Stratifikasi Sosial dan Diferensiasi Sosial


Stratifikasi Sosial dan Diferensiasi Sosial

a.      Konsep Stratifikasi Sosial

Stratifikasi sosial lebih merujuk pada pembagian sekelompok orang ke dalam tingkatan (strata) yang berjenjang secara vertikal. Jadi, ketika dibahas tentang stratifikasi sosial, biasanya akan lebih banyak mengkaji tentang posisi yang tidak sederajat  antar  orang  per  orang  atau  kelompok  dalam  masyarakat.  Secara umum, stratifikasi sosial juga sering dikaitkan dengan persoalan kesenjangan sosial atau polarisasi sosial (Suyanto dan Narwoko, 2004:169)

Sejak zaman kuno, menurut Aristoteles (Suyanto dan Narwoko, 2004:153), di dalam tiap negara setidaknya terdapat tiga unsur yaitu, mereka yang kaya sekali, mereka yang miskin, dan mereka yang ada di tengah-tengahnya. Hal itu menunjukkan bahwa pada zaman dahulu orang telah mengenal dan mengakui adanya  sistem  stratifikasi  dalam  masyarakat  sebagai  akibat  adanya  sesuatu yang mereka anggap berharga, sehingga ada yang mempunyai kedudukan di atas ada pula yang di bawah.

Stratifikasi sosial lebih berkenaan dengan adanya dua atau labih kelompok- kelompok bertingkat dalam suatu masyarakat tertentu, yang anggota-anggotanya mempunyai kekuasaan, hak-hak istimewa dan prestise yang tidak sama pula. Inti dari stratifikasi sosial adalah perbedaan akses golongan satu dengan golongan masyarakat  lain  dalam  memanfaatkan  sumber  daya.  Jadi,  dalam  stratifikasi sosial, tingkat kekuasaan, hak istimewa dan pretise individu tergantung pada keanggotaannya dalam kelompok sosial, bukan pada karakteristik personalnya.

b.      Karakteristik Stratifikasi Sosial

Secara  rinci, ada  tiga aspek  yang merupakan  karakteristik  stratifikasi sosial, yaitu: 

1)      Perbedaan dalam kemampuan atau kesanggupan.

Anggota masyarakat yang menduduki strata tinggi, tentu memiliki kesanggupan dan kemampuan yang lebih besar dibandingkan anggota masyarakat yang di bawahnya. Contoh: pegawai negeri golongan IV kebanyakan mampu membeli mobil, sedangkan pegawai negeri golongan I dan II tentu hanya akan sanggup membeli sepeda atau sepeda motor saja.

2)      Perbedaan dalam gaya hidup (lifestyle).

Seorang direktur sebuah perusahaan, selain dituntut selalu berpakaian rapi, mereka biasanya juga melengkapi atribut penampilannya dengan asesoris- asesoris lain untuk menunjang kemantapan penampilan, seperti memakai dasi, bersepatu mahal, berolah raga tenis atau golf, memakai pakaian merek terkenal dan perlengkapan-perlengkapan lain yang sesuai dengan statusnya. Seorang direktur perusahaan  besar  yang  berpakaian  kumal besar  kemungkinan  akan menjadi pergunjingan. Sebaliknya, seorang bawahan yang berperilaku seolah- olah direktur tentu juga akan menjadi bahan cemoohan.

3) Perbedaan dalam hal hak dan akses dalam memanfaatkan sumber daya

Seseorang yang menduduki jabatan tinggi biasanya akan semakin banyak hak dan fasilitas yang diperolehnya. Sementara itu, seseorang yang tidak menduduki jabatan strategis apapun tentu hak dan fasilitas yang mampu dinikmati akan semakin kecil, misalnya fasilitas seorang direktur tentu saja berbeda dengan fasilitas yang diperoleh seorang karyawan..

c.      Determinan Stratifikasi Sosial

Faktor-faktor yang menentukan (determinan) dalam proses pembentukan stratifikasi  sosial  yang  terjadi  pada  masyarakat,  umumnya  didasarkan pada ukuran (Soekanto, 2002: 237; Horton dan Hunt, 1999: 7-11):

1) Kekayaan. Kekayaan atau materi biasanya dijadikan sebagai tolak ukur masyarakat dalam   stratifikasi sosial. Semakin banyak jumlah kekayaan seseorang maka semakin atas pula kedudukannya  dalam  strata  sosial. Begitu  pula  sebaliknya,  semakin  kecil  jumlah kekayaan seseorang maka semakin  rendah  pula  kedudukannya.  Kekayaan  atau  materi    tersebut biasanya dilihat pada bentuk/ukuran tempat tinggal, cara berpakaian ataupun barang tersier lainnya yang dimilikinya.

2)      Kekuasaan dan Wewenang. Wewenang dapat dijadikan  tolak ukur dalam  strata  sosial.  Kekuasaan  atau  wewenang dapat mendatangkan kekayaan. Oleh sebab itu, semakin tinggi kekuasaan (jabatan)  seseorang dalam  suatu  masyarakat  maka  semakin  dihormati  pula kedudukannya. Semakin  rendah  jabatannya dalam  suatu lingkungan  sosial masyarakat maka    akan    semakin    diacuhkan pula kedudukannya di  dalam kehidupan bermasyarakat.

3) Kehormatan. Dalam strata sosial masyarakat, orang yang paling berjasa dalam  lingkungan  kemasyarakatannya  biasanya akan  dihormati  bahkan disegani. Ukuran kehormatan ini masih terlihat kental di lingkungan masyarakat tradisional.

4) Pendidikan  atau  Ilmu  Pengetahuan. Ukuran  ilmu  pengetahuan, biasa dipakai oleh orang-orang yang menghargai pendidikan. Semakin tinggi pendidikan seseorang maka akan semakin dihargai pula keberadaannya  di dalam  masyarakat.  Ukuran  ilmu  pengetahuan  ini  biasa  dilihat berdasarkan gelar kesarjanaan ataupun profesi yang dilakoninya.

d.      Bentuk-Bentuk Stratifikasi Sosial

Stratifikasi sosial terjadi dari kebiasaan hubungan antar manusia, yang kemudian ditingkatkan menjadi sebuah simbol sosial. Menurut Raymon Firth, pembentukan stratifikasi awalnya didasarkan pada perbedaan usia dan jenis kelamin (Susanto, 1979:  93).  Dalam  perkembangan  selanjutnya,  masyarakat  selalu  mengenal bentuk dasar stratifikasi, yaitu stratifikasi ekonomi, stratifikasi pendidikan/pekerjaan, dan stratifikasi politik

1)      Stratifikasi Ekonomi

Pelapisan ekonomi dapat dilihat dari segi pendapatan, kekayaan dan pekerjaan. Kemampuan ekonomi yang berbeda-beda dapat menyebabkan terjadinya stratifikasi ekonomi. Orang-orang yang berpendapatan sangat kecil dan tidak memiliki harta benda akan menduduki lapisan bawah. Lapisan atas, misalnya konglomerat, pengusaha besar, pejabat dan pekerja profesional yang berpenghasilan tinggi. Lapisan bawah, misalnya gelandangan, pemulung, buruh tani dan orang-orang miskin lainnya. 

