Rangkuman Materi RADIKALISME TWK SKD CPNS 06


 

Rangkuman Materi RADIKALISME TWK SKD CPNS 06
Rangkuman Materi RADIKALISME TWK SKD CPNS 06




TUJUANDALAM SKD : mampu  menjadi  warga  negara  yang  menghindari  paham radikalisme

Berdasarkan  hasil  penelitian  ditemukan  sekurang-kurangnya  ada  3  faktor  munculnya  radikalisme  di  Indonesia,  yakni:  perkembangan  di  tingkat global, penyebaran paham Wahabisme dan kemiskinan.  

Situasi    yang    kacau    di    negara-negara    Timur    Tengah    khususnya    di    Afghanistan, Palestina, Irak, Yaman, Mesir, Syiria, dan Turki, dipandang oleh  kelompok  radikal  sebagai  akibat  dari  campur  tangan  Amerika,  Israel, dan sekutunya. 

Pada saat yang sama, masuknya faham  Wahabisme  yang  mengagungkan  budaya  Islam  ala  Arab  yang  konservatif  ke Indonesia telah ikut  mendorong timbulnya kelompok  eksklusif  yang  sering    menuduh  orang  lain  yang  berada  di  luar  kelompok  mereka  sebagai  musuh,  kafir  dan  boleh  diperangi. 

 Faktor  ketiga adalah kemiskinan. Walaupun faktor ini tidak secara langsung berpengaruh  terhadap  merebaknya    aksi    radikalisme,    namun    perasaan    sebagai    elemen    masyarakat    yang  termarjinalkan    dapat    menjadi    faktor  pendorong  bagi  seseorang  untuk  terjebak  dalam proganda radikalisme.

A. Pengertian Radikalisme

Radikalisme berasal dari bahasa Latin radix yang berarti akar. Radikalisme  mengandung  pegerntian  berpikir  secara  mendalam  terhadap  sesuatu sampai ke akar-akarnya. Radikalisme merupakan istilah yang digunakan  pada  akhir  abad  ke-18  untuk  pendukung  gerakan  radikal.  Radikalisme  merupakan  suatu  paham  yang  menghendaki  adanya  perubahan, pergantian, dan penjebolan terhadap suatu sistem di masyarakat sampai ke akarnya.

Menurut   Kamus   Besar   Bahasa   Indonesia,   yang   dimaksud   dengan  radikalisme  adalah  paham  atau  aliran  yang  radikal  dalam politik; paham atau aliran yang menginginkan perubahan atau  pembaharuan  sosial  dan  politik  dengan  cara  kekerasan  atau drastis; sikap ekstrem dalam politik.

Dilihat  dari  sudut  pandang  keagamaan,  radikalisme  agama  dapat diartikan sebagai paham keagamaan yang mengacu pada fondasi agama yang sangat mendasar dengan fanatisme keagamaan yang sangat tinggi, sehingga tidak jarang penganut dari paham  atau  aliran  tersebut  menggunakan  kekerasan  kepada  orang  yang  berbeda  paham  atau  aliran  untuk  mengaktualisasikan  paham  keagamaan  yang  dianut  dan  dipercayainya  untuk diterima secara paksa.

Berdasarkan  pengertian  radikalisme  tersebut,  maka  tak  dapat  dihindari  adanya  kesan  negatif  dari  gerakan  radikalisme,  yaitu  adanya  unsur  paksaan  dan  mungkin  juga  tindakan  kekerasan  dalam upaya mengaktualisasikannya. Dalam kontek ini, barangkali  dapat  dikatakan  bahwa  sebenarnya  tidak  ada  agama  apa  pun yang mengajarkan radikalisme.

B. Faktor-Faktor Penyebab Radikalisme

Faktor Pemikiran

Pada  masa  sekarang  muncul  dua  pemikiran  yang  menjadi  trend,  yang  pertama  yaitu  mereka  menentang  terhadap  keadaan alam yang tidak dapat ditolerir lagi, seakan alam ini  tidak  mendapat  keberkahan  lagi  dari  Allah  SWT  lagi,  penuh dengan penyimpangan. Sehingga satu-satunya jalan adalah dengan mengembalikannya kepada agama. Namun jalan yang mereka tempuh untuk mengembalikan ke agama itu  ditempuh  dengan  jalan  yang  keras  dan  kaku.  Padahal  nabi  Muhammad  SAW  selalu  memperingatkan  kita  agar  tidak  terjebak  pada  tindakan  ekstremisme  (at-tatharuf  al-diniy),  berlebihan  (ghuluw),  berpaham  sempit  (dhayyiq),    kaku    (tanathu’/rigid),    dan    keras    (tasyaddud).    

