Faktor-Faktor yang Memengaruhi Kurs Valuta Asing


 

Adanya aliran uang dan modal dalam bentuk valuta asing merupakan salah satu ciri era globalisasi yang cukup menonjol. Aliran valuta asing seakan tidak mengenal kewarganegaraan pemilik atau penerimanya. Aliran valuta asing tersebut dibutuhkan untuk kegiatan perdagangan, investasi, dan spekulasi dari tempat yang mengalami kelebihan (surplus) ke tempat yang kekurangan (defisit). Faktor apa sajakah yang memengaruhi kurs valuta asing di tiap-tiap tempat tersebut? Berikut ini uraiannya.

1. Perbedaan Permintaan dan Penawaran Valuta Asing

Valuta asing merupakan salah satu komoditas ekonomi yang mempunyai permintaan dan penawaran pada bursa valuta asing. Permintaan valuta asing berasal dari impor barang yang menggunakan valas dan eskpor modal yang menyebabkan transfer valuta asing ke luar negeri. Sedangkan, penawaran valuta asing berasal dari ekspor barang yang menggunakan valuta asing dan impor modal yang menyebabkan transfer valuta asing ke luar negeri



Sesuai dengan hukum permintaan dan hukum penawaran, setiap perubahan jumlah valuta asing yang diminta atau ditawarkan dapat memengaruhi harga atau nilai valas tersebut. Perhatikan kurva di atas!

Gambar tersebut menunjukkan interaksi permintaan dan penawaran kurva valuta asing. Garis tegak lurus menggambarkan nilai atau harga valuta asing, yaitu rupiah per dolar Amerika Serikat. Sedangkan, garis mendatar menggambarkan jumlah valuta asing berupa dolar Amerika Serikat. Berdasarkan kurva tersebut terlihat bahwa jika ekspor barang dan jasa Indonesia meningkat, maka penawaran dolar akan meningkat juga. Apabila permintaan dolar tetap, maka akan terjadi perubahan kurs valas. Perubahan tersebut adalah kenaikan nilai kurs rupiah dan penurunan nilai kurs dolar. Sebaliknya, ketika impor Indonesia meningkat, maka permintaan valuta asing dalam bentuk dolar juga meningkat. Apabila penawaran dolar tetap, maka hal ini dapat mengakibatkan turunnya kurs rupiah dan menguatnya nilai mata uang dolar.

2. Posisi Neraca Pembayaran


Neraca pembayaran (balance of payment) merupakan suatu catatan yang disusun secara sistematis tentang semua transaksi ekonomi internasional yang meliputi perdagangan dan keuangan antara penduduk suatu negara dengan penduduk negara lainnya dalam suatu periode tertentu. Contoh kegiatan yang dicatat dalam neraca pembayaran, antara lain transaksi ekspor, impor, aliran modal, dan utang ke luar negeri. Dari berbagai kegiatan tersebut dapat diketahui posisi neraca pem bayaran suatu negara, yaitu berada pada saldo positif (surplus) atau saldo negatif (defisit).

Saldo positif pada monetary account yang menunjukkan bahwa hak-hak pembayaran internasional negara tersebut lebih besar daripada kewajiban-kewajiban yang harus dibayarkan ke luar negeri. Sebaliknya, saldo negatif pada monetary account menunjukkan bahwa kewajiban kewajiban yang harus dibayarkan ke luar negeri lebih besar daripada hak-hak pembayaran yang diterima dari luar negeri. Saldo positif maupun negatif dapat memengaruhi cadangan devisa negara tersebut. 

Bagaimana pengaruh posisi saldo neraca pembayaran terhadap nilai kurs valuta asing. Berikut ini pengaruhnya.

a Saldo yang positif menunjukkan adanya surplus valuta asing. Jumlah valuta asing yang tersedia lebih besar daripada permintaannya. Hal ini dapat membawa sentimen positif karena nilai mata uang domestik lebih stabil daripada bursa valuta asing. Apabila saldo pada tahun ini lebih tinggi daripada tahun sebelumnya, maka nilai mata uang domestik semakin menguat dan semakin stabil.

b. Saldo yang negatif menunjukkan adanya defisit valuta asing. Jumlah valuta asing yang diminta lebih besar daripada yang tersedia. Hal ini dapat membawa sentimen negatif yang berarti nilai mata uang domestik relatif lemah dan kurs dolar dapat meningkat.