Suatu hal yang perlu diperhatikan adalah bahwa stratifikasi sosial dalam bidang ekonomi ini bersifat terbuka, jadi perpindahan antar kelas dapat terjadi secara bebas sesuai dengan kemampuan seseorang. Berikut pendapat para ahli mengenai stratifikasi ekonomi:

a) Aristoteles,  membagi  masyarakat  secara  ekonomi  menjadi  kelas  atau golongan (Suyanto dan Narwoko, 2004: 153):

(1) Golongan   sangat   kaya;   merupakan   kelompok   terkecil   dalam masyarakat. Mereka terdiri dari pengusaha, tuan tanah dan bangsawan.

(2) Golongan kaya, merupakan golongan yang cukup banyak terdapat di dalam masyarakat. Mereka terdiri dari para pedagang, dan lain-lain.

(3) Golongan miskin, merupakan golongan terbanyak dalam masyarakat. Mereka kebanyakan rakyat biasa.

b)       Karl Marx juga membagi masyarakat menjadi dua  golongan  (Johnson,1986: 120-159), yakni:

(1) Golongan kapitalis atau borjuis, adalah mereka yang menguasai tanah dan alat produksi.

(2) Golongan proletar, adalah mereka yang tidak memiliki tanah dan alat produksi.

c) Pada masyarakat Amerika Serikat, pelapisan masyarakat dibagi menjadi enam kelas yakni (Horton dan Hunt, 1999: 6; Susanto, 1979: 106):

(1) Kelas sosial atas lapisan atas (Upper-upper class) meliputi keluarga- keluarga yang telah lama kaya

(2) Kelas  sosial  atas  lapisan  bawah  (Lower-upper  class)  terdiri  dari kelompok yang belum lama menjadi kaya

(3) Kelas sosial menengah lapisan atas (Upper-middle class) meliputi pengusaha, kaum profesional

(4) Kelas sosial menengah lapisan bawah (Lower-middle class) meliputi pegawai pemerintah, kaum  semi profesional, supervisor, pengrajin terkemuka

(5) Kelas sosial bawah lapisan atas (Upper lower class) meliputi pekerja tetap atau golongan pekerja 

(6) Kelas sosial lapisan sosial bawah-lapisan bawah (Lower-lower class) meliputi para pekerja  tidak tetap,  pengangguran,  buruh  musiman, orang bergantung pada tunjangan.

2)       Stratifikasi Pendidikan/Pekerjaan

Stratifikasi   di   bidang   pendidikan   dan   pekerjaan   bersifat   terbuka,   artinya seseorang dapat naik pada  lapisan pendidikan yang lebih tinggi jika mampu berprestasi.   Dalam bidang pendidikan dapat dijumpai stratifikasi sosial yang tersusun berdasarkan tingkat pendidikan sebagai berikut:

(1) Pendidikan sangat tinggi (profesor, doktor)

(2) Pendidikan tinggi (sarjana)

(3) Pendidikan menengah (SMA)

(4) Pendidikan rendah (SD dan SMP)

(5) Tidak berpendidikan (buta huruf)

Pelapisan yang berbentuk pelapisan sosial dapat ditemukan pula dalam bidang pekerjaan. Pelapisan sosial berdasarkan bidang pekerjaan berpatokan pada keahlian,  kecakapan  dan  keterampilan.  Menurut  klasifikasi  Morell  (Susanto, 1979: 108-110) pelapisan sosial berdasarkan ukuran pekerjaan adalah sebagai berikut:

(1) Elit, adalah orang kaya dan orang-orang yang menempati kedudukan yang oleh masyarakat sangat dihargai

(2) Profesional, orang yang berijazah serta bergelar di dunia pendidikan yang berhasil

(3) Semi-profesional,     seperti     pegawai     kantor,     pedagang,     teknisi berpendidikan menengah dan mereka yang tidak berhasil mencapai gelar

(4) Tenaga terampil, misalnya orang-orang yang mempunyai keterampilan mekanik, pekerja pabrik yang terampil dan pemangkas rambut

(5) Tenaga semi terampil, misalnya pekerja pabrik tanpa keterampilan, dan pelayan restoran

(6) Tenaga  tidak  terlatih  atau  tidak  terdidik,  misalnya  pembantu  rumah tangga, tukang kebun dan penyapu jalan.

Sedangkan pada masa lalu, stratifikasi sosial di desa-desa yang umumnya merupakan masyarakat petani terutama didasarkan pada hak milik atas tanah, sawah, kebun dan rumah. Pada masyarakat Jawa Tengah terdapat stratifikasi didasarkan  pada  kepemilikan  tanah.  Stratifikasi  itu  adalah  sebagai  berikut (Susanto, 1979: 102):

(1) Golongan priyayi, yaitu golongan pegawai pemerintah desa atau para pemimpin formal di desa

(2) Golongan kuli kenceng, yaitu golongan pemilik sawah yang juga berperan sebagai pedagang perantara

(3) Golongan kuli gundul, yaitu golongan penggarap sawah dengan sistem maro (bagi hasil)

(4) Golongan kuli karang kopek, yaitu golongan buruh tani yang mempunyai tempat tinggal dan pekarangan saja, mereka tidak mempunyai tanah pertanian sendiri.

3)      Stratifikasi Politik

Stratifikasi  dalam  bidang  politik  dilihat  dari  faktor  kekuasaan.  Mereka  yang memiliki kekuasaan atau wewenang terbesar akan menempati lapisan teratas. Sebaliknya, mereka yang tidak memiliki kekuasaan sama sekali menduduki lapisan   politik   terbawah.   Kekuasaan   dalam   suatu   masyarakat   biasanya dijalankan oleh segolongan kecil masyarakat. Golongan tersebut dinamakan the ruling class atau golongan yang berkuasa. Mereka ini menduduki lapisan tertinggi dalam stratifikasi politik sebagai elit politik. Mereka inilah yang memegang dan menjalankan kekuasaan dalam suatu negara.

