Sejarah Asal Mula Ilmu Shorof Tashrif


Ilmu Shorof Tashrif
Ilmu Shorof Tashrif



A. PENGERTIAN SHARAF


           Secara   bahasa   sharaf berarti   memalingkan,   menolak   dan   menyesatkan. Adapun   secara   terminologi   sharaf adalah   ilmu   untuk   mengetahui   perubahan- perubahan bangunan kata yang bukan dari segi I’rabnya, seperti mengetahui shahih, mudho'af atau ber’illatnya suatu kata dan gejala-gejalanya, baik berupa terjadinya pergantian, pemindahan, pembuangan atau perubahan syakal (harakat yang bukan pada akhir kata).

          Menurut Acep Hermawan Sharaf adalah ilmu yang mempelajari tentang asal usul  kata,  sehingga  dapat  mengetahui  arti  suatu  kata.  Ilmu  sharaf  dikenal  sebagai sistem morfologi dalam bahasa Arab. Kata lain dari ilmu sharaf adalah ilmu tashrif.

          Tashrif yaitu perubahan bentukan kata tertentu ke dalam bentukan-bentukan lain berdasarkan pola-pola yang sudah baku. Tashrif dalam bahasa Arab umumnya terbagi ke  dalam  dua  bagian,  yaitu  tashrif  lughawi  dan  ishtilahi.  Tashrif  lughawi  adalah perubahan bentukan kata berdasarkan kata ganti (dhamir) yang jumlahnya ada 14, sedangkan tashrif ishtilahi adalah perubahan kata berdasarkan jenis bentukan (sighah). Sementara   al-Kailani  mendefinisikan  ilmu  sharaf  sebagai  suatu  bentuk  asal menjadi macam-macam bentuk untuk tujuan makna yang hanya terjadi karenanya.

          Dalam  bahasa  Arab  morfologi  itu  disebut  ilmu  al-sarf,  yaitu  ilmu  yang mempelajari seluk-beluk bentuk kata dalam bahasa Arab. Al-Ghalayaini memaparkan  definisi  ilmu  al-sarf  sebagai  ilmu  yang  mengkaji  akar  kata  untuk mengetahui bentuk-bentuk kata Arab dengan segala hal-ihwalnya di luar I’rab dan bina’,  lebih  lanjut  dia  berkata:  sharaf adalah  ilmu  untuk  mengetahui  bentuk-bentuk kata dalam bahasa Arab berikut hal ihwalnya selain I’rab dan bina’. Dalam ilmu sharaf, kata-kata dibahas dari sisi perubahan bentuknya, i’lal, idgham dan ibdal juga hal-hal yang harus terjadi dalam pembentukan kata sebelum menjadi kalimat.
          Ilmu sharaf juga disebut morfologi bahasa Arab. Morfologi mempelajari seluk- beluk bentuk kata serta fungsi perubahan-perubahan bentuk kata itu, baik fungsi gramatik maupun fungsi semantik.

          Sharaf  merupakan  ilmu  yang  membahas  semua  perubahan  Mufradhat  dalam bahasa arab dari satu Mufradhat kepada Mufradhat yang lain, baik perubahan jumlah huruf maupun perubahan harakat selain harakat akhir karena kebutuhan akan makna yang berbeda yang diinginkan, Sementara Mufradhat.

B. Latar belakang lahirnya ilmu  SHARAF


           Alquran merupakan mukjizat terbesar bagi Nabi Muhammad saw. Kata-kata dan isinya dibaca, ditela’ah, dijadikan rujukan dan merupakan sumber inspirasi muncul dan berkembangnya berbagai ide dan karya jutaan umat manusia. Kitab ini dijadikan pedoman dan karenanya amat dicintai oleh seluruh kaum muslimin. Karena kecintaannya pada Alquran kaum muslimin membaca dan menelaahnya baik dengan tujuan ibadah maupun untuk memperoleh pengetahuan darinya. Dengan dorongan Alquran pula para ulama dan ilmuwan mengarang dan menterjemahkan bermacam- macam buku ilmu pengetahuan, baik yang berkaitan dengan keislaman seperti  bahasa Arab, syari’at, filsafat dan akhlak, maupun yang bersifat umum seperti sejarah, kesenian dan perekonomian. Hanya dalam tempo satu abad, inspirasi yang dibawa Alquran telah membuat penuh berbagai perpustakan di kota-kota besar Islam pada masa itu seperti Mesir, Baghdad dan Cordova.