3. Tingkat Inflasi


Inflasi merupakan proses atau gejala kenaikan harga barang dan jasa secara umum dalam suatu periode tertentu. Berikut contoh pengaruh inflasi suatu negara terhadap nilai kurs. Pada suatu periode, nilai inflasi di Inggris lebih tinggi daripada di Amerika Serikat. Kedua negara tersebut dapat menghasilkan barang-barang sejenis yang dapat saling mensubstitusi. Dengan adanya inflasi di Inggris, harga barang-barang di Inggris menjadi mahal dan orang lebih suka membeli barang-barang dari Amerika Serikat. Impor Inggris dapat meningkat dan kebutuhan dolar Amerika Serikat dapat meningkat pula. Hal ini dapat memperlemah nilai mata uang Inggris terhadap dolar Amerika Serikat. Di sisi lain, kenaikan harga barang di Amerika Serikat menyebabkan berkurangnya impor Inggris dari Amerika Serikat sehingga permintaan dolar dapat menurun dan nilai kurs dolar dapat turun terhadap pound sterling.

4. Tingkat Bunga


Perkembangan tingkat bunga dapat juga memengaruhi kurs valas. Tingkat bunga yang tinggi di suatu negara dapat menarik masuknya mata uang asing ke negara tersebut. Hal ini dapat berpengaruh pada penguatan nilai kurs terhadap mata uang asing. Hal ini pernah terjadi di Jerman. Ketika Jerman Barat dan Jerman Timur bersatu, dibutuhkan banyak dana untuk membangun Jerman Timur. Pemerintah Jerman kemudian meningkatkan tingkat bunga sehingga menarik modal dari luar negeri ke Jerman, misalnya modal dari Amerika Serikat. Akibatnya, penawaran mata uang dolar di Jerman meningkat dan mata uang euro mengalami penguatan kurs terhadap dolar.

5. Tingkat Pendapatan Nasional


Tingkat pendapatan masyarakat di suatu negara dapat memengaruhi konsumsi masyarakat. Ketika pendapatan masyarakat meningkat, konsumsi juga akan meningkat, baik konsumsi barang produksi dalam negeri maupun barang impor. Ketika permintaan barang impor meningkat, permintaan terhadap valuta asing akan meningkat sehingga menurunkan nilai kurs mata uang negara tersebut terhadap valuta asing.

6. Ekspektasi dan Spekulasi


Adanya ekspektasi dan spekulasi atau rumor yang berkaitan dengan keadaan sosial, ekonomi, dan politik suatu negara dapat berpengaruh terhadap perkembangan nilai. Contohnya, rumor tentang kondisi kesehatan pemimpin suatu negara yang memburuk dapat berdampak pada penurunan kurs mata uang. Contoh lainnya, ketika suatu negara mengalami gangguan keamanan dan kerusuhan sosial yang dapat memengaruhi kestabilan pemerintahan maka nilai kursnya dapat cenderung menurun.

7. Pengawasan Pemerintah


Pengawasan pemerintah dapat diwujudkan dalam bentuk kebijakan fiskal, moneter, dan perdagangan luar negeri. Kebijakan tersebut dapat berpengaruh terhadap permintaan dan penawaran mata uang. Contohnya, kebijakan pemerintah untuk menerapkan kuota impor, yaitu pembatasan jumlah barang tertentu yang boleh diimpor. Kebijakan ini dapat berpengaruh pada turunnya jumlah barang yang diimpor sehingga permintaan mata uang asing juga menurun. Menurunnya permintaan terhadap mata uang asing dapat memperkuat nilai kurs domestik.






Baca Juga

Bagikan Artikel



Komentar