Stratifikasi   politik   atau   pelapisan   sosial   berdasarkan   kekuasaan   bersifat bertingkat-tingkat (hierarki) yang menyerupai suatu piramida. Menurut Mac Iver, ada tiga tipe umum dalam sistem dan lapisan kekuasaan atau piramida kekuasaan, yaitu tipe kasta, tipe oligarki dan tipe demokrati (Keesing, 1999: 80- 85).

(1) Tipe Kasta, adalah sistem pelapisan kekuasaan dengan garis pemisah yang tegas dan kaku. Tipe ini biasanya terdapat pada masyarakat yang menganut sistem kasta, dimana hampir tidak terjadi mobilitas vertikal. Garis pemisah antara masing-masing lapisan hampir tak mungkin ditembus

(2) Tipe Oligarki adalah sistem lapisan kekuasaan yang masih mempunyai garis pemisah tegas, tapi dasar pembedaan kelas sosial ditentukan oleh kebudayaan masyarakat, terutama kesempatan bagi para warga masyarakat unuk memperoleh kekuasaan tertentu. Bedanya dengan tipe kasta adalah walaupun kedudukan warga masih didasarkan pada kelahiran, individu masih diberi kesempatan untuk naik lapisan.

(3) Tipe Demokratis. Pada tipe demokratis, garis-garis pemisah antarlapisan sifatnya fleksibel dan tidak kaku. Kelahiran tidak menentukan kedudukan dalam lapisan-lapisan, yang terpenting adalah kemampuan dan kadang- kadang juga faktor keberuntungan, misalnya anggota organisasi dalam suatu masyarakat demokratis yang dapat mencapai kedudukan tertentu melalui organisasi politiknya.

e.      Proses Terjadinya Stratifikasi Sosial

Stratifikasi sosial lahir sebagai akibat dari adanya pembagian jenis pekerjaan. Stratifikasi sosial terdiri atas orang-orang yang memiliki status sosial yang sama dan  saling  menilai  satu  sama  lainnya  sebagai  anggota  masyarakat  yang sederajat. Beberapa kondisi umum yang mendorong terciptanya stratifikasi sosial adalah (Syarbani dan Rusdiyanta, 2009: 52) :

1) Perbedaan  ras  dan  budaya,  yaitu  ketidaksamaan  ciri  biologis  seperti warna kulit, latar belakang etnis dan budaya dapat mengarah kepada stratifikasi sosial dalam masyarakat, sehingga cenderung terjadi suatu kelompok menguasai suatu kelompok lain;

2) Pembagian   tugas;   pembagian   tugas  dalam   masyarakat   cenderung menunjukkan sistem spesialisasi. Posisi-posisi dalam spesialisasi ini berkaitan dengan perbedaan fungsi stratifikasi dan kekuasaan;

3) Kelangkaan,  yaitu  secara  berangsur-angsur  stratifikasi  sosial  terwujud karena alokasi hak dan kekuasaan yang jarang atau langka.

Menurut Robin Williams Jr. (1960:88-89), terjadinya stratifikasi sosial atau sistem stratifikasi dalam masyarakat dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu sistem stratifikasi yang terjadi dengan sendirinya artinya tanpa disengaja, dan sistem stratifikasi yang terjadi karena dengan sengaja disusun untuk mencapai suatu tujuan tertentu. 

Lapisan-lapisan dalam masyarakat yang terjadi dengan  sendirinya atau tidak disengaja misalnya lapisan yang didasarkan pada umur, jenis kelamin,   mungkin dalam batas-batas tertentu berdasarkan harta. Sedangkan sistem lapisan dalam masyarakat yang sengaja disusun untuk mencapai tujuan tertentu biasanya berkaitan dengan pembagian kekuasaan dan wewenang yang resmi dalam organisasi formal seperti pemerintahan, perusahaan, partai politik, angkatan bersenjata dan sebagainya.

f.       Sifat Stratifikasi Sosial

Ada tiga sifat dari sistem stratifikasi masyarakat (Suyanto dan Narwoko, 2004; Soekanto, 2002: 234), yaitu bersifat tertutup (closed social stratification), bersifat terbuka (opened social stratification), dan   bersifat campuran (mixed social stratification).

1) Sistem stratifikasi tertutup 

membatasi kemungkinan berpindahnya seseorang dari lapisan satu ke lapisan yang lain, baik ke lapisan atas ataupun   ke   lapisan   yang   lebih   rendah.   Dalam   sistem   stratifikasi masyarakat  tertutup  semacam  ini  satu-satunya  cara  untuk  menjadi anggota   suatu   lapisan   tertentu   dalam   masyarakat   adalah   karena kelahiran.

Sistem tertutup dapat dilihat dengan jelas dalam masyarakat India yang berkasta, dalam batas-batas tertentu pada masyarakat Bali, juga dapat dijumpai di Amerika Serikat di mana terdapat pemisahan antara golongan kulit putih dan golongan kulit berwarna khususnya Negro yang   dikenal istilah segregation atau sistem Apartheid di Afrika Selatan. 

Di dalam masyarakat yang semakin modern dan kritis, sistem stratifikasi tertutup yang diikuti dengan pembagian hak dan kewajiban yang dirasa tidak adil biasanya akan banyak dipersoalkan. Di Afrika Selatan, diskriminasi hak dan kewajiban antara warga kulit hitam dan kulit putih melalui politik Apartheid (pemisahan) dari tahun 1948-1991 telah melahirkan berbagai reaksi ketidakpuasan. Pada satu titik dimana perlakuan diskriminasi dinilai sudah tidak lagi bisa ditolerir dan pada saat yang sama ada momen tertentu yang menyulut, maka dengan mudah akan timbul kerusuhan.

2) Sistem stratifikasi terbuka; 

setiap anggota masyarakat mempunyai kesempatan untuk berusaha dengan kemampuannya sendiri. Apabila mampu dan beruntung seseorang dapat untuk naik ke lapisan yang lebih atas, atau bagi mereka yang tidak beruntung dapat turun ke lapisan yang lebih rendah.

Sebuah perusahaan yang dikelola secara profesional dan tidak atas dasar ikatan-ikatan primordial adalah salah satu contoh dari sistem stratifikasi yang sifatnya terbuka. Seorang karyawan, dari manapun asal dan bagaimanapun  latar  belakang  keluarganya,  serta  apapun  jenis kelaminnya sepanjang dia memang berdedikasi, memiliki kemampuan yang memadai, dan mampu bersaing dengan sesama karyawan lain secara profesional, maka perjalanan kariernya kemungkinan besar akan lancar. Dalam birokrasi, hal tersebut distilahkan sebagai meritokrasi. 