          Fenomena ini muncul karena ayat-ayat Alquran mendorong kaum muslimin untuk menjadi masyarakat literat. Ayat yang mula-mula turun kepada Nabi Muhammad ialah yang berhubungan dengan keharusan membaca. Hal ini dapat kita lihat pada surah Q.S al-‘Alaq:1-5 :

اقْرَأْبِاسْمِرَبِّكَالَّذِىخَلَقَ

خَلَقَالْإِنْسٰنَمِنْعَلَقٍ

اقْرَأْوَرَبُّكَالْأَكْرَمُ

الَّذِىعَلَّمَبِالْقَلَمِ

عَلَّمَالْإِنْسٰنَمَالَمْيَعْلَمْ

artinya :Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah, Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, Yang mengajar manusia dengan perantaraan kalâm , Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.

          Pada saat turunnya Alquran, bahasa Arab merupakan bahasa yang murni dan bermutu. Bahasa Arab belum terkontaminasi dengan bahasa asing lainnya. Namun seiring dengan peningkatan peran agama, sosial dan politik yang  diembannya,  bahasa Arab mulai berasimilasi dengan bahasa-bahasa lain di dunia, seperti Persia, Yunani, India dan bahasa-bahasa lain nya. Asimilasi dengan bahasa Persia lebih banyak dibanding dengan bahasa-bahasa lain nya. Asimilasi ini muncul karena bangsa Arab banyak yang melakukan pernikahan dengan bangsa Persia, sehingga sedikit banyak bahasa Arab terwarnai dengan bahasa tersebut.  Selain  itu  pula banyak keturunan Persia yang menempati posisi penting baik di bidang politik, militer, ilmu pengetahuan dan keagamaan. Dominasi keturunan Persia terjadi pada masa kekhalifahan daulat Bani Abbasiyah. Dengan berasimilasinya orang-orang Persia ke dalam masyarakat Arab dan Islam, mulailah bahasa Arab mengalami kemunduran. Apalagi pemimpin-pemimpin yang berkuasa bukan orang Arab, sehingga timbullah satu bahasa pasar yang telah jauh menyimpang dari bahasa aslinya. Kondisi ini terjadi pada beberapa wilayah Islam seperti Mesir, Baghdad dan Damaskus. Kemunduran penggunaan bahasa Arab yang paling hebat terjadi di  Persia. 

           Adanya kemunduran-kemunduran pada bahasanya, membuat orang-orang Arab merasa prihatin dan mulailah mereka berfikir untuk mengembalikan bahasa Arab pada kemurniannya. Mereka mulai menyusun ilmu nahwu, sharaf dan balâghah.


Ahmad Warson Munawwir, AL-MUNAWWIR KAMUS ARAB-INDONESIA, (Surabaya : Pustaka Progresif, 1997), h.774

Ahmad Fauzan Zein Muhammad, al-qowa’id al-shorfiyyah, (Kudus : menara Kudus, tt), h.2

Acep   Hermawan,   Metodologi   Pembelajaran   Bahasa   Arab,  (Bandung : PT.Remaja Rosdakarya offset, 2011), h.69-70

H.M. Abdul Manaf Hamid, Pengantar Ilmu Shafar isthilahi lughawi, (Surabaya : PP. Fathul Mubtadiin,1993), h.iii

Baca Juga

Komentar