi ketepatan waktu penyelesaian tugas oleh penetapan norma kelompok yang produktif, dan sebagainya).
          Dengan demikian pengelolaan kelas adalah kemampuan guru untuk menciptakan dan menjaga kondisi belajar yang optimal dan mengendalikannya bila terjadi hal-hal yang dapat mengganggu suasana pembelajaran.

B. TUJUAN PENGELOLAAN KELAS


            Menurut Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Djain tujuan pengelolaan kelas adalah: penyediaan fasilitas bagi bermacam-macam kegiatan belajar siswa dalam lingkungan sosial, emosional, dan intelektual di kelas. Sedangkan Suharsimi Arikunto mengemukakan bahwa tujuan pengelolaan kelas adalah agar setiap anak di kelas dapat bekerja dengan tertib sehingga segera tercapai tujuan pengajaran secara efektif dan efisien. Menurutnya, sebagai indikator dari sebuah kelas yang tertib adalah apabila

1) Setiap anak terus bekerja, tidak macet, artinya tidak ada anak yang terhenti karena tidak tahu ada tugas yang harus dilakukan atau tidak dapat melakukan tugas yang diberikan kepadanya.

2) Setiap anak terus melakukan pekerjaan tanpa membuang waktu, artinya setiap anak akan bekerja secepatnya supaya lekas menyelesaikan tugas yang diberikan kepadanya. Apabila ada anak yang walaupun tahu dan dapat melaksanakan tugasnya, tetapi mengerjakannya kurang bergairah dan mengulur waktu bekerja, maka kelas tersebut dikatakan tidak tertib.

C. PENDEKATAN DALAM PENGELOLAAN KELAS


           Sebagai pekerja profesional, seorang guru harus mendalami kerangka acuan pendekatan-pendekatan kelas, sebab di dalam penggunaannya ia harus terlebih dahulu meyakinkan bahwa pendekatan yang dipilihnya untuk menangani suatu kasus pengelolaan kelas merupakan alternatif yang terbaik sesuai dengan hakikat masalahnya Artinya seorang guru terlebih dahulu harus menetapkan bahwa penggunaan suatu pendekatan memang cocok dengan hakikat masalah yang ingin ditanggulangi. Ini tentu tidak dimaksudkan untuk mengatakan bahwa seorang guru akan berhasil baik setiap kali ia menangani kasus pengelolaan kelas. Sebaliknya, keprofesionalan cara kerja seorang guru adalah demikian sehingga apabila alternatif tindakannya yang pertama tidak memberikan hasil sebagaimana yang diharapkan, maka ia masih mampu melakukan analisis ulang terhadap situasi untuk kemudian tiba pada alternatif pendekatan yang kedua, dan seterusnya.
           Lahirnya interaksi yang optimal tentu saja bergantung dari pendekatan yang guru lakukan dalam rangka pengelolaan kelas. Berbagai pendekatan tersebut adalah seperti dalam uraian berikut:

1. Pendekatan kekuasaan

          Pengelolaan kelas diartikan sebagai suatu proses untuk mengontrol tingkah laku anak didik. Peranan guru di sini adalah menciptakan dan mempertahankan situasi disiplin dalam kelas. Kedisiplinan adalah kekuatan yang menuntut kepada anak didik untuk menaatinya. Di dalamnya ada kekuasaan dalam norma yang mengikat untuk ditaati anggota kelas, Melalui kekuasaan dalam bentuk norma itulah guru mendekatinya

2. Pendekatan Ancaman

          Dari pendekatan ancaman atau intimidasi ini, pengelolaan kelas adalah juga sebagai suatu proses untuk mengontrol tingkah laku anak didik. Tetapi dalam mengontrol tingkah laku anak didik dilakukan dengan cara memberikan ancaman misalnya melarang. ejekan, sindiran, dan memaksa.

3. Pendekatan kebebasan

           Pengelolaan diartikan sebagai suatu proses untuk membantu anak didik agar merasa bebas untuk mengerjakan sesuatu kapan saja dan di mana saja. Peranan guru adalah mengusahakan semaksimal mungkin kebebasan anak didik.