Dalam konteks yang lebih makro, contoh sistem stratifikasi yang terbuka adalah sistem kelas. Pada sistem kelas institusi dalam masyarakat mulai cenderung menentang perlakuan yang berbeda, dan sebagian besar anggota kelompok tidak pasrah terhadap kedudukan yang diterimanya. Mereka akan berusaha, berjuang mengubah status atau kedudukannya.

3)  Sistem stratifikasi campuran merupakan kombinasi antara stratifikasi tertutup dan terbuka. Misalnya, seorang Bali berkasta Brahmana mempunyai kedudukan terhormat di Bali, namun apabila ia pindah  ke Jakarta menjadi buruh, ia memperoleh kedudukan rendah. Maka, ia harus menyesuaikan diri dengan aturan kelompok masyarakat di Jakarta.

g.        Konsekuensi Stratifikasi Sosial

Perbedaan tingkat pendidikan, kekayaan, status atau perbedaan kelas sosial tidak hanya membawa konsekuensi (dampak) dalam   gaya hidup dan tindakan,  tetapi  juga  menimbulkan  perbedaan dalam  hal  peluang  hidup  dan kesehatan, peluang bekerja dan berusaha, respon  terhadap perubahan, pola sosialisasi  dalam  keluarga,  serta  perilaku  politik  (Suyanto  dan  Narwoko, 2004:182).

1)   Gaya Hidup

Perbedaan kelas sosial dalam banyak hal mempengaruhi perilaku dan wujud gaya hidup yang ditampilkan.  Gaya hidup dan penampilan kelas sosial menengah dan atas pada umumnya lebih atraktif dan eksklusif. 

Berbeda dengan kelas sosial bawah yang lebih bersifat konservatif, baik dari segi mode, selera makan, perawatan kesehatan, dan pilihan pendidikan. Atribut-atribut yang bersifat massal, atau pasaran, umumnya selalu dihindari oleh orang-orang yang secara ekonomi lebih mapan. Bagi mereka, atribut adalah simbol status yang mencerminkan   status yang berbeda dari kelas yang lebih rendah.

Contoh,  dalam  hal  pemilihan  jenis  musik.  Seseorang  yang  merasa anggota kelas menengah ke atas akan merasa turun gengsi dan malu bila disebut sebagai penggemar musik dangdut. Hal itu terjadi karena stigma masyarakat yang menempatkan musik dangdut sebagai budaya pinggiran yang banyak diputar di daerah pedesaan.

Salah satu ciri dari orang kelas sosial bawah adalah sering mengapresiasi dan meniru gaya hidup kelas sosial di atasnya. Misalnya, dalam memilih pakaian,  sepatu,  dan  asesoris,  banyak  orang   kelas  sosial  bawah mencoba  menirunya  dengan  cara  membeli  barang-barang  bermerek tiruan yang biasa dikenakan oleh kelas menengah ke atas.

2)   Peluang Hidup dan Kesehatan

Studi  yang  dilakukan  oleh  Robert  Chambers  (Suyanto  dan  Narwoko, 2004:185), menemukan bahwa di lingkungan keluarga miskin, umumnya terjadi   lemah   jasmani   dan   rentan   terserang   penyakit.      Menurut Antonovsky (Horton dan Hunt, 1999), setidaknya terdapat 2 faktor yang beinteraksi  untuk menghasilkan hubungan antara  kelas  sosial dengan kesehatan.  Pertama,  para   anggota   kelas   sosial   yang   lebih   tinggi cenderung  lebih  mudah  menikmati  fasilitas  sanitasi,  tindakan pencegahan, serta perawatan medis yang lebih baik. Kedua, orang-orang yang mengidap penyakit kronis, status sosialnya cenderung menurun dan sulit mengalami mobilitas vertikal karena hambatan penyakit yang menghalangi pekerjaan.

3)   Respon Terhadap Perubahan

Kelas sosial bawah merupakan  kelompok yang paling  lambat menerapkan kecenderungan baru, terutama dalam hal cara pengambilan keputusan. Terbatasnya pendidikan menyebabkan orang-orang dalam kelas sosial bawah ragu-ragu untuk menerima pemikiran dan cara-cara baru serta curiga terhadap penemuan hal-hal baru (Horton dan  Hunt,1999).

Sebaliknya pada kelas sosial atas, yang mayoritas berpendidikan relatif memadai, cenderung lebih responsif terhadap ide-ide baru, sehingga mereka dapat dengan cepat memanfaatkan program baru atau inovasi yang diketahuinya.

4)   Peluang Bekerja dan Berusaha

Peluang bekerja dan berusaha antara kelas sosial bawah dengan kelas sosial   di   atasnya   secara   umum   jauh   berbeda.   Dengan   koneksi, kekuasaan, pendidikan, dan modal yang dimiliki, kelas sosial atas relatif lebih mudah membuka usaha atau mencari  pekerjaan  sesuai dengan minatnya. Sedangkan pada kelas sosial bawah, perangkap kemiskinan telah membuat mereka rentan, sulit mendapatkan kepercayaan dan sulit mendapatkan akses dan jaringan sosial.

5)   Kebahagiaan dan Sosialisasi dalam Keluarga

Kelas sosial nampaknya berkaitan erat dengan terpenuhinya sebuah kebahagiaan. Orang-orang dalam keluarga kelas menengah ke atas lebih mampu untuk memenuhi kebutuhan mereka, sehingga mereka lebih berkemungkinan  untuk  merasa  bahagia  daripada  orang-orang  yang kurang berada (Horton dan Hunt, 1999: 20). Pada keluarga kelas bawah, masalah mental lebih sering dijumpai. Kemiskinan menyebabkan orang minim jaminan pekerjaan, lebih banyak tagihan hutang, lebih banyak terjebak dalam alkoholisme, lebih rentan terlibat tindakan kriminal, lebih rentan terjadi disharmoni keluarga hingga menyebabkan kekerasan dalam keluarga (Henslin, 2006: 221).

6)   Perilaku Politik

Studi yang dilakukan para ahli menyimpulkan bahwa semakin tinggi kelas sosial, maka semakin proaktif individu dalam berperilaku politik, seperti mendaftarkan  diri  sebagai  pemilih,  berpartisipasi  dalam  memberikan suara, interes terhadap masalah politik, menjadi anggota organisasi, dan bahkan berusaha mempengaruhi pandangan politik orang lain (Suyanto dan Narwoko, 2004: 190).