Pemikiran  yang  kedua  yaitu  bahwa  agama  adalah  penyebab  kemunduran  umat  Islam,  sehingga  jika  mereka  ingin  unggul  maka  mereka  harus  meninggalkan  agama  yang  mereka  miliki  saat  ini.  Pemikiran  ini  merupakan  hasil  dari  pemikiran sekularisme, yaitu dimana paham atau pandangan filsafat yang berpendirian bahwa moralitas tidak perlu didasarkan atas pada ajaran agama.

Faktor Ekonomi

Kemiskinan,   pengangguran   dan   problematika   ekonomi   yang lain dapat merubah sifat seseorang yang baik menjadi orang yang kejam. Karena dalam keadaan terdesak atau himpitan  ekonomi,  apapun  bisa  mereka  lakukan,  bisa  saja mereka juga melakukan teror. Mereka juga berasumsi bahwasannya perputaran ekonomi hanya dirasakan oleh yang kaya  saja,  hal  itu  menyebabkan  semakin  curamnya  jurang  kemiskinan  bagi  orang  tak  punya.  Sehingga  mereka  tidak  segan-segan  melakukan  hal-hal  yang  diluar  dugaan  kita. 

Faktor Politik

Memiliki pemimpin yang adil, memihak kepada rakyat, dan tidak   hanya   sekedar   menjanjikan   kemakmuran   kepada   rakyatnya adalah impian semua warga masyarakat. Namun jika pemimpin itu mennggunakan politik yang hanya berpihak pada pemilik modal, kekuatan-kekuatan asing, bahkan politik   pembodohan   rakyat,   maka   akan   timbul   kelompok-kelompok  masyarakat  yang  akan  menamakan  dirinya  sebagai   penegak   keadilan,   baik   kelompok   dari   sosial,   agama   maupun   politik,   yang   mana   kelomok-kelompok   tersebut dapat saling menghancurkan satu sama lain. 

Faktor Sosial

Faktor  sosial  ini  masih  ada  hubungannya  dengan  faktor  ekonomi. Ekonomi masyarakat yang amat rendah membuat mereka berfikir sempit, dan akhirnya mereka mencari perlindungan kepada ulama yang radikal, kerena mereka berasumsi akan mendapat perubahan perekonomian yang lebih baik.  Dimulai  dari  situ  masyarakat  sudah  bercerai  berai,  banyak  golongan-golongan  Islam  yang  radikal.  Sehingga  citra Islam yang seharusnya sebagai agama penyejuk dan lembut itu hilang. Disinilah tugas kita untu mengembalikan Islam  yang  seharusnya  sebagai  “rohmatallil  alamin”  agar  saudara  muslim  kita  yang  tadinya  sedikit  bergeser  tidak  semakin  bergeser  dan  kembali  kepada  akidah-akidah  dan  syari’ah Islam yang sebenarnya

Faktor Pendidikan

Pendidikan  bukanlah  faktor  yang  langsung  menyebabkan  radikalisme. Radikalisme dapat terjadi dikarenakan melalui pendidikan yang salah. Terutama adalah pendidikan agama yang   sangat   sensitif,   kerena   pendidikan   agama   “amal   ma’ruf nahi munkar”, namun dengan pendidikan yang salah akan  berubah  menjadi  “amal  munkar”.    Dan  tidak  sedikit  orang-orang yang terlibat dalam aksi terorisme justru dari kalangan  yang  berlatar  pendidikan  umum,  seperti  dokter,  insinyur,  ahli  teknik,  ahli  sains,  namun  hanya  mempelajari agama sedikit dari luar sekolah, yang kebenaran pemahamannya belum tentu dapat dipertanggungjawabkan. Atau dididik  oleh  kelompok  Islam  yang  keras  dan  memiliki  pemahaman agama yang serabutan.

Faktor Pengalaman  

Pengalaman  seseorang  yang  mengalami  kepahitan  dalam  hidupnya,  seperti  kegagalan  dalam  karier,  permasalahan  keluarga,  tekanan  batin,  kebencian  dan  dendam.  Hal-hal  tersebut dapat mendorong seseorang untuk berbuat penyimpangan  dan  anarkis.  Kita  yang  seharusnya  senantiasa  mengingatkan kepada mereka dari penyimpangan. Dr. Abdurrahman  al-Mathrudi  pernah  menulis,  bahwa  sebagian  besar orang yang bergabung kepada kelompok garis keras adalah  mereka  yang  secara  pribadi  mengalami  kegagalan  dalam hidup dan pendidikannya. saudara muslim kita yang seperti  itulah  yang  menjadi  target  sasaran  orang  radikal  untuk  diajak  bergabung  dengan  mereka.  Karena  dalam  keadaan seperti itu mereka sangat rentan dan mudah terpengaruh.