4.  Pendekatan Resep

            Pendekatan resep (cook book) ini dilakukan dengan memberi satu daftar yang dapat menggambarkan apa yang harus dan apa yang tidak boleh dikerjakan oleh guru dalam mereaksi semua masalah atau situasi yang terjadi di kelas. Dalam daftar itu digambarkan tahap demi tahap apa yang harus dikerjakan oleh guru. Perasan guru hanyalah mengikuti petunjuk seperti yang tertulis dalam resep.

5. Pendekatan Pengajaran

          Pendekatan ini didasarkan atas suatu anggapan bahwa dalam suatu perencanaan dan pelaksanaan akan mencegah munculnya masalah tingkah laku anak didik, dan memecahkan masalah itu bila tidak bisa dicegah Pendekatan ini mengajarkan tingkah laku guru dalam mengajar untuk mencegah dan menghentikan tingkah laku anak didik yang kurang baik. Peranan guru adalah merencanakan dan mengimplementasikan pelajaran yang baik.

6. Pendekatan perubahan tingkah laku (behavior modification approach)

           Sesuai dengan namanya, pengelolaan kelas diartikan sebagai suatu proses untuk mengubah tingkah laku anak didik. Peranan guru adalah mengembangkan tingkah laku anak didik yang baik, dan mencegah tingkah laku yang kurang baik.
           Pendekatan ini bertolak dari psikologi behavioral yang mengemukakan asumsi bahwa (1) semua tingkah laku, yang "baik" maupun "yang kurang baik" merupakan hasil proses belajar, dan (2) ada sejumlah kecil proses psikologi yang fundamental yang dapat digunakan untuk menjelaskan terjadinya proses belajar yang dimaksud. Ada pun proses psikologi yang dimaksud adalah penguatan positif (positive reinforcement), hukuman, penghapusan (extinction), dan penguatan negatif(negative reinforcement).
           Untuk membina tingkah laku yang dikehendaki guru harus memberi penguatan positif (memberi stimulus positif sebagai ganjaran)atau penguatan negatif (menghilangkan hukuman, suatu stimulus negatif). Sedangkan untuk mengurangi tingkah laku yang tidak dikehendaki, guru menggunakan hukuman (memberi stimulus negatif),penghapusan (pembatalan pemberian ganjaran yang sebenarnya diharapkan peserta didik) atau time out (membatalkan kesempatan peserta didik untuk memperoleh ganjaran, baik yang berupa "barang" maupun yang berupa kegiatan yang disenanginya)
          Penguatan ini sendiri ada dua macam, yaitu penguatan primer(primary or unconditioned reinforces yang menjadi penguat tanpa dipelajari seperti makanan, air, kehangatan badaniah, dan sebagainya),dan penguatan sekunder (secondary or conditioned reinforcersyang menjadi penguat sebagai hasil proses belajar). Penguat sekunder ini ada yang dinamakan penguatan sosial (perhatian, pujian, dan sebagainya) dan ada pula yang dinamakan penguatan simbolik (nilai, puji, atau tanda-tanda penghargaan lainnya) di samping ada pula yang dinamakan penguatan dalam bentuk kegiatan (permainan atau kegiatan lain yang disenangi peserta didik). Dari segi waktu pemberiannya dapat dibedakan penguatan yang diberikan secara terus-menerus(diberikan setiap kali terjadi perbuatan "baik") atau dapat pula diberikan secara intermittent yaitu setelah jangka waktu tertentu (interval schedule), misalnya setiap pagi sebelum pelajaran dimulai atau setiap sekian kali perbuatan "baik" terjadi (ratio schedule), misalnya setiap tiga kali peserta didik datang ke sekolah dengan kuku bersih. Akhirnya patut pula dicatat bahwa proses penguatan itu bersifat idiosinkratik :makna suatu penguat sangat tergantung pada si pemberi dan sipenerima secara unik. Apa yang oleh seorang peserta didik dianggap sebagai penguat bagi peserta didik lain belum tentu disikapi selalu demikian
             Hukuman merupakan sarana pengelolaan kelas yang kontroversial. Sebagian menganggap bahwa hukuman merupakan alat yang efektif untuk dengan segera menghentikan tingkah laku yang tidak dikehendaki di samping sekaligus bisa merupakan suri tauladan bagi peserta didik lain karena secara tegas mendefinisikan tingkah laku yang tidak dikehendaki, akan tetapi akibat sampingannya bisa serius Misalnya, hubungan pribadi antara guru (penghukum) dan peserta didik(terhukum) dapat terganggu peserta didik (terhukum dan mungkin juga yang lain) mungkin menggeneralisasikan tingkah laku yang dihukum, misalnya peserta didik kapok mengemukakan pendapat atau peserta didik yang dihukum justru menjadi "pahlawan" di mata kawan-kawannya.