Tumbuhnya sikap kritis di lingkungan kelas menengah ke atas ikut mempengaruhi tingkat partisipasi politik. Selain itu, intensitas keterlibatan kelompok berpendidikan, terutama kelas menengah ke atas, dalam berbagai perkembangan informasi melalui media massa, merupakan penyebab kelompok tersebut mudah mencerna permasalahan politik atau bahkan ikut bermain di dalamnya (Henslin, 2006: 219). Kelas menengah, dalam banyak hal sering dipandang dan diharapkan sebagai motor penggerak perubahan

b. Diferensiasi Sosial

Diferensiasi sosial merupakan perbedaan-perbedaan individu atau kelompok dalam struktur sosial yang bersifat horizontal. Beberapa jenis diferensiasi sosial dalam masyarakat sebagai berikut.

1) Diferensiasi Agama. Diferensiasi agama terjadi dalam realitas masyarakat yang terdiri atas individu yang menganut agama berbeda. Setiap  agama  memberikan  pedoman  kepada  pemeluknya  mengenai tata cara yang baik. Oleh karena itu, agama bersifat sejajar atau setara satu dengan lain.

2) Diferensiasi  Ras.  Ras  adalah  sekelompok  manusia  yang  berbeda dengan kelompok-kelompok lain berdasarkan ciri-ciri fisik bawaan. Ciri fisik sebagai dasar pembagian ras meliputi ciri kualitas dan kuantitas. Ciri kualitas berkaitan dengan warna kulit, bentuk rambut, bentuk bibir, dan bentuk lipatan mata. Sementara itu, ciri kuantitas meliputi tinggi badan, berat badan, dan indeks kepala.

3) Diferensiasi  Gender.  Diferensiasi  gender  merupakan   pembedaan sosial berdasarkan perbedaaan peran laki-laki dan perempuan secara budaya. Dilihat dari sisi gender, laki-laki dan perempuan memiliki kesamaan kedudukan dan hak. Sebagai contoh kesamaan kedudukan laki-laki dan perempuan dalam pekerjaan.

4) Diferensiasi   Pekerjaan/Profesi.   Keberagaman    profesi    tergolong sebagai  diferensiasi.  Profesi  atau  pekerjaan berkaitan  dengan  suatu keterampilan atau keahlian khusus seseorang. Oleh karena itu, tidak ada pekerjaan yang lebih baik atau tinggi kedudukannya. Setiap pekerjaan  mem-  butuhkan  keahlian  dan  ilmu  khusus  sehingga  tidak setiap orang dapat menjalankannya. Perbedaan mengenai profesi ini disebabkan oleh beberapa faktor, yaitu letak geografis, perbedaan iklim, perbedaan ideologi, tingkat pendidikan, dan tingkat ekonomi.

c.  Pengaruh Struktur Sosial dalam Masyarakat

Diferensiasi sosial dan stratifikasi sosial berpengaruh dalam kehidupan masyarakat. Pengaruh tersebut muncul sebagai bentuk reaksi masyarakat terhadap perbedaan-perbedaan sosial.

1)      Pengaruh Stratifikasi Sosial

Pengaruh stratifikasi sosial dalam masyarakat sebagai berikut.

a) Pendidikan. Masyarakat lapisan atas memiliki kemampuan mengakses dan meningkatkan strata pendidikan. Sebaliknya, masyarakat kelas menengah ke bawah memilih pendidikan sesuai kemampuan.

b) Tempat tinggal. Masyarakat kelas atas biasanya mempunyai tempat tinggal mewah menyesuaikan status sosialnya. Sebaliknya, masyarakat kelas me- nengah ke bawah lebih memilih membangun rumah sederhana.

c) Pemenuhan  kesehatan.  Masyarakat kelas  atas  mampu mengakses  pe- layanan kesehatan terbaik. Adapun masyarakat kelas menengah ke bawah memiliki  kemampuan  ekonomi  untuk  mengakses  pelayanan  kesehatan lebih rendah.

d)      Gaya hidup. Golongan kelas atas cenderung memiliki gaya hidup mewah.

Sebaliknya, masyarakat kelas menengah ke bawah memiliki gaya hidup yang sederhana.

e) Hobi dan rekreasi. Hobi dan rekreasi masyarakat kelas atas cenderung membutuhkan banyak biaya. Sementara itu, masyarakat menengah ke bawah memilih rekreasi yang lebih terjangkau.

2)  Pengaruh Diferensiasi Sosial

Pengaruh diferensiasi sosial terhadap kehidupan masyarakat sebagai berikut:

a) Etnosentrisme     yaitu     pandangan     yang     cenderung     menganggap kelompoknya lebih baik dibandingkan kelompok lain.

b) Primordialisme  yaitu  pandangan  atau  paham  yang  menunjukkan  sikap berpegang  teguh  pada  hal-hal  yang  sejak  semula  melekat  pada  diri individu.

c)      Politik  aliran/sektarian  yaitu  keadaan  suatu  kelompok  atau  organisasi tertentu dikelilingi atau diikuti oleh sejumlah organisasi lain yang memiliki kesamaan pandangan dan ideologi tertentu.

d)      Rasisme yaitu pandangan diskriminasi berdasarkan perbedaan fisik seperti perbedaan warna kulit.

d.  Tahap-Tahap Perkembangan Struktur Sosial Masyarakat

Menurut  Selo  Soemardjan  (1964),  perkembangan  struktur  sosial  masyarakat dibagi menjadi tiga bentuk berikut.

1)      Masyarakat Sederhana

Ciri-ciri struktur sosial masyarakat sederhana sebagai berikut.

a)      Memiliki ikatan organisasi berdasarkan tradisi turun-temurun. 

b)      Memiliki ikatan kekeluargaan sangat kuat.

c)      Mengedepankan sistem gotong royong.

d)      Hasil produksi tidak untuk dijual, tetapi untuk dikonsumsi sendiri. 

e)      Masih memiliki kepercayaan terhadap kekuatan gaib.

f)       Menerapkan sistem hukum tidak tertulis.

2)      Masyarakat Madya

Ciri-ciri struktur sosial masyarakat madya sebagai berikut.

a)      Intensitas ikatan kekeluargaan tidak seerat masyarakat sederhana. 

b)      Lebih terbuka terhadap pengaruh perubahan sosial.

c) Mulai memiliki pemikiran rasional meskipun tetap memercayai kekuatan gaib.

d)      Mulai mengenal sistem diferensiasi dan stratifikasi sosial. 

e)      Mulai membentuk lembaga formal.

f)       Menerapkan sistem hukum tertulis dan tidak tertulis.