C. Radikalisme di Indonesia

Secara  historis,  kemunculan  kelompok  radikal  di  kalangan  umat  Islam  Indonesia  bukanlah    hal    yang  baru.  Karena      pada   awal      abad   ke-20,      dalam  peningkatan    semangat    dan  ekonomi   kian      parah   di   kalangan      pribumi,  radikalisme  muslim  diambil  alih  oleh  kelompok  Serikat    Islam  (SI).  Gerakan  radikalisme di Indonesia  tidak  seperti    yang  terjadi    di  Timur    tengah    yang    sangat    menekankan   agenda-agenda      politik.      Gerakan  radikal  Islam    di  Indonesia  baru       sebatas       pada       tuntutan       dipenuhinya   aspirasi   Islam,   seperti   pemberlakuan    syariat    Islam    atau    piagam Jakarta.

Pada  era  demokratisasi  dan  masa-masa  kebebasan,  beberapa  kelompok radikal ini untuk muncul lebih nyata, lebih militan dan lebih  vokal,  ditambah  lagi  dengan  liputan  media,  khususnya  media  elektronik,  sehingga  pada    akhirnya  gerakan    ini  lebih    tampak.  Setelah DI, muncul Komando Jihad (Komji) pada 1976 kemudian meledakkan tempat ibadah. Pada 1977,  Front Pembebasan    Muslim  Indonesia  melakukan    hal  sama.    Dan    tindakan    teror  oleh  Pola  Perjuangan  Revolusioner  Islam,  1978.  Tidak  lama  kemudian,  setelah  pasca  reformasi  muncul  lagi  gerakan yang beraroma radikal yang dipimpin oleh  Azhari  &  Nurdin  M.  Top  dan  gerakan-gerakan  radikal  lainnya  yang  bertebar  di beberapa  wilayah  Indonesia,  seperti  Poso,  Ambon  dan  yang  lainnya. Semangat radikalisme tentu tidak luput dari persoalan politik. Persoalan politik memang sering kali menimbulkan gejala-gejala tindakan yang radikal sehingga berakibat pada  kenyamanan umat beragama yang ada di Indonesia dari berbagai ragamnya. Dalam konstelasi politik  Indonesia, masalah radikalisme  Islam  makin besar  karena pendukungnya juga makin meningkat.  Akan  tetapi  gerakan-gerakan  ini  lambat  laun  berbeda  tujuan,    serta    tidak    mempunyai    pola    yang    seragam.    Ada    yang    sekedar    memperjuangkan  implementasi    syari’at    Islam    tanpa  keharusan  mendirikan  “negara Islam”,  namun  ada  pula yang  memperjuangkan  berdirinya  negara  Islam  Indonesia,  di  samping yang memperjuangkan berdirinya “kekhalifahan Islam’,  pola  organisasinya pun beragam, mulai dari gerakan moral ideologi  seperti  Majelis  Mujahidin  Indonesia  dan  Hizbut  Tahrir  Indonesia    (HTI)    sampai  kepada  gaya  militer  seperti  Laskar  Jihad, dan FPI.

Aksi  terorisme  di  Indonesia  saat  ini  memang  tengah  menurun  sejak awal tahun  2000-an. Namun  akar  terorisme, yaitu  radikalisme  agama,  tetap  tumbuh subur  dan mendapatkan posisi di  sebagian  masyarakat.  Selain  radikalisme  agama,  aksi  terror  juga masih berisiko  muncul  akibat  gesekan-gesekan  lainnya,  seperti  anti  persatuan,  separatisme,  dan lain-lain. Oleh karena imunitas harus senantiasa mengingat bahwa  kita hidup di Indonesia,  negeri  yang  terdiri  dari  keberagaman.  Jika  kita  tidak  bersikap tenggang rasa dan berpikiran terbuka, maka akar-akar radikalisme pun dapat leluasa masuk memengaruhi kita. Pemerintah juga perlu untuk menjadi lokomotif dalam pembangunan persatuan   dan   kesejahteraan   bangsa   guna   menghindarkan      negeri ini  dari  ancaman  radikalisme  yang memanfaatkan celah-celah  ketidak  adilan.    Sementara  peneliti  LIPI  Anas  Saidi  mengatakan bahwa paham radikalisme ini terjadi karena  proses  Islamisasi  yang  dilakukan  di  kalangan  anak  muda  ini  berlangsung    secara  tertutup,  dan  cenderung  tidak  terbuka  pada  pandangan  Islam  lainnya,  apalagi  yang  berbeda  keyakinannya.  Dia menegaskan jika pemahaman ini dibiarkan bisa menyebabkan disintegrasi bangsa  karena  mereka  menganggap  ideologi  pancasila  tidak  lagi  penting.