7. Pendekatan Suasana Emosi dan Hubungan Sosial (Socio emotional climate approach)

       Pendekatan pengelolaan kelas berdasarkan suasana perasaan dan suasana sosial (socio-emotional climate approach) di dalam kelas sebagai sekelompok individu cenderung pada pandangan Psikologi Klinis dan Konseling (penyuluhan). Menurut pendekatan ini pengelolaan kelas merupakan suatu proses menciptakan iklim atau suasana emosional dan hubungan sosial yang positif dalam kelas. Suasana emosional dan hubungan sosial yang positif, artinya, ada hubungan yang baik yang positif antara guru dengan anak didik, atau antara anak didik dengan anak didik.
         terdapat dua asumsi pokok yang dipergunakan dalam pengelolaan kelas sebagai berikut.

a. Iklim sosial dan emosional yang baik adalah dalam arti terdapat hubungan interpersonal yang harmonis antara guru dengan guru, guru dengan siswa, dan siswa dengan siswa, merupakan kondisi yang memungkinkan berlangsungnya proses belajar mengajar yang efektif. Asumsi ini mengharuskan seorang wali/guru kelas berusaha menyusun program kelas dan pelaksanaannya yang didasari oleh hubungan manusiawi yang diwarnai sikap saling menghargai dan saling menghormati antar-personal di kelas. Setiap personal diberi kesempatan untuk ikut serta dalam kegiatan kelas sesuai dengan kemampuan masing-masing sehingga timbul suasana sosial dan emosional yang menyenangkan pada setiap personal dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawab masing-masing.

b. Iklim sosial dan emosional yang baik tergantung pada guru dalam usahanya melaksanakan kegiatan belajar mengajar, yang disadari dengan hubungan manusiawi yang efektif. Dari asumsi ini berarti dalam pengelolaan kelas seorang wali/guru kelas harus berusaha mendorong guru-guru agar mampu dan bersedia mewujudkan hubungan manusiawi yang penuh saling pengertian, hormat menghormati dan saling menghargai. Guru harus didorong menjadi pelaksana yang berinisiatif dan kreatif serta selalu terbuka pada kritik. Di samping itu berarti juga guru harus mampu dan bersedia mendengarkan pendapat, saran, gagasan dan lain-lain dari siswa sehingga pengelolaan kelas berlangsung dinamis.