3)      Masyarakat Modern

Ciri-ciri struktur sosial masyarakat modern sebagai berikut. 

a)      Membentuk stratifikasi sosial berdasarkan keahlian. 

b)      Hubungan sosial berdasarkan kepentingan pribadi.

c)      Mengembangkan pola pikir positivis.

d)      Memiliki tingkat ilmu pengetahuan tinggi.

e)      Membentuk hubungan sosial bersifat terbuka. 

f)       Memberlakukan sistem hukum formal/ tertulis. 

4. Mobilitas Sosial

Menurut Kimball Young (Soekanto, 2002: 249) mobilitas sosial atau gerak sosial atau social mobility adalah suatu gerak dalam struktur sosial (social structure) yaitu  pola-pola  tertentu  yang  mengatur  organisasi  suatu  kelompok  sosial. Struktur sosial mencakup sifat-sifat hubungan antara individu dalam kelompok dan hubungan antara individu dengan kelompoknya. 

Pitirim A. Sorokin (Sunarto, 2004) menyebutkan bahwa  mobilitas sosial menjelaskan beberapa perpindahan dari seorang individu atau objek sosial atau nilai, apapun yang diakibatkan karena kreasi atau perubahan akibat aktivitas manusia dari posisi sosial yang satu ke posisi sosial lainnya. Horton dan Hunt (1999: 36) menyatakan bahwa mobilitas sosial (social mobility) dapat diartikan sebagai suatu  gerak perpindahan  dari suatu kelas sosial ke kelas sosial lainnya.

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa mobilitas sosial adalah posisi sosial seseorang yang mengalami gerak atau perpindahan dari satu posisi sosial ke posisi sosial yang lain. Mobilitas sosial mudah dilaksanakan dalam masyarakat dengan   sistem   stratifikasi   sosial   terbuka   dan   sulit   dilaksanakan   dalam masyarakat berkelas sosial tertutup.

Konsep mobilitas sosial tidak dapat dipisahkan dengan konsep serta dimensi (kriteria) stratifikasi sosial. Seringkali konsep mobilitas sosial disamakan dengan konsep mobilitas penduduk (population mobility).   Secara konseptual, antar keduanya berbeda.  Mobilitas  sosial terfokus pada  perpindahan  status sosial, sedangkan mobilitas penduduk terkait dengan perpindahan secara geografis (teritorial), baik perpindahan tempat tinggal dan atau tempat bekerja.

a.  Bentuk-Bentuk Mobilitas Sosial

Pitirim  A.  Sorokin  menyebut  mobilitas  sosial  dengan  istilah  gerak  sosial (Soekanto, 2002: 249). Ada dua prinsip bentuk gerak sosial meliputi gerak sosial horisontal dan gerak sosial vertikal.

Gerak sosial horisontal merupakan peralihan individu atau obyek-obyek sosial lainnya dari suatu kelompok sosial ke kelompok sosial lainnya yang sederajat, dan  dengan  gerak  sosial  yang  horizontal  tidak  terjadi  perubahan  derajat kedudukan seseorang ataupun suatu obyek sosial. Contoh: Seorang cleaning service beralih profesi menjadi office boy.

Gerak sosial vertikal dimaksudkan sebagai perpindahan individu atau obyek sosial dari suatu kedudukan sosial ke kedudukan sosial lainnya yang tidak sederajat. Ada dua jenis gerak sosial vertikal, meliputi:  

(a) Gerak sosial vertikal naik (social climbing) yaitu masuknya individu yang mempunyai kedudukan rendah ke dalam kedudukan yang lebih tinggi. Contoh: Anak seorang tukang bubur  yang karena ketekunannya menjadi sarjana, yang menjadikan kedudukan keluarganya menjadi terpandang dan naik karena menjadi keluarga “sarjana”; 

(b) Gerak sosial menurun (social sinking) mempunyai dua bentuk utama yaitu:

(1)   Turunnya   kedudukan   individu   ke   kedudukan   yang   lebih   rendah derajatnya. Contoh: Seseorang pejabat sebuah instansi yang kaya dan terhormat, tiba-tiba diketahui telah menyelewengkan uang perusahaan, akhirnya  ia  dipecat,  harta  kekayaannya disita dan  ia  menjadi  orang miskin dan pengangguran.

(2)  Turunnya derajat kelompok individu yang dapat berupa disintegrasi kelompok sebagai kesatuan. Contoh: Sekelompok buruh yang berdemo menuntut kesejahteraan dan jaminan kerja dapat mengalami disintegrasi dengan seluruh buruh yang ada.

Henslin (2006: 221-222) menyebut ada tiga tipe dasar mobilitas yaitu mobilitas antargenerasi, mobilitas struktural dan mobilitas pertukaran.

Mobilitas antargenerasi (intergenerational mobility) merujuk pada suatu perubahan yang terjadi di antara generasi-generasi. Jika generasi sekarang (anak) berada pada tingkat kelas sosial lebih tinggi dari generasi sebelumnya (orang tua), maka keadaan ini dinamakan mobilitas sosial ke atas (upward social mobility). Sebaliknya, apabila seorang anak dalam bisnisnya mengalami kebangkrutan, lantas kemudian meminta bantuan orang tuanya, maka kondisi ini dinamakan mobilitas sosial ke bawah (downward social mobility).

Mobilitas struktural (structural mobility) merujuk pada perubahan dalam masyarakat yang menyebabkan sejumlah besar orang naik atau turun tangga kelas sosial. Pesatnya perkembangan teknologi dan globalisasi telah membuka banyak peluang untuk bermobilitas dengan menghadirkan beragam jenis pekerjaan baru. Sejumlah besar orang mengikuti pendidikan, pelatihan, kursus, pindah pekerjaan dari kerah biru ke kerah putih. Meskipun hal ini melibatkan upaya individu, namun yang melandasi mobilitas ini adalah  perubahan pada struktur pekerjaan. Dengan kata lain, perubahan status seseorang bukan karena perilaku individu melainkan karena perubahan struktural dalam masyarakat.

Mobilitas pertukaran (exchange mobility) terjadi ketika sejumlah besar besar masyarakat naik dan turun tangga kelas sosial secara seimbang, proporsi kelas- kelas sosial tetap sama. Diandaikan bahwa sebanyak satu juta orang dilatih dengan teknologi baru lalu mereka naik tingkat kelas sosial. Di sisi lain ada sekitar satu juta orang yang tergeser kelas sosialnya akibat kegagalan pengembangan perusahaan atau terkena pemutusan hubungan kerja. Diasumsikan hasil akhirnya adalah keseimbangan, dan sistem kelas pada dasarnya tetap tak tersentuh.

b.      Prinsip-Prinsip Umum Mobilitas Sosial

Dalam  mempelajari mobilitas sosial, harus dipahami beberapa  prinsip  umum yang terdapat di dalam mobilitas itu sendiri (Kanto, 2007).

