Pendekatan Paragraf Deskripsi


Pendekatan Paragraf Deskripsi




pendekatan dalam paragraf deskripsi dapat dibedakan atas pendekatan ekspositoris, pendekatan impresionistik, dan pendekatan menurut sikap pengarang (Suparno, 2001:4.7-4.11). Untuk memperjelas pemahaman Anda, perhatikan penjelasan-penjelasan berikut ini.

a. Pendekatan ekspositoris

Pendekatan ekspositoris merupakan pendekatan dalam penulisan paragraf deskripsi yang disusun dengan tujuan dapat memberi keterangan sesuai dengan keadaan yang sebenarnya sehingga pembaca seolah-olah dapat ikut melihat atau merasakan objek yang kita deskripsikan. Dalam konteks ini, sesuatu cerita disusun secara lengkap atau agak lengkap sehingga pembaca dengan penalarannya dapat memperoleh kesan keseluruhan tentang sesuatu. Titik berat yang ditimbulkan adalah diperolehnya kesan yang lebih banyak didasarkan atas proses penalaran daripada emosional. Untuk lebih jelasnya cobalah Anda perhatikan contoh di bawah ini!

Contoh 

Jangan lupa, ketika mau masuk masjid, ucapkan salam sambil perkenalkan bahwa Anda berasal dari Indonesia. Bila tidak dimengerti penjaga, katakan Anda dari Jakarta. Dan bila masih ada kesulitan, jangan segan-segan menggunakan password paling mujarab: Presiden Soekarno! Dijamin, petugas akan langsung mempersilakan Anda menikmati semua isi masjid sepuasnya karena Anda dianggap Soekarno Kecil.

Memasuki masjid ini terasa sejuk di hati dan seolah berada di suatu tempat yang akrab dengan diri kita; tempat bersujud. Di atas pintu masuknya, sebuah kaligrafi berukuran sedang memberikan perintah berdasarkan ayat Tuhan: 'Masuklah dengan damai dan aman. Setelah melewati ruang penerimaan, kita akan langsung masuk ke dalam masjid lantai pertama yang mampu menampung lebih dari dua ribuan jamaah. Kubah yang dari luar berwarna biru, di dalamnya terdapat ukiran dan lukisan yang terpengaruh oleh budaya Arab dan menggantung di tengah tengahnya lampu bulat besar bertatahkan kaligrafi buatan Rusia dengan berat lebih dari 2 ton.

Dari kejauhan terlihat mihrab yang agung berwarna biru terbuat dari ribuan marmer yang didesain khusus. Di tengah-tengahnya terdapat siluet berupa kaligrafi yang menegaskan pesan-pesan Tuhan tentang kebaikan dan kebijakan yang harus dianut oleh umatnya. Di sampingnya, terdapat mimbar khotbah dengan tangganya yang tinggi terbuat dari kayu yang sangat terawat. Pada saat khatib naik mimbar, ia akan memegang tongkat yang merupakan pengganti tombak pada jaman para sahabat nabi.

Lantai dua dan tiga dipakai untuk salat jamaah wanita, sehingga tidak perlu sekat seperti yang ada di beberapa masjid. Uniknya, untuk bisa mengikuti salat berjamaah, para wanita hanya bisa melihat ke imam melalui dua cendera yang telah disiapkan. Melihat modelnya, jendela ini pastilah model jendela Mesir.

Pilar-pilar besar penyangga kubah dan lantai dua dan tiga dihiasi dengan aneka lukisan bunga yang lebih mirip budaya Rusia bagian Selatan. Pembagian ruangan yang lega serta kebersihannya yang terjaga membuat para jamaah betah berzikir di dalamnya. Di bulan Ramadhan tahun ini, jamaah salat tarawih tidak terlalu banyak atau hanya sekitar 300-an orang. Ini disebabkan puasa jatuh pada musim panas sehingga salat tarawih dilakukan hampir tengah malam sehingga banyak jamaah kesulitan mendapatkan transportasi umum pada saat pulang ke rumah. Ada juga kaligrafi terbuat dari kayu berukuran sekitar satu kali dua meter yang terpajang di samping ruang imam salat. Tembakan dua lampu dari samping dan atas memberikan nuansa tersendiri atas tatahan indah surah al-Fatihah yang berada di tengah-tengah ukiran model Bali. "Yang satu ini memang hadiah dari Presiden Megawati Soekarnoputri, sedangkan yang satunya dari mantan Wapres Jusuf Kalla," ujar sang Mufti Petersburg dengan bangga.