Sejumlah ahli yang menganjurkan pendekatan ini
       Carl A. Rogers menekankan pentingnya guru bersikap tulus dihadapan peserta didik (realness, genuineness, and congruence) menerima dan menghargai peserta didik sebagai manusia (accepttance, prizing, caring, dan trust), dan mengerti peserta didik dari sudut pandangan peserta didik sendiri (emphatio understanding).
        Helm C. Ginott menganggap sangat penting kemampuan guru melakukan komunikasi yang efektif dengan peserta didik dalam arti mengusahakan pemecahan masalah, guru membicarakan situasi, dan bukan pribadi pelaku pelanggaran, mendeskripsikan apa yang ia lihat dan rasakan; dan mendeskripsikan apa yang perlu dilakukan sebagai alternatif penyelesaian.
       William Glasser memusatkan perhatiannya pada pentingnya guru membina rasa tanggung jawab sosial dan harga diri peserta didik dengan cara setiap kali mengarahkan peserta didik untuk mendeskripsikan masalah yang dihadapi, membantu peserta didik menganalisis dan menilai masalah tersebut; membantu peserta didik menyusun rencana pemecahan; mengarahkan peserta didik agar comitted terhadap rencana yang telah dibuat, memberikan kesempatan kepada peserta didik, kalau perlu, menanggung akibat "kurang menyenangkan" daripada perbuatannya dan membantu peserta didik membuat rencana penyelesaian baru yang lebih baik.
        Rudolf Dreikurs menekankan pentingnya proses suasana dalam kelas yang demokratis (democratic classroom processes) dalam mana peserta didik diajar bertanggung jawab, melalui kesempatan memikul tanggung jawab, diperlakukan sebagai manusia yang dapat secara bijaksana mengambil keputusan di samping diberi kesempatan menanggung konsekuensi perbuatannya sendiri.

8. Pendekatan proses kelompok (group processes approach)

       Pengelolaan kelas diartikan sebagai suatu proses untuk menciptakan kelas sebagai suatu sistem sosial, di mana proses kelompok merupakan yang paling utama. Peranan guru adalah mengusahakan agar perkembangan dan pelaksanaan proses kelompok itu efektif. Proses kelompok adalah usaha guru mengelompokkan anak didik ke dalam beberapa kelompok dengan berbagai pertimbangan individual sehingga tercipta kelas yang bergairah dalam belajar. Dasar dari Grup-process Approuch ini adalah psikologi sosial dan dinamis kelompok yang mengetengahkan dua asumsi sebagai berikut
a. Pengalaman belajar di sekolah bagi siswa berlangsung dalam konteks kelompok sosial. Asumsi ini mengharuskan wali/guru kelas dalam pengelolaan kelas selalu mengutamakan kegiatan yang dapat mengikutsertakan seluruh personal di kelas. Dengan kata lain, kegiatan kelas harus diarahkan pada kepentingan bersama dan sedikit mungkin kegiatan yang bersifat individual.
b. Tugas guru terutama adalah memelihara kelompok belajar agar menjadi kelompok yang efektif dan produktif Berdasarkan asumsi ini berarti seorang wali/guru kelas harus mampu membentuk dan mengaktifkan siswa dan bahkan juga guru untuk bekerja sama dalam kelompok(group studies) harus dilaksanakan secara efektif agar hasilnya lebih baik daripada bila mana siswa belajar sehari-hari (produktif). Kegiatan guru sebagai kelompok antara lain dapat diwujudkan berupa regu mengajar (team teaching) yang bertugas membantu kelompok belajar.