1.  Tidak  ada  masyarakat  yang  memiliki  sistem  stratifikasi  sosial  mutlak tertutup (absolutely closed social stratification) di mana sama sekali tidak ada mobilitas sosial vertikal.  Dalam masyarakat yang menerapkan sistem kasta sekalipun, proses mobilitas sosial vertikal pasti terjadi, hanya saja frekuensinya sangat terbatas.   Misalnya turun dari kasta atas karena melakukan penyimpangan norma, atau dari kasta bawah bisa naik ke kasta yang lebih atas melalui perkawinan.

2.  Betapapun terbukanya sistem stratifikasi sosial tak mungkin bersifat mutlak terbuka (absolutely open social stratification).  Artinya, mobilitas sosial tidak dapat dilakukan sebebas-bebasnya, sedikit banyak pasti ada hambatan- hambatannya, terutama untuk mobilitas sosial vertikal naik.

3.  Sistem  stratifikasi  sosial  dalam  masyarakat  cenderung  bersifat  relatif terbuka (relatively open social stratification) atau relatif tertutup (relatively closed social stratification).   Pada masyarakat yang satu memiliki sistem statifikasi  sosial  yang  relatif  lebih  terbuka  dibandingkan  masyarakat lainnya, atau sebaliknya. Ini berarti bahwa fenomena terjadinya mobilitas sosial dalam masyarakat cukup beragam.

4.  Mobilitas sosial yang berlaku secara umum bagi semua tipe masyarakat tidak mungkin ada, karena setiap masyarakat cenderung memiliki ciri-ciri spesifik bagi proses mobilitas sosialnya.   Hal ini bisa disebabkan karena perbedaan budaya, kondisi sosial ekonomi masyarakat dan lingkungannya.

5. Beragam faktor, baik sosio-kultural, ekonomi bahkan politik, cenderung memiliki pengaruh yang berbeda terhadap laju mobilitas sosial dalam masyarakat maupun negara.

c.      Determinan Mobilitas Sosial

Fenomena mobilitas sosial sangat kompleks, oleh karena itu baik faktor penentu maupun prosesnya juga sangat beragam. Dalam masyarakat terdapat beberapa faktor penyebab pokok mobilitas sosial, antara lain (Kanto, 2007):

1)  Sifat dari sistem stratifikasi sosial dalam masyarakat

Pada masyarakat yang memiliki sistem stratifikasi sosial relatif terbuka akan memberi peluang meningkatnya proses mobilitas sosial vertikal naik. Sebaliknya yang relatif tertutup bisa menghambat proses mobilitas sosial vertikal naik. Sifat sistem stratifikasi sosial ini kurang berpengaruh (cenderung netral) terhadap proses mobilitas sosial horisontal.

2)  Kondisi sosial budaya dan ekonomi masyarakat

a) Nilai dan norma sosial yang dulunya menghambat proses mobilitas sosial secara bertahap berubah menjadi netral dan bahkan memberikan toleransi meningkatnya proses mobilitas sosial, baik vertikal maupun horisontal. Pengaruh yang cukup signifikan terlihat dari meningkatnya proses mobilitas sosial  kaum  perempuan,  terutama di daerah pedesaan, baik di  bidang pendidikan maupun pekerjaan.

b) Tingkat pendidikan masyarakat yang semakin maju.  Merupakan salah satu faktor pendorong terciptanya masyarakat maju dan modern yang sarat dengan proses mobilitas sosial.  Meningkatnya fenomena mobilitas sosial dalam masyarakat transisi (dari tradisional ke modern) dan masyarakat modern, pada gilirannya akan berdampak pada semakin kompleksnya struktur stratifikasi sosial.

c) Kondisi   ekonomi   masyarakat.  Cukup   baiknya   kondisi   ekonomi masyarakat akan memberikan peluang yang besar terhadap laju mobilitas sosial  vertikal  karena  sifatnya  yang  kumulatif.     Dipihak  lain,  kondisi ekonomi yang kurang menguntungkan, misalnya kemiskinan, cenderung memotivasi individu untuk melakukan mobilitas sosial agar bisa keluar dari lingkaran kemiskinan dalam rangka mencapai kehidupan yang lebih sejahtera.

3) Kondisi lingkungan luar yang memberi peluang terjadinya mobilitas sosial

a)     Nilai dan norma sosial yang lebih longgar

b)     Kesempatan kerja dan peluang berusaha cukup tersedia

c)     Peluang untuk berprestasi (peningkatan karier) lebih besar

d)     Fasilitas umum (misalnya lembaga pendidikan) cukup memadai

e) Adaptasi antar budaya relatif mudah, baik melalui proses asimilasi budaya maupun akulturasi.

4) Motivasi individu, khususnya generasi muda untuk melakukan mobilitas sosial. Hal ini ada kaitannya dengan motivasi yang  cukup besar untuk melakukan perubahan,  dan cenderung mulai meninggalkan sifat fatalistik (pasrah pada nasib)

5) Tersedianya   saluran  mobilitas   sosial,  Menurut   Pitirim   A.   Sorokin (Soekanto,  2002:  252-254),  proses  mobilitas  sosial  vertikal     melalui saluran-saluran tadi disebut social circulation. Adapun saluran yang terpenting adalah angkatan bersenjata, lembaga-lembaga keagamaan, sekolah-sekolah, organisasi politik, organisasi ekonomi dan organisasi profesi.

Sementara    itu    Sadiyo    (1996:   26-28)   menyebutkan    faktor-faktor   yang mempengaruhi mobilitas sosial sebagai berikut:

1) Perubahan kondisi sosial. Struktur masyarakat dapat berubah dengan sendirinya  karena  adanya  perubahan  dari  dalam  maupun  dari  luar masyarakat. Kemajuan teknologi misalnya dapat membuka kemungkinan timbulnya mobilitas ke atas, perubahan ideologi pun juga dapat menimbulkan stratifikasi baru.

2) Ekspansi   teritorial   dan   gerak   populasi.   Ekspansi   teritorial   dan perpindahan penduduk yang cepat, membuktikan ciri fleksibilitas struktur sosial dan mobilitas sosial.