(http://travel.kompas.com/read/2011/08/05/17311434/Ngabuburit.ke. Masjid.Soekarmo.di.Rusia).

Sesuatu yang ditonjolkan pada karangan tersebut melukiskan adanya keterkaitan sejarah pembangunan masjid yang ada di Rusia tersebut dengan figur sang pencetus berdirinya masjid tersebut, Ir. Soekarno.

Deskripsi fiktif dapat juga menggunakan pendekatan ekspositoris. Untuk lebih jelasnya, cobalah Anda perhatikan contoh di bawah ini!

Contoh 

"Rumah berukir itu sudah terhias seelok-eloknya, lain daripada keadaan sehari-hari. Sekelilingnya, di tepi dinding, sudah terbentang kasur dan di ruang tengah sudah terhampar permadani yang permai. Kursi dan meja telah diatur baik-baik di atasnya, tetapi tidak untuk diduduki tamu pertunangan. Adat lebih memuliakan tamu itu duduk di atas kasur beralaskan "lapik berlambak" yaitu pandan putih yang amat halus anyamannya dan berbilaikan kain merah. Tirai dan kelambu, kain pintu, dan lain-lain sudah terpasang. Sekaliannya itu daripada kain dan kasa yang berbunga-bunga dan amat permai rupanya. Tentang tiap-tiap ruang tergantung lampu di loteng dan di antara tiap-tiap pintu kamar ada cermin besar yang jelas kelihatan dari halaman. Gambar dan lukisan yang indah-indah tidak kurang, dan tergantung di sekeliling dengan beraturan. Barang siapa yang baru sekali saja masuk ke rumah berukir itu, niscaya ia akan heran tercengang-cengang melihat keindahan segala perkakas itu. Tentu saja ia akan berkata di dalam hatinya, "Memang kaya orang di rumah ini!"

(Salah Pilih, Nur Sutan Iskandar, 1997:92)

Kutipan di atas menggambarkan rumah gedang dan rumah berukir yang sangat bertolak belakang, yang secara dekonstruksi dapat ditafsirkan sebagai stereotip yang ingin ditonjolkan Belanda untuk mewakili dua warna dalam satu produk budaya, yakni Minangkabau. Rumah gedang dipandang sebagai rumah yang mewakili kutub positif, karena tata aturan rumah tersebut sangat bersahaja, meskipun pemiliknya kaum bangsawan. Sementara rumah berukir sebaliknya. Rumah tersebut mewakili kutub negatif karena aturan dan sikap sebagian penghuninya yang merasa lebih dibanding kaum sebangsanya. Sikap ini semata-mata tidak karena mereka kaum bangsawan, tetapi sikap mereka yang meniru gaya Belanda karena dalam adat Minangkabau, sikap "demokrasi" merupakan hal yang sudah lama dikenal. Pembandingan ini tidak disadari makin memperkuat dominasi Belanda dalam memandang bangsa pribumi sebagai bangsa yang tetap tidak dapat memosisikan diri sebagaimana bangsa Eropa seperti Belanda.

b. Pendekatan impresionistik

Pendekatan impresionistik merupakan pendekatan dalam penulisan paragraf deskripsi yang ditujukan untuk mendapatkan tanggapan emosional pembaca ataupun kesan pembaca. Corak deskripsi ini di antaranya juga ditentukan oleh kesan yang diinginkan penulisnya. Misalnya, kita membuat deskripsi impresionistik tentang sebuah kisah perjalanan wisata kuliner di kota Solo berikut ini.

Contoh 

Jarum jam menunjukkan tepat pukul 00.00 saat saya sampai di Jalan Wolter Monginsidi, Solo. Saat kebanyakan orang sedang terlelap di alam mimpi, empat orang justru sibuk memasang tenda dan menata kursi di atas trotoar. Sekitar 30 menit kemudian, mobil-mobil mulai berdatangan dan merapat di dekat para pekerja. Tak seorang pun penumpangnya turun. Mereka, seperti juga saya, menanti ten warung Gudeg Ceker Margoyudan kelar didirikan.