         Menurut Richard A Schmuck dan Patricia A. Schmuck unsur-unsur pengelolaan kelas dalam rangka pendekatan group process adalah (1) harapan timbal balik (mutual expectation) tingkah laku guru-peserta didik dan antar peserta didik sendiri. Kelas yang baik ditandai oleh dimilikinya harapan (expectation) yang realistik dan jelas bagi semua pihak; (2) kepemimpinan baik dari guru maupun dari peserta didik yang mengarahkan kegiatan kelompok ke arah pencapaian tujuan-tujuan yang telah ditetapkan; (3) pola persahabatan (attraction) antara anggota kelas, semakin baik ikatan persahabatan yang dimaksud semakin besar peluang kelompok menjadi produktif, (4) norma, dalam arti dimiliki serta dipertahankan norma kelompok yang produktif serta diubah dan digantinya norma yang kurang produktif, (5) terjadinya komunikasi yang efektif dalam arti si penerima pesan menginterpretasikan secara benar pesan yang ingin disampaikan oleh si pengirim pesan dengan dipakainya keterampilan komunikasi interpersonal seperti paraphrasing, perception checking, dan feedback, (6) cohesiveness, yakni perasaan keterikatan masing-masing anggota terhadap kelompok, secara keseluruhan semakin tinggi derajat perasaan keterikatan maka anggota semakin memperoleh kepuasan sebagai hasil dari keanggotaannya dalam kelompok yang bersangkutan.
           Louis V. Johnson dan Mary A. Bany menggolongkan kegiatan pengelolaan kelas menjadi 2 jenis yaitu facilitation yang mencakup segala tindakan yang menciptakan iklim kerja yang produktif dan maintenance yang meliputi semua tindakan yang bertujuan memelihara iklim kerja baik, yang telah berhasil diperoleh. Kegiatan-kegiatan facilitation meliputi (1) penciptaan cohesiveness (2) penetapan standar tingkah laku (bagaimana harus antri di tempat penitipan sepeda) dan prosedur  kerja (apa yang dikerjakan bila seorang peserta didik menyelesaikan tugas mendahului teman-teman sekelas); untuk bisa efektif standar tingkah laku dan prosedur kerja yang dimaksud harus ditetapkan oleh kelompok sendiri; (3) penggunaan diskusi kelompok untuk memecahkan masalah yaitu dengan melalui tahap-tahap identifikasi masalah, analisis masalah, penilaian alternatif-alternatif pemecahan, pemilihan, dan pelaksanaan salah satu alternatif pemecahan, dan akhirnya, feedback dari hasil pelaksanaan alternatif pemecahan masalah yang dimaksud.

9. Pendekatan electis atau pluralistik

         Pendekatan electis (Electic Approach) ini menekankan pada potensialitas, kreativitas dan inisiatif wali/guru kelas dalam memilih berbagai pendekatan tersebut di atas berdasarkan situasi yang dihadapinya. Penggunaan pendekatan itu dalam suatu situasi mungkin dipergunakan salah satu dan dalam situasi lain mungkin harus mengombinasikan dua atau ketiga pendekatan tersebut di atas. Pendekatan electis disebut juga pendekatan pluralistik, yaitu pengelolaan kelas yang berusaha menggunakan berbagai macam pendekatan yang memiliki potensi untuk dapat menciptakan dan mempertahankan suatu kondisi yang memungkinkan proses belajar mengajar berjalan efektif dan efisien. Guru memilih dan menggabungkan secara bebas pendekatan tersebut sesuai dengan kemampuan dan selama maksud dari penggunaannya untuk pengelolaan kelas di sini adalah suatu set (rumpun) kegiatan guru untuk menciptakan dan mempertahankan kondisi kelas yang memberi kemungkinan proses belajar mengajar berjalan secara efektif dan efisien.
          maka seorang guru seyogianya (1) menguasai pendekatan-pendekatan pengelolaan kelas yang potensial, dalam hal ini pendekatan perubahan tingkah laku. Penciptaan iklim sosio emosional dan proses kelompok; dan (2) dapat memilih pendekatan yang tepat dan melaksanakan prosedur yang sesuai dengan baik dalam masalah pengelolaan kelas. Pada gilirannya, kemampuan guru memilih strategi pengelolaan kelas yang tepat sangat tergantung pada kemampuannya menganalisis masalah pengelolaan kelas yang dihadapinya.
         Pendekatan perubahan tingkah laku dipilih bila tujuan tindakan pengelolaan yang akan dilakukan adalah menguatkan tingkah laku peserta didik yang baik dan/atau menghilangkan tingkah laku peserta didik yang kurang baik; pendekatan penciptaan iklim sosio emosional dipergunakan apabila sasaran tindakan pengelolaan adalah peningkatan hubungan antar pribadi guru peserta didik dan antar peserta didik, sedangkan pendekatan proses kelompok dianut bila seorang guru ingin kelompoknya melakukan kegiatan secara produktif.

D. PRINSIP PRINSIP PENGELOLAAN KELAS


        Sebagai upaya memperkecil masalah gangguan dalam pengelolaan kelas, beberapa prinsip-prinsip pengelolaan kelas dapat dipergunakan sebagai berikut.