3) Pembatasan komunikasi. Situasi-situasi yang membatasi komunikasi di antara strata yang beraneka ragam itu menghalangi pertukaran pengetahuan dan pengalaman di antara mereka. Hal ini akan memperkokoh garis pembatas di antara strata yang ada, dan akan menghalangi mobilitas sosial.

4) Pembagian kerja. Besarnya kemungkinan bagi terjadinya mobilitas, relatif dipengaruhi oleh tingkat pembagian kerja yang ada. Jika tingkat pembagian kerja tinggi dan sangat dispesialisasikan, maka mobilitas sosial akan menjadi lemah, karena mobilitas sosial akan menyulitkan individu bergerak dari   satu   stata   ke   strata   lain,   karena   spesialisasi   kerja   menuntut ketrampilan khusus.

5)      Tingkat fertilitas yang berbeda

Tingkat kelahiran yang tinggi dari kelas-kelas yang lebih rendah membatasi anggota-anggota keluarganya meningkatkan mobilitas sosial akibat rendahnya tingkat kehidupan secara ekonomis.

6)      Situasi politik

Tidak sedikit penduduk meninggalkan negara sendiri pindah ke negara lain karena sistem politik di negaranya yang tidak mereka setujui. Misalnya pengungsi Myanmar, Kamboja, Afganistan , dan lain-lain.

d. Faktor Penghambat Mobilitas Sosial

Masyarakat selalu berusaha untuk meningkatkan kesejahteraannya dengan mengadakan mobilitas sosial, namun usaha itu selalu ada hambatan-hambatan. Adapun berbagai faktor yang menghambat  terjadinya mobilitas sosial, antara lain:

1) Kemiskinan   dapat   membatasi   kesempatan   bagi   orang-orang   untuk berkembang dan mencapai kemajuan sosial. Kemiskinan ini bukan hanya kemiskinan material, tetapi juga kemiskinan struktural, kemiskinan kultural, dan kemiskinan mental.

2)   Perbedaan jenis kelamin dalam masyarakat berpengaruh dalam prestasi,

kekuasaan,  status  sosial,  dan  kesempatan-kesempatan  untuk meningkatkan derajat kehidupan. Hal ini mengakibatkan adanya perbedaan mobiltias ke atas. Dalam banyak masyarakat, pria dipandang lebih tinggi dan cenderung menjadi lebih mobil daripada wanita.

3) Perbedaan  rasial  dan  agama;  dalam  kaitan  dengan  status  sosial, merupakan  faktor  penting  bagi    terciptanya  sistem  kelas  tertutup  atau kasta, yang tidak memungkinkan mobilitas vertikal, misalnya sistem kasta di India. Pada masyarakat yang memiliki perbedaan tajam tentang rasial, maka hanya mereka yang superior yang dianggap mampu untuk melaksanakan berbagai aktivitas sosial, sedangkan mereka yang dianggap inferior sangat dibatasi gerak sosialnya.

4) Diskriminasi  kelas  dalam  sistem  kelas  terbuka  dapat  juga  menjadi perintang   mobilitas   ke   atas   seperti   terbukti   melalui   pembatasan keanggotaan dari organisasi tertentu dalam masyarakat.

5) Proses sosialisasi dalam subkultur. Kadang-kadang kelas-kelas sosial menjadi subkultur di mana seseorang berkembang sejak kecil dan mengalami proses sosialisasi, sehingga dapat menjadi pembatas mobilitas ke atas. Anak-anak dari kelas menengah misalnya diajar dan dilatih untuk menyesuaikan diri dengan kelasnya dalam peranan, harapan, nilai, dan norma yang ada.

e.   Konsekuensi Mobilitas Sosial

Sadiyo (1996: 28-29) menyebutkan bahwa adanya mobilitas dalam masyarakat akan menimbulkan beraneka ragam akibat atau konsekuensi (dampak) baik yang negatif maupun positif, seperti kemungkinan timbulnya konflik antar kelas, antar kelompok sosial, dan antar generasi serta kemungkinan terjadinya penyesuaian kembali setelah terjadinya konflik.

Konsekuensi lain yang ditimbulkan dari mobilitas sosial, baik yang secara vertikal maupun horizontal dapat memberikan akibat yang positif, baik bagi orang yang mengalami mobilitas itu sendiri maupun bagi masyarakat. Beberapa akibat yang menimbulkan dampak positif dari mobilitas sosial antara lain:

1) Orang-orang  akan  berusaha  untuk  berprestasi  atau  berusaha  untuk maju. Karena adanya kesempatan atau keterbukaan untuk pindah dari lapisan bawah ke lapisan atas, mendorong orang untuk bekerja keras mencapai lapisan atau kedudukan yang lebih tinggi.

2) Mobilitas  sosial  akan  lebih  mempercepat  tingkat  perubahan  sosial masyarakat ke arah yang lebih baik. Mobilitas sosial mendorong masyarakat mengalami perubahan sosial ke arah yang diinginkan. Perubahan dari masyarakat agraris ke masyarakat industri akan lebih cepat   terjadi   bila   didukung   oleh   mobilitas   sosial   vertikal   dalam pendidikan masyarakat.

Masyarakat yang dinamis menciptakan harapan-harapan yang tidak selalu dapat dipenuhi, sehingga dapat menimbulkan ketidakpuasan  dan  ketida kbahagiaan. Menurut Horton dan Hunt (1999: 39), ada beberapa konsekuensi negatif dari adanya mobilitas sosial vertikal yaitu:

1) Kecemasan akan terjadi penurunan status bila terjadi mobilitas menurun

2) Ketegangan (stress) dalam mempelajari peran baru dari status jabatan yang meningkat.

3) Keretakan hubungan antar anggota kelompok primer, karena seseorang berpindah status yang lebih tinggi atau ke status yang lebih rendah.

4) Meningkatnya mobilitas geografis, yang bisa saja membawa kerugian.

Beberapa studi lain (Horton dan Hunt, 1999: 41; Henslin, 2006: 219-221) mengemukakan bahwa mobilitas menurun berkaitan dengan banyak hal yang berkaitan dengan dampak negatif terhadap mental-emosional seseorang, seperti gangguan kesehatan, frustasi, perasaan terasing, keterpencilan  sosial, hingga berdampak pada keretakan keluarga. Masalah mental akan berdampak lebih besar bila merupakan bagian stres yang terkait dengan kemiskinan. 



source: modul belajar mandiri pppk ips sosiologi, Pembelajaran 3. Struktur Sosial, kemdikbud

Baca Juga

Bagikan Artikel



Komentar