Tahun 2011, Hasil Survey Lembaga Kajian Islam dan Perdamaian (LaKIP) dengan responden guru PAI dan siswa SMP Se Jadebotabek menunjukkan potensi radikal yang kuat di kalangan guru dan  pelajar  dengan  indikasi  resistensi  yang  lemah  terhadap  kekerasan  atas  nama  agama,  intoleransi,  sikap  ekslusif  serta  keraguan terhadap ideologi Pancasila.

D. Membendung Berkembangnya Paham Radikalisme

> Meningkatkan Pemahaman Keagamaan

Radikalisme      disebabkan   oleh   minimnya   pemahaman   agama.   Belajar   agama   secara   dangkal   dapat   memicu   mereka  melakukan  kekerasan,  bahkan  atas  nama  agama.  Tindakan terorisme balakangan ini dilakukan dengan cara bunuh  diri,  misalnya  bom  bunuh  diri,  sebab  Islam  justru  melarang    tindakan  bunuh  diri,  sehingga  tindakan  terorisme    dalam  bentuk  apapun  sangat  bertentangan  dengan  ajaran Islam.

> Membentuk  Komunitas-komunitas  Damai  di  Lingkungan  Sekitar

Pemuda bisa menjadi pionir dalam pembentukan komunitas  cinta  damai  di  lingkungannya.  Komunitas-komunitas  tersebut  lah  yang  melakukan  sosialisasi  ke  masyarakat  maupun  ke  sekolah-sekolah  akan  bahaya  paham  radikalisme.

>Menyebar Virus damai Didunia Maya

Hasil  penelitian  terbaru  mencatat  pengguna  internet  di  Indonesia   yang   berasal   dari   kalangan   anak-anak   dan   remaja  diprediksi  mencapai  30  juta.  Mereka  ini  menggunakan  internet  hanya  untuk  mencari  informasi,  untuk  terhubung dengan teman (lama dan baru) dan untuk hiburan. Hal  inilah  yang  menjadi  celah  bagi  para  penyebar  paham  radikalisme untuk menyebarkan pahamnya di dunia maya. Oleh  karena  itu,  dibutuhkan  aksi  dari  pemuda  sebagai  pengguna internet terbanyak di Indonesia untuk menangkal  informasi-informasi  yang  menyesatkan  dengan  mengunggah  konten  damai  di  social  media  seperti  tulisan,  komik, dan meme.

> Menjaga Persatuan dan Kesatuan

Generasi muda adalah Warga Negara yang  menjadi  unsur  penting    dalam    suatu    Negara.  Menunjukkan    sikap    bela    Negara  para  Generasi  Muda   saat  ini dapat  dilakukan  dengan    menampilkan    perilaku-perilaku    positif    yang    sesuai  dengan  Pancasila  dan  UUD  1945  dengan  menjunjung  tinggi    persatuan    dan    kesatuan    bangsa    yang    bertujuan    untuk    melawan  segala  macam  paham  kebencian dan kekerasan yang ingin merusak keutuhan NKRI.

>Menimalisis Kesenjangan Sosial

Kesenjangan  sosial  yang  terjadi  juga  dapat  memicu  munculnya  pemahaman  radikalisme  dan  tindakan  terorisme.  Caranya  ialah  pemerintah  harus  mampu  merangkul  pihak  media yang menjadi perantaranya dengan rakyat sekaligus melakukan   aksi   nyata   secara   langsung   kepada   rakyat.   Begitu  pula  dengan  rakyat,  mereka  harusnya  juga  selalu  memberikan   dukungan   dan   kepercayaan   kepada   pihak   pemerintah  bahwa  pemerintah  akan  mampu  menjalankan  tugasnya   dengan   baik   sebagai   pengayom   rakyat   dan   pemegang kendali pemerintahan Negara.


Baca Juga

Komentar