1) Hangat dan Antusias
        Suasana hangat dan antusiasme guru diperlukan dalam proses belajar mengajar. Guru yang hangat dan penuh keakraban dengan anak didik selalu menunjukkan semangat tanggung jawab dan keinginannya untuk melaksanakan tugasnya depan guru dengan sebaik-baiknya, hal ini akan berhasil dalam mengimplementasikan pengelolaan kelas.

2)  Tantangan
          Tantangan dapat diberikan kepada siswa dengan menggunakan kata-kata, tindakan, cara kerja atau bahan-bahan dalam rangka meningkatkan gairah anak didik untuk belajar sehingga mengurangi kemungkinan muncul-nya tingkah laku yang menyimpang. Tantangan juga, akan dapat menarik perhatian anak didik untuk dapat menambah dan mengendalikan gairah belajar mereka.

3) Bervariasi
        variasi dalam penggunaan alat atau media, atau alat bantu, gaya mengajar guru, pola interaksi antara guru dan siswa akan dapat mengurangi munculnya gangguan dalam proses pembelajaran, serta dapat meningkatkan perhatian siswa. Apalagi bila penggunaannya bervariasi disesuaikan serta situasi dan kondisi yang dibutuhkan. Dengan variasi seperti yang telah disebutkan di atas merupakan kunci untuk tercapainya pengelolaan kelas yang efektif dan menghindari kejenuhan belajar di kalangan siswa.

4) Keluwesan
         keluwesan tingkah laku guru untuk mengubah strategi mengajarnya dapat mencegah kemungkinan munculnya gangguan dari siswa serta menciptakan iklim belajar mengajar yang efektif. Keluwesan pengajaran dapat mencegah munculnya gangguan seperti keributan siswa,tidak ada perhatian, tidak mengerjakan tugas, dan sebagainya.

5) Penekanan pada Hal-hal yang positif
         Dalam mengajar dan mendidik, guru harus menekankan serta mengarahkan siswa berpikir dan berbuat kepada hal-hal yang positif dan menghindari pemusatan perhatian anak didik pada hal-hal yang negatif Penekanan tersebut dapat dilakukan dengan pemberian penguatan yang positif, serta kesadaran guru dalam menghindari kesalahan yang dapat mengganggu jalannya proses belajar mengajar.

6) Penanaman Disiplin Diri
          Disiplin belajar siswa dan disiplin kelas menjadi tujuan akhir dari pengelolaan kelas. Dan guru mengupayakan agar siswa dapat mengembangkan disiplin diri sendiri. Karena itu, guru sebaiknya selalu mendorong anak didik untuk melaksanakan disiplin diri sendiri dan guru sendiri hendaknya menjadi teladan mengenai pengendalian diri dan pelaksanaan tanggung jawab. Dan menjadi tuntutan kepada guru untuk selalu berdisiplin dalam segala hal bila ingin anak didiknya ikut berdisiplin dalam berbagai hal.

E. KOMPONEN KOMPONEN KETERAMPILAN MENGELOLA KELAS.


            Secara umumnya komponen keterampilan pengelolaan kelas dibagi menjadi dua bagian, yaitu keterampilan yang berhubungan dengan penciptaan dan pemeliharaan kondisi belajar yang optimal (bersifat preventif) dan keterampilan yang berhubungan dengan pengembangan kondisi belajar yang optimal.

1) Keterampilan yang Berhubungan dengan Penciptaan dan Pemeliharaan Kondisi Belajar yang Optimal (Bersifat Preventif)

      Keterampilan ini berhubungan dengan kompetensi guru dalam mengambil inisiatif dan mengendalikan pelajaran serta aktivitas-aktivitas yang berkaitan dengan keterampilan sebagai berikut :

a) Sikap Tanggap
Guru harus bersikap tanggap terhadap segala aktivitas belajar dan kegiatan siswa di kelas:(1) Memandang secara seksama ke seluruh sudut ruangan dan kepada seluruh siswa secara bergantian(2) Gerak mendekati, yaitu guru mendekati siswa yang menimbulkan gangguan atau kepada siswa yang menunjukkan aktivitas belajar dengan baik dan tekun di kelas.(3) Memberi pernyataan positif terhadap perilaku siswa baik dan positif serta pernyataan nasehat atau teguran terhadap perilaku yang bersifat negatif siswa.(4) Memberi reaksi terhadap gangguan dan ketak acuhan yang dilakukan atau diakibatkan oleh siswa.