Pemandangan tersebut tersaji tiap malam, bak lentera yang memikat serangga. Gudeg Ceker Margoyudan selalu diselimuti pembeli yang rela datang bahkan 1,5 jam sebelum warung resmi dibuka. Udara dingin tak mampu menyusutkan gairah warga untuk mencicipi koleksi menu salah satu restoran terfavorit di Solo ini, meski itu berarti harus mengantre selama berjam-jam.

Warung yang dikelola Bu Kasno selama puluhan tahun ini merupakan salah satu ikon gastronomi di Solo, Jadwal operasionalnya selalu tetap tiap hari buka pukul 01.30 dan baru tutup di waktu subuh. Gudeg Ceker Margoyudan memang asli Solo, tetapi kandungan masakannya kurang lebih sama dengan gudeg yogyakarta, yakni buah nangka muda, krecek pedas, sayur tempe pedas, tahu dan tempe kuah gurih, serta keripik rambak. Bu Kasno menambahkan ciri khas pada kreasinya, yakni daging ayam plus ceker yang disajikan empuk dan gurih. Tak perlu berkomentar banyak soal kenikmatannya. Yang pasti, masakan Bu Kasno sanggup membuat kita rela melanggar aturan diet untuk tidak makan besar di waktu malam.

(Garuda Magazine, Edisi Agustus 2010 hlm 118)

Dalam kutipan tersebut, jelas terlihat bahwa penulis ingin menawarkan ulasan tentang Gudeg Ceker Margoyudan atas dasar impresi si penulis tersebut. Impresi ini didukung dengan penggambaran suasana pengunjung yang selalu ramai, keunikan rasa yang ditambah daging ayam plus ceker empuk dan guruh, serta ditutup dengan penegasan bahwa menu ini dapat menimbulkan pelanggaran disiplin tentang larangan menyantap makanan berat pada malam hari bagi mereka yang sedang diet. Pendeskripsian tersebut jelas menggambarkan bagaimana tanggapan pembaca ditantang dengan tulisan yang disajikan ini, yakni cita rasa sajian gudeg ceker yang menjadi ikon gastronomi di Solo.

Perhatikan juga contoh deskripsi impresionistik tentang suasana alam di bawah ini!

Contoh 

Dari balik tirai hujan sore hari pohon-pohon kelapa di seberang lembah itu seperti perawan mandi basah, segar, penuh gairah, dan daya hidup. Pelepah-pelepah yang kuyup adalah rambut basah yang tergerai dan jatuh di belahan punggung. Batang-batang yang ramping dan meliuk-liuk oleh embusan angin seperti tubuh semampai yang melenggang tenang dan penuh pesona. Ketika angin tiba-tiba bertiup lebih kencang pelepah-pelepah itu serempak terjulur sejajar satu arah, seperti tangan-tangan penari yang mengikuti irama hujan, seperti gadis gadis tanggung berbanjar dan bergurau di bawah curah pancuran. Pohon-pohon kelapa itu tumbuh di tanah lereng di antara pepohonan lain yang rapat dan rimbun. Kemiringan lereng membuat pemandangan seberang lembah itu seperti lukisan alam gaya klasik Bali yang terpapar di dinding langit. Selain pohon kelapa yang memberi kesan lembut, batang sengon yang kurus dan langsing menjadi garis garis tegak berwarna putih dan kuat. Ada beberapa pohon aren dengan daun mudanya yang mulai mekar kuning dan segar. Ada pucuk pohon jengkol yang berwarna cokelat kemerahan, ada bunga bungur yang ungu berdekatan dengan pohon dadap dengan kembangnya yang benar-benar merah. Dan batang batang jambe rowe, sejenis pinang dengan buahnya yang bulat dan lebih besar, memberi kesan purba pada lukisan yang terpajang di sana.