b) Membagi Perhatian
Pengelolaan kelas yang efektif terjadi bila guru mampu membagi perhatiannya kepada beberapa kegiatan yang berlangsung dalam waktu yang sama. Membagi perhatian dapat dilakukan dengan cara:(1) Visual, yaitu dengan pandangan mata atau gerakan tubuh lainnya. (2) Verbal, yaitu dengan kata-kata

c) Pemusatan Perhatian
 Kelompok Guru mengambil inisiatif dan mempertahankan perhatian siswa dan memberitahukan (dapat dengan tanda-tanda)bahwa ia bekerja sama dengan kelompok atau sub kelompok yang terdiri dari tiga sampai empat orang. Untuk itu ada beberapa hal yang dapat dilakukan guru yaitu:(1) Memberi tanda(2) Pertanggungan jawab(3) Pengarahan dan petunjuk yang jelas(4) Penghentian(5) Penguatan(6) Kelancaran (Smoothnees)Untuk kelancaran proses pembelajaran hal dibawah ini harus dihindari(1) Bertele-tele (Overdwelling)(2) Mengulangi penjelasan yang tidak perlu.

2) Keterampilan yang Berhubungan dengan Pengembangan Kondisi Belajar yang Optimal.

      Keterampilan ini berkaitan dengan sikap tanggap guru terhadap gangguan yang disebabkan oleh siswa yang berkelanjutan, dan bertujuan mengembalikan kondisi belajar yang optimal. Apabila terdapat siswa yang menimbulkan gangguan yang berulang-ulang walaupun guru telah menggunakan tingkah laku dan tanggapan yang sesuai, akan tapi belum juga berhasil sebaiknya guru meminta bantuan kepala sekolah, konselor sekolah, atau orang tua siswa, untuk membantu mengatasinya. Dalam batas tingkatan tertentu guru dapat menggunakan seperangkat strategi untuk tindakan perbaikan terhadap tingkah laku siswa yang terus-menerus menimbulkan gangguan di kelas.
       Menurut Mulyasa strategi yang dapat dikembangkan adalah sebagai berikut :

a) Modifikasi Tingkah Laku, dengan cara cara:(1) Mengajarkan perilaku baru dengan contoh dan pembiasaan(2) Meningkatkan perilaku yang baik melalui penguatan(3) Mengurangi perilaku buruk dengan hukuman.

b) Pendekatan pemecahan masalah kelompok melalui:(1) peningkatan kerja sama dan keterlibatan(2) menangani konflik dan memperkecil masalah yang timbul

c) Menemukan dan mengatasi perilaku yang menimbulkan masalah dengan cara-cara:(1) Pengabaian yang direncanakan.(2) Campur tangan dengan isyarat(3) Mengawasi secara ketat.(4) Mengakui perasaan negatif peserta didik.(5) Mendorong peserta didik untuk mengungkapkan perasaannya. (6) Menjauhkan benda-benda yang dapat mengganggu konsentrasi.(7) Menyusun kembali program belajar.(8) Menghilangkan ketegangan dengan humor(9) Mengekang secara fisik.


__________________________
Sumber
Lalu Muhammad Azhar, 1993, proses belajar mengajar pola CBSA, Surabaya; usana offset
Syaiful Bahri djamarah & aswan Zain, 2002, strategi belajar mengajar, Jakarta; Rineka cipta
Supardi dkk, 2009, profesi keguruan, Jakarta; diadit media.
Ahmad rohani, 2004 pengelolaan pengajaran, Jakarta, Rineka cipta.

Baca Juga

Komentar