(Ahmad Tohari, Bekisar Merah, 1989:6)

Contoh di atas menggambarkan suasana alam pedesaan pada sore hari setelah hujan turun. Sebagai pengarang. Ahmad Tohari, begitu pandai menggambarkan objek deskripsinya. Penggambaran pelepah pohon kelapa yang meliuk-liuk 'diidentikkan' dengan gadis muda belia yang sedang mandi basah adalah bentuk pemunculan imajinasi pagi pembaca untuk membayangkan suasana yang sedang diceritakan. Sementara itu, kemiringan lereng yang digambarkan 'bak lukisan alam di Bali adalah sarana untuk menjelaskan bahwa lingkungan di tempat yang diceritakan adalah desa yang dihiasi dengan perbukitan.

C. Pendekatan menurut sikap pengarang

Pendekatan menurut sikap pengarang merupakan pendekatan dalam penulisan paragraf deskripsi yang sangat bergantung kepada tujuan yang ingin dicapai, sifat objek, serta pembaca deskripsinya. Dalam menguraikan sebuah gagasan, penulis mungkin mengharapkan agar pembaca merasa tidak puas terhadap suatu tindakan atau keadaan, atau penulis menginginkan agar pembaca juga harus merasakan bahwa persoalan yang tengah dihadapi merupakan masalah yang gawat. Penulis juga dapat membayangkan bahwa akan terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, sehingga pembaca dari mula sudah disiapkan dengan sebuah perasaan yang kurang enak, seram, takut, dan sebagainya (Akhadiah, dalam Suparno, 2002:4.12).

Pengarang harus menetapkan sikap yang akan diterapkan sebelum mulai menulis. Semua detail harus dipusatkan untuk menunjang efek yang ingin dihasilkan. Perincian yang tidak ada kaitannya dan menimbulkan keragu raguan pada pembaca, harus disingkirkan. Penulis dapat memilih, misalnya salah satu sikap, seperti masa bodoh, bersungguh-sungguh, cermat, sikap seenaknya, atau sikap yang ironis (Keraf dalam Suparno, 2002:412). Marilah kita perhatikan contoh sebagaimana dipaparkan Suparno (2002:4.12) berikut ini.
Di hadapanku terbaring jenazah bekas muridku di dalam sebuah peti mati yang biasa disebut terbelo. Almarhumah sedang dihormati dengan suatu tata cara yang teramat ganjil, tanpa kehadiran ayah, ibu, dan saudara-saudara dekatnya. Bahkan tidak seorang kenalan lamanya pun nampak di sini. Padahal mereka semua tinggal di kota ini. Keharuan menyelinap ke dalam hatiku. Dan membersit pula pertanyaan: Mungkinkah aku akan menemui akhir hayat seperti Wati, disingkirkan sanak keluarga dan begitu terasing? Atau barangkali malah jenazahku kelak tidak diurus orang sama sekali seperti halnya mayat-mayat di medan peperangan yang ganas? Dan datanglah jawaban: Mungkin, mungkin, semuanya serba mungkin.

Sebelum suami almarhum muncul di depanku timbul pula pertanyaan tentang bekas muridku itu yang tertuju buat diriku sendiri: Prestasi apakah yang pernah dicapainya selama ini? Sudahkan ia merasakan kebahagiaan dalam usia yang belum mencapai dua puluh delapan? Alangkah singkatnya hidup ini.

(S.N. Ratmana, Mendiang dalam Suparno, 2002)

Kutipan cerpen di atas menggambarkan keterharuan tokoh aku melihat sosok Wati yang meninggal dalam usia muda dan dalam kondisi terasing dari keluarga dan handai tolannya. Kita dapat melihat sikap pengarang yang menyadari bahwa hidup ini sangat singkat dan kematian dirinya dapat pula dalam suasana keterasingan dan tidak menghasilkan prestasi apa-apa.

Berdasarkan contoh-contoh yang disajikan terdapat dua objek yang diungkapkan dalam deskripsi, yakni orang dan tempat. Atas dasar itu, karangan deskripsi dipilah atas dua kategori, yakni karangan deskripsi orang dan karangan deskripsi tempat (Suparno, 2002:4.14).






sumber: Keterampilan Menulis, M. Yunus dkk., 2013, universitas terbuka hal. 5.11

Baca Juga

Bagikan Artikel



